NANGA BULIK, radarsampit.jawapos.com – Ratusan ayah mengantar anak mereka ke sekolah pada hari pertama masuk Tahun Ajaran 2026/2027 di berbagai sekolah di Kabupaten Lamandau, Senin (13/7). Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut Surat Edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lamandau Nomor 421.2/031/P.SMP/VI/2026 tentang Gerakan Ayah Mengantar Anaknya ke Sekolah pada Hari Pertama Masuk Sekolah Tahun Ajaran 2026/2027.
Melalui surat edaran tersebut, sekolah diminta mengimbau para orang tua agar anak diantar langsung oleh ayah sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter berbasis keluarga. Gerakan ini juga mendapat dukungan Bupati Lamandau, Rizky Aditya Putra, yang mengajak aparatur sipil negara (ASN) untuk mengantar anak ke sekolah sebelum berangkat bekerja.
"Meskipun sibuk bekerja, ayah harus membangun hubungan yang baik dengan anak dan memberikan motivasi secara langsung. Gerakan ayah mengantar anak ke sekolah ini sangat bagus untuk membangun kedekatan dengan anak," ujarnya.
Suasana hari pertama sekolah tampak berbeda. Jika biasanya halaman sekolah didominasi para ibu, kali ini ratusan ayah terlihat menggandeng tangan anak menuju ruang kelas. Sejumlah ayah juga mengabadikan momen bersama anak sebelum bel masuk berbunyi. Beberapa anak tampak antusias karena untuk pertama kalinya diantar langsung oleh ayah mereka.
Bony, salah seorang ayah yang ditemui di salah satu sekolah di Nanga Bulik, mengatakan dirinya memang telah terbiasa mengantar anak ke sekolah.
"Saya memang sudah terbiasa mengantar anak sekolah. Jadi, ada atau tidak ada surat edaran, saya tetap mengantar kalau memang sempat," katanya.
Menurut Bony, perjalanan menuju sekolah menjadi waktu yang berharga untuk berbincang dengan anak sebelum memulai aktivitas belajar.
Hal serupa disampaikan Fery, seorang ASN. Ia mengaku biasanya anak diantar oleh istrinya karena menyesuaikan jadwal kerja. Namun, kali ini ia meluangkan waktu untuk mengantar sendiri.
"Biasanya ibunya yang mengantar. Tapi karena ada imbauan ini, saya sengaja meluangkan waktu. Ternyata seru juga. Sepanjang perjalanan kami bisa banyak bercerita tentang pengalaman waktu saya sekolah dulu," ujarnya.
Fery berharap momen sederhana tersebut tidak hanya dilakukan pada hari pertama sekolah, tetapi dapat menjadi kebiasaan di tengah kesibukan para orang tua.
Di sisi lain, sejumlah orang tua tunggal mengaku khawatir imbauan tersebut dapat menimbulkan rasa sedih atau iri bagi anak yang tidak lagi memiliki sosok ayah karena perceraian maupun meninggal dunia.
Menanggapi hal itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lamandau, Loren Oktobereri Tahan, menjelaskan bahwa surat edaran tersebut merupakan ajakan untuk meningkatkan keterlibatan ayah dalam pendidikan anak, bukan kewajiban yang harus dipenuhi.
Ia menegaskan, apabila ayah berhalangan karena pekerjaan atau berada di luar daerah, anak tetap dapat diantar oleh ibu maupun wali. Menurutnya, semangat utama gerakan tersebut adalah memperkuat peran keluarga dalam mendampingi anak memasuki tahun ajaran baru.
Loren juga menegaskan bahwa pihaknya memahami kondisi setiap keluarga yang berbeda, termasuk anak yang diasuh oleh ibu tunggal, wali, maupun anggota keluarga lainnya.
"Yang terpenting adalah anak mendapatkan dukungan dan pendampingan dari orang yang menyayangi mereka. Nilai yang ingin dibangun melalui gerakan ini adalah kebersamaan keluarga dalam mendukung pendidikan anak, bukan membandingkan kondisi setiap keluarga," jelasnya.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lamandau berharap gerakan tersebut menjadikan hari pertama sekolah tidak hanya sebagai awal proses belajar, tetapi juga momentum mempererat hubungan antara orang tua dan anak melalui kebersamaan sebelum memulai aktivitas di sekolah. (mex/yit)
Editor : Heru Prayitno