Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

KTH Meniti Fajar Jadi Sentra Produksi Kakao di Kobar, Tahun 2026 Panen Perdana

Koko Sulistyo • Jumat, 31 Oktober 2025 | 21:54 WIB
TANAMAN KAKAO : Perwakilan BBCP BGA dan Ketua KTH Meniti Fajar melakukan pemangkasan dahan (Pruning) tanaman Kakao di KM 24 Jalan Pangkalan Bun - Kotawaringin Lama, belum lama tadi. TYO/RADAR SAMPIT
TANAMAN KAKAO : Perwakilan BBCP BGA dan Ketua KTH Meniti Fajar melakukan pemangkasan dahan (Pruning) tanaman Kakao di KM 24 Jalan Pangkalan Bun - Kotawaringin Lama, belum lama tadi. TYO/RADAR SAMPIT

PANGKALAN BUN, Radarsampit.jawapos.com - Kelompok Tani Hutan (KTH) Meniti Fajar, Kelurahan Raja Seberang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) digadang-gadang menjadi sentra produksi Kakao (Coklat) di Kobar.

Sejak tanam perdana pada 2024 silam, tanaman kakao di atas lahan seluas 40 hektare tumbuh subur dan menghijau. Memasuki usia tanam satu tahun tanaman kakao sudah menunjukan perkembangan yang menggembirakan.

Tanaman kakao yang membutuhkan naungan dengan pencahayaan 60 sampai 80 persen dari cahaya langsung untuk proses fotosintesis yang optimal ditanam di sela-sela pohon-pohon besar yang dibersihkan menyerupai lorong-lorong.

Tim dari Bumitama Biodiversity & Community Projeck (BBCP) Ketapang Kalimantan Barat yang melakukan kunjungan, menyampaikan kekagumannya atas perkembangan tanaman kakao yang dipusatkan di Kilometer 24 Jalan Ahmad Shaleh, lintas Pangkalan Bun menuju Kotawaringin Lama.

Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Meniti Fajar, Sarwani menyampaikan saat ini tanaman kakao yang ada di area Wanawiyata mencapai 5000 pohon dengan usia tanam 1 tahun.

"Dengan perkembangan tanaman yang bagus seperti ini, diperkirakan tahun depan kita sudah panen perdana," ujarnya.

Ia menjelaskan, pada panen perdana nantinya produksi kalau dari KTH Meniti Fajar dengan perhitungan terendah mampu menghasilkan buah kakao sebanyak 2,5 ton.

Dengan harga saat ini mencapai Rp50 ribu untuk non fermentasi dan Rp100 ribu yang sudah difermentasi, tanaman kakao sangat menjanjikan untuk menjadi tanaman unggulan di Kobar.

Menurutnya, untuk proses fermentasi sangat sederhana dengan cara membiarkan biji kakao berfermentasi di dalam kota selama 4-7 hari dengan bantuan mikroorganisme alamai. Proses fermentasi melibatkan pengadukan dan pembalikan biji secara berkala (per 2 hari) untuk memastikan fermentasi merata dan suhu terkontrol.

"Dengan pengeringan hingga kadar air mencapai 75 persen, dan saat ini harga kakao sedang bagus, kita juga mempunyai pembeli untuk kakao yang dihasilkan," bebernya.

Menurutnya, selain kakao di KTH Meniti Fajar saat ini juga mengembangkan 2 jenis kopi yaitu jenis Kopi Liberika dan Arabika dengan jumlah sekitar 5000 an yang ditanam di antara sela-sela tanaman kakao.

"Kita berharap dari Meniti Fajar tanaman Kakao menjadi primadona baru petani di Kotawaringin Barat, Alhamdulillah kita satu-satunya KTH di Kobar yang menanam Kakao," pungkasnya. (tyo/fm)

Editor : Farid Mahliyannor
#KTH #Kotawaringin Barat (Kobar) #kakao #arut selatan