SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) belum menunjukkan tanda mereda.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mendeteksi enam titik panas (hotspot) dalam 24 jam terakhir, sementara prakiraan cuaca menunjukkan belum ada potensi pertumbuhan awan hujan hingga Rabu (15/7/2026) pagi.
Berdasarkan data Stasiun Meteorologi H Asan Sampit yang diakses pada Selasa (14/7/2026) pukul 07.00 WIB, hotspot tersebar di empat kecamatan, yakni Mentawa Baru Ketapang, Antang Kalang, Kota Besi, dan Teluk Sampit.
Kepala Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, mengatakan kemunculan titik panas tersebut perlu menjadi perhatian serius karena terjadi saat kondisi cuaca masih sangat mendukung terjadinya kebakaran lahan.
"Hotspot yang terpantau merupakan indikator awal yang harus segera ditindaklanjuti melalui pengecekan lapangan. Dengan kondisi cuaca saat ini, potensi kebakaran masih tinggi sehingga kewaspadaan harus terus ditingkatkan," ujarnya.
Dari enam hotspot yang terdeteksi, tiga berada di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, tepatnya di Desa Eka Bahurui. Dua titik muncul pada Senin (13/7) siang dan satu titik kembali terpantau pada Selasa (14/7) dini hari.
Sementara itu, satu hotspot masing-masing terpantau di Desa Kuluk Telawang, Kecamatan Antang Kalang, Desa Soren, Kecamatan Kota Besi, dan Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit.
Seluruh hotspot memiliki tingkat kepercayaan level 8 dan dipantau oleh satelit NOAA20 serta AQUA, sehingga tetap memerlukan pemantauan intensif di lapangan.
Tidak hanya itu, analisis parameter cuaca BMKG menunjukkan hampir seluruh wilayah Kalimantan Tengah, termasuk Kotim, masih berada pada kategori sangat mudah terbakar untuk periode 14 hingga 15 Juli 2026.
Kondisi tersebut diperparah oleh prakiraan cuaca numerik yang menyebutkan tidak ada potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Kotim mulai Selasa (14/7) pukul 07.00 WIB hingga Rabu (15/7) pukul 07.00 WIB. Artinya, peluang turunnya hujan yang dapat membantu membasahi lahan masih sangat kecil.
Mulyono Leo Nardo mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, seperti membuka lahan dengan cara membakar atau membuang puntung rokok sembarangan di area kering.
"Kondisi cuaca yang kering membuat api sangat mudah berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas. Karena itu diperlukan peran seluruh masyarakat untuk mencegah munculnya titik api sejak dini," tegasnya.
BMKG juga meminta pemerintah daerah, BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, perusahaan, serta masyarakat terus meningkatkan patroli di wilayah yang berulang kali terdeteksi hotspot, sehingga potensi karhutla dapat dicegah sebelum berkembang menjadi kebakaran besar. (oes)
Editor : Slamet Harmoko