Minggu Kedua September, Kotim Memasuki Puncak Musim Kemarau

Yuni Pratiwi Iskandar • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 21:57 WIB
Perairan ke arah selatan Kotim, yang tengah terdampak musim kemarau dengan masuknya air laut ke Sungai Mentaya. (dok/radarsampit)
Perairan ke arah selatan Kotim, yang tengah terdampak musim kemarau dengan masuknya air laut ke Sungai Mentaya. (dok/radarsampit)

SAMPIT,radarsampit.jawapos.com- Wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih berada pada puncak musim kemarau. Kondisi kering diprakirakan bertahan hingga akhir September, sehingga potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih perlu diwaspadai.

Kepala Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kotim Mulyono Leo Nardo mengatakan, September merupakan puncak musim kemarau di wilayah Kotim. Berdasarkan prakiraan BMKG, kondisi kering masih akan berlangsung hingga penghujung bulan ini.

“Bulan September ini adalah puncak musim kemarau di Kotawaringin Timur. Prakiraan ke depan sampai akhir bulan ini kondisinya masih kering,” ujarnya.

Sementara itu, awal musim hujan di Kotim diperkirakan datang secara bertahap. Wilayah Kotim bagian utara diprakirakan mulai memasuki musim hujan pada dasarian II Oktober, sedangkan wilayah bagian tengah pada dasarian III Oktober.

Di wilayah Sampit, Baamang, Seruyan dan sekitarnya, awal musim hujan diprakirakan baru terjadi pada dasarian I November. Sementara wilayah Teluk Sampit dan sekitarnya menjadi daerah yang diprakirakan paling akhir memasuki musim hujan, yakni pada dasarian III November.

Mulyono menjelaskan, masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan diprakirakan mulai terjadi pada awal Oktober. Dengan demikian, hujan yang diperkirakan mulai turun pada pertengahan Oktober di wilayah utara sudah masuk kaetgori awal musim hujan.

Baca Juga: Hujan Berpotensi Guyur Wilayah Utara Kotim, BMKG Ingatkan Petir dan Angin Kencang

Dalam beberapa hari terakhir, hujan rintik memang sempat terjadi di sejumlah wilayah Kotim. Di antaraya Baamang, kawasan Tidar hingga sekitar Bandara H Asan Sampit. Namun, hujan tersebut berlangsung singkat dan belum memberjkan pembasahan yang berarti terhadap lahan.

Menurut Mulyono, hujan yang terjadi di sejumlah titik tersebut juga berkaitan dengan pelaksanan modifikasi cuaca. Penyemaian dilakukan di wilayah Katingan dan Seruyan oleh BMKG bersama sejumlah pemangku kepentingan.

“Jadi efeknya kita dapat, kita kebagian hujan walaupun rintik-rintik. Itu adalah dari hasil modifikasi cuaca,” sebutnya.

Kendati demikian, hujan rintik dengan durasi singkat belum cukup untuk menurunkan potensi karhutla secara signifikan. Terlebih, sejumlah lokasi yang terbakar masih menghasilkan asap sehingga membutuhkan pembasahan lahan secra menyeluruh.

Mulyono menyebut hujan yang efektif membantu menekan karhutla adalah hujan dengan intensitas tinggi dan cakupan wilayah yang cukup luas. Hujan lebat selama satu hingga tiga jam dinilai lebih mampu membasahi lahan secara menyeluruh dibandingkan hujan ringan yang haya terjadi di titik-titik tertentu.

“Kalau hujannya di spot-spot, mungkin ada spot yang tidak kena, tetap saja kita dapat asap,” tambahnya.

Karena itu, ancaman karhutla di Kotim dan Kalimantan Tengah secara umum masih tergolong tinggi. Kondisi tersebut terlihat dari tingkat kekeringan pada berbagai lapisan tanah, termasuk lapisan permukaan hingga kedalaman di bawah 10 sentimeter.

“Untuk kondisi sekarang ancaman karhutla di Kalteng itu masih tinggi. Dari lapisan paling atas, menengah, sampai lapisan di bawah 10 sentimeter, potensinya sangat tinggi terjadi kebakaran lahan,” pungkas Mulyono. (yn/gus) 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
musim kemarau oktober BMKG kebakaran hutan dan lahan september