SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Sinyal awal meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai terdeteksi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi H. Asan Kotim mencatat kemunculan satu titik panas (hotspot) dalam pemantauan 24 jam terakhir.
Hotspot tersebut terdeteksi pada Selasa (6/5) pukul 08.26 WIB di wilayah Kecamatan Mentaya Hilir Utara, tepatnya Kelurahan Bagendang Tengah. Titik panas terekam satelit TERRA dengan tingkat kepercayaan menengah atau level 8.
Dalam laporan rekapitulasi hotspot yang diakses Kamis pagi (7/5), BMKG menyebut titik panas berada pada koordinat bujur 112.7941 dan lintang -2.6754 dengan radius kemungkinan mencapai 321 meter.
Meski baru satu titik, kemunculan hotspot itu dinilai menjadi alarm dini meningkatnya kerawanan karhutla di Kotim, terutama wilayah selatan yang mulai menunjukkan kondisi lebih mudah terbakar dibanding daerah lain.
BMKG juga merilis analisis parameter cuaca terkait potensi kemudahan terjadinya kebakaran di Kalimantan Tengah. Hasilnya, sebagian wilayah selatan Kotim mulai masuk kategori “mudah terbakar” yang ditandai warna kuning dalam peta analisis kebakaran untuk 7 Mei 2026.
Zona rawan tersebut tampak membentang di kawasan selatan yang berbatasan dengan pesisir dan area bergambut. Kondisi itu dipengaruhi kombinasi cuaca relatif panas, kelembapan yang mulai menurun, dan potensi pengeringan vegetasi permukaan.
Namun di sisi lain, BMKG juga memprakirakan adanya potensi pertumbuhan awan hujan dengan kategori tinggi di Kotim untuk periode 7 Mei pukul 07.00 WIB hingga 8 Mei pukul 07.00 WIB.
Artinya, peluang hujan masih cukup besar dan dapat membantu menekan risiko meluasnya kebakaran. Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa kondisi cuaca yang berubah cepat tetap bisa memicu munculnya titik panas baru, khususnya di lahan terbuka dan kawasan gambut kering.
Situasi ini membuat kewaspadaan dini dinilai penting, terutama di wilayah selatan Kotim yang setiap musim kemarau kerap menjadi daerah rawan karhutla.
Masyarakat juga diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melapor apabila menemukan indikasi kebakaran di lingkungan sekitar. (oes)
Editor : Slamet Harmoko