PALANGKA RAYA, Radarsampit.jawapos.com – Anggota Komisi II DPRD Kalimantan Tengah, Bambang Irawan, menanggapi isu mengenai angka kemiskinan yang dinilai masih meningkat di Kalteng.
Menurutnya, pembahasan soal kemiskinan tidak bisa hanya berdasarkan asumsi, melainkan harus berlandaskan pada data yang valid.
“Kalau bicara soal kemiskinan, mengurangi ataupun menilai masyarakat jenis kemiskinan, kita perlu data. Jangan hanya menyebut Kalteng ini miskin, tapi variabelnya apa dulu? Itu yang harus kita cermati bersama,” katanya. Rabu(17/9/2025) tadi.
Ia menjelaskan, kemiskinan bisa disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari rendahnya pendidikan, pernikahan dini, hingga persoalan sosial lainnya. Karena itu, menurutnya tidak bisa serta-merta hanya melihat satu sisi saja untuk menilai kondisi masyarakat.
“Banyak hal yang memengaruhi, dari segi pernikahan usia muda, pendidikan yang rendah, hingga faktor sosial lainnya. Jadi tidak bisa dipukul rata. Yang jelas, kemiskinan harus kita atasi bersama, itu menjadi komitmen yang harus dilakukan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Bambang menyebut bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) memang memiliki data resmi mengenai angka kemiskinan, namun ia menegaskan perlunya analisis lebih besar agar penyebab dan solusinya lebih tepat sasaran.
“Di BPS memang ada data, tapi kan kita harus melihat lebih dalam. Apa saja yang menjadi dasar sehingga angka kemiskinan itu meningkat? Jangan sampai kita hanya menyebut tanpa melihat faktor yang memengaruhi,” katanya.
Meski begitu, ia juga mengapresiasi upaya pemerintah daerah yang sudah menjalankan sejumlah program untuk membantu masyarakat kurang mampu.
“Pemerintah sudah berjalan dengan beberapa program, seperti pasar murah dan bantuan lainnya. Itu langkah yang baik untuk mengurangi beban masyarakat,” ungkap Bambang.
Ia menegaskan, yang terpenting saat ini adalah memastikan program penanggulangan kemiskinan benar-benar menyentuh masyarakat yang membutuhkan.
“Juga perhatikan faktor-faktor penyebab utama agar angka kemiskinan dapat ditekan,” tukasnya. (ktr-1/fm)
Editor : Farid Mahliyannor