PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Harga sejumlah material bangunan di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) dan sekitarnya perlahan mulai mengalami kenaikan.
Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kotawaringin Barat, Gusti M Hadiansyah, yang meminta pemerintah daerah bersama pihak terkait segera melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap perkembangan harga di pasaran.
Gusti M Hadiansyah mengatakan, kenaikan tidak hanya terjadi pada material bangunan, tetapi juga mulai terlihat pada sejumlah komoditas untuk kebutuhan pertanian dan peternakan.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian sejak dini agar tidak berkembang menjadi lonjakan harga yang berpotensi semakin membebani masyarakat.
“Mulai ada kenaikan harga-harga material bangunan, bahan pertanian dan peternakan. Kondisi ini perlu adanya evaluasi sebagai deteksi dini agar melakukan kontrol harga supaya diketahui akar persoalan dan mencegah adanya permainan pihak-pihak tertentu,” ungkap Gusti Dian, Jumat (4/9/2026).
Ia menyebutkan, sejumlah material yang mulai mengalami kenaikan antara lain semen, besi cor, aspal, batu koral hingga kayu. Saat ini, harga batu koral disebut sudah berada di kisaran Rp600 ribu, sedangkan sebelumnya masih berada di bawah harga tersebut. Sementara harga semen kini berkisar Rp75 ribu hingga Rp80 ribu per sak.
Menurutnya, pemerintah perlu memastikan ekosistem distribusi barang dan pembentukan harga di pasaran berjalan secara normal.
Jika kebutuhan material meningkat secara drastis sementara distribusi dan pasokan tidak terkendali, kondisi tersebut dikhawatirkan menimbulkan gejolak harga yang dapat berdampak terhadap pembangunan infrastruktur maupun kebutuhan masyarakat secara umum.
Kadin Kobar berharap pemerintah daerah dapat segera melakukan langkah antisipasi agar kenaikan harga tidak terus berlanjut. Terlebih, Pemkab Kobar saat ini juga tengah menghadapi persoalan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang berdampak terhadap munculnya kabut asap.
“Jangan sampai persoalan Karhutla yang berdampak menjadi kabut asap, kemudian muncul persoalan baru dengan naiknya harga-harga barang,” pungkasnya. (sam)
Editor : Slamet Harmoko