Radar Utama Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno Kalteng

Harga Plastik Naik, Ujian Berat bagi UMKM Kuliner di Kotim

Rado. • Senin, 13 April 2026 | 21:27 WIB
Ilustrasi pengusaha UMKM, yang gelisah dengan kenaikan harga kemasan plastik. (diolah dengan AI)
Ilustrasi pengusaha UMKM, yang gelisah dengan kenaikan harga kemasan plastik. (diolah dengan AI)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com- Dampak kenaikan harga plastik sejak awal April 2026 mulai dirasakan dan menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Biaya kemasan melonjak tajam, sementara harga jual produk terpaksa ditahan agar para pelanggan tidak lari.

Diungkapkan Ketua UMKM Harati Kotim,Rahmatnoor, kondisi ini dirasakan hampir merata, terutama oleh pelaku usaha kuliner yang sangat bergantung pada plastik.

“Kenaikannya terasa sekali. Plastik kantong, cup minuman, sampai wadah makanan ikut naik. Sementara kami tidak bisa langsung menaikkan harga jual,” ujarnya, Senin (13/4).

Kenaikan harga plastik terjadi cukup signifikan sejak awal April, dengan kisaran 40 hingga 100 persen, bahkan pada beberapa jenis mencapai dua kali lipat.

Dipaparkannya, beberapa jenis plastik mengalami kenaikan mencolok. Plastik daur ulang ukuran 35 sampai 40 cm yang dijual kiloan naik dari sekitar Rp20.000 menjadi Rp50.000 per pack.

Plastik gula merk Matahari Merah 1 kilogram naik dari Rp38.000 menjadi Rp58.500. Sementara plastik kecil ukuran 15 cm naik dari Rp22.000 per ikat isi 10 pack menjadi Rp26.000.

Kenaikan juga terjadi pada kemasan makanan jenis thinwall. Ukuran 500 ml naik dari Rp27.500 menjadi Rp32.000, sedangkan ukuran 2.000 ml dari Rp74.000 menjadi Rp90.000.

Baca Juga: Imbas Ambisi Donald Trump di Pasar Lokal. Harga Plastik Melonjak, Harga Beras Terkerek Harga Kemasan.

Menurut Rahmatnoor, kondisi ini langsung berdampak pada biaya produksi UMKM. Namun sebagian besar pelaku usaha memilih bertahan dengan harga lama.

“Kalau dinaikkan, takutnya pembeli pindah. Jadi mau tidak mau keuntungan yang dikurangi,” ujarnya.

Diungkapkannya, menyiasati kondisi tersebut, pelaku usaha mulai melakukan berbagai penyesuaian.

Ada yang mengurangi penggunaan plastik, mengganti jenis kemasan dengan yang lebih murah, hingga menekan biaya produksi lainnya.

Meski begitu, langkah itu tidak selalu ideal karena berisiko memengaruhi kualitas produk dan kepuasan pelanggan.

Rahmatnoor menilai pelaku usaha kecil menjadi kelompok yang paling rentan. Dengan modal terbatas, mereka tidak memiliki banyak ruang untuk menahan kenaikan biaya dalam waktu lama.

“Kalau kondisi ini terus berlangsung, yang kecil kecil ini bisa paling terdampak. Bahkan tidak menutup kemungkinan ada yang berhenti usaha,” katanya.

Rahmatnoor berharap, pemerintah dapat memberi perhatian lebih terhadap kondisi ini. Baik melalui upaya stabilisasi harga maupun membuka akses bahan kemasan yang lebih terjangkau.

“Kalau mau diarahkan ke kemasan alternatif, UMKM harus dibantu. Jangan sampai malah menambah beban,” tukasnya.

Menurut Rahmat, situasi ini juga menjadi ujian bagi ketahanan UMKM di daerah.

Di tengah kenaikan biaya, pelaku usaha tetap dituntut menjaga kualitas dan harga agar tetap bersaing.

“UMKM ini bertahan karena bisa menyesuaikan. Tapi kalau tekanan terus datang, tentu ada batasnya juga,” paparnya.

Sebelumnya,  hasil pemantauan Pemerintah Kabupaten Kotim di Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) dan Pasar Keramat Sampit, Jumat (10/4), harga plastik menjadi komoditas kenaikan paling tinggi dibandingkan barang lainnya.

Staf Ahli Bupati Kotim Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Rafiq Riswandi, membenarkan adanya lonjakan harga tersebut.

Menurutnya kenaikan terjadi dari asal pasokan dan distribusi, yang mengandalkan kiriman dari luar daerah.

“Kenaikan terjadi dari harga agen di sana, ditambah biaya ekspedisi yang juga meningkat,” ujarnya.

Menurut Rafiq, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah membuat pemerintah daerah cukup kesulitan mengendalikan harga plastik di pasaran.

Ia menegaskan, kenaikan harga plastik tidak memberikan dampak besar terhadap inflasi daerah, karena tidak termasuk kebutuhan pokok yang dikonsumsi langsung oleh masyarakat.

“Kalau plastik, dampaknya terhadap inflasi tidak sebesar sembako. Plastik ini bukan barang konsumsi langsung dan bisa digunakan berulang kali,” imbuhnya.

Dirinya juga menepis anggapan bahwa kenaikan harga plastik menjadi penyebab utama naiknya harga bahan pokok.

“Tidak langsung berpengaruh. Plastik hanya barang pendukung, berbeda dengan sembako yang langsung dikonsumsi masyarakat,” pungkasnya. (ang/ktr-2/gus)

 

 

 

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#harga plastik naik #UMKM #sampit #kotim #kenaikan harga