SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), telah mencapai belasan hektare dalam beberapa hari terakhir.
Desa Eka Bahurui menjadi wilayah terdampak paling luas, disusul sejumlah titik kebakaran lainnya yang masih memerlukan penanganan intensif.
Camat Mentawa Baru Ketapang, Irpansyah, mengatakan berdasarkan pemantauan di lapangan, kebakaran di Desa Eka Bahurui diperkirakan telah menghanguskan sekitar 10 hektare lahan. Lokasi tersebut juga menjadi titik api yang paling sulit dikendalikan.
"Di Desa Eka Bahurui luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 10 hektare. Upaya pemadaman sudah dilakukan, termasuk melalui water bombing menggunakan helikopter, tetapi api kembali muncul," katanya, Rabu (15/7).
Selain di Desa Eka Bahurui, kebakaran juga terjadi di kawasan Jalan Amin Klaru dengan luasan sekitar lima hektare. Sementara itu, di kawasan Jalan Lembur Kuring, kebakaran melanda lahan seluas kurang lebih satu hektare.
Dengan demikian, total luas lahan yang terbakar di beberapa titik di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang diperkirakan telah mencapai sekitar 16 hektare.
Irpansyah menjelaskan, salah satu kendala terbesar dalam proses pemadaman adalah minimnya sumber air di sekitar lokasi kebakaran. Titik api di Desa Eka Bahurui berada sekitar dua kilometer dari akses jalan sehingga menyulitkan mobilisasi personel maupun peralatan pemadam.
"Kendala utama kami adalah tidak adanya sumber air di lokasi. Peralatan sebenarnya cukup memadai, tetapi tanpa sumber air proses pemadaman menjadi jauh lebih sulit," ujarnya.
Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, pemerintah kecamatan terus menggerakkan Masyarakat Peduli Api (MPA) di seluruh desa agar melakukan patroli rutin dan segera melaporkan apabila menemukan titik api.
Ia menambahkan, selain Desa Eka Bahurui, kawasan Lingkar Selatan di Kelurahan Ketapang juga menjadi wilayah yang mendapat perhatian khusus karena memiliki tingkat kerawanan karhutla yang cukup tinggi selama musim kemarau.
Sementara itu, meski musim kemarau diperkirakan masih berlangsung, hingga kini belum ada laporan masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Pemerintah kecamatan tetap melakukan pemantauan agar dampak kemarau terhadap kebutuhan dasar masyarakat dapat diantisipasi sedini mungkin. (Ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko