SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kualitas udara di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali memburuk di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) tercatat mencapai 763 pada Jumat (18/9/2026) pukul 10.00 WIB.
Data tersebut tercantum dalam pemantauan aplikasi ISPUnet Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Angka ISPU 763 masuk kategori Berbahaya.
Parameter yang mencatat angka tinggi adalah partikel debu berukuran hingga 10 mikrometer (PM10), dengan nilai 763. Sementara itu, konsentrasi partikel halus PM2.5 tercatat 478.
Kondisi tersebut terjadi saat kabut asap masih menyelimuti wilayah Sampit. Berdasarkan pemantauan BMKG Kotim pada Jumat pagi, jarak pandang di Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit hanya mencapai 100 meter pada pukul 08.00, 09.00, hingga 10.00 WIB.
Cuaca pada tiga waktu pengamatan tersebut tercatat sebagai kabut asap. Suhu meningkat dari 25,2 derajat Celsius pada pukul 08.00 WIB menjadi 29,3 derajat Celsius pada pukul 10.00 WIB.
Kondisi udara tersebut terjadi ketika titik panas masih terdeteksi di sejumlah wilayah Kotim. Data rekapitulasi satelit BMKG yang diakses Jumat pagi mencatat 479 titik panas dalam 24 jam terakhir.
Kecamatan Pulau Hanaut menjadi wilayah dengan titik panas terbanyak, yakni 195 titik. Berikutnya Mentaya Hilir Utara dengan 97 titik, Teluk Sampit 56 titik, Mentaya Hilir Selatan 56 titik, dan Mentawa Baru Ketapang 50 titik.
Kabut asap yang semakin tebal turut dirasakan warga. Usna, warga Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, mengatakan kondisi kabut asap semakin pekat dibandingkan pagi hari.
"Tadi pagi tidak setebal ini," ungkapnya.
Keluhan serupa disampaikan Nanang, warga Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Ia mengatakan asap yang semakin tebal mulai dirasakan secara langsung saat beraktivitas.
"Asap makin tebal, mata perih, otomatis langsung batuk kalau enggak pakai masker," kata Nanang.
Dengan kualitas udara yang masuk kategori Berbahaya dan jarak pandang yang terbatas, masyarakat perlu mewaspadai kondisi udara saat melakukan aktivitas di luar ruangan. (oes)
Editor : Slamet Harmoko