PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com — Musim kemarau berkepanjangan mulai berdampak pada sektor pertanian di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Petani hortikultura dan tanaman pangan kesulitan mendapatkan pasokan air. Sejumlah petani jagung bahkan dilaporkan mengalami gagal panen dengan potensi kerugian mencapai ratusan juta rupiah.
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kobar sekaligus KTNA Provinsi Kalimantan Tengah, Syahrian, mengatakan dampak kekeringan mulai dirasakan petani di sejumlah wilayah. Tanaman jagung menjadi salah satu komoditas yang paling terdampak karena membutuhkan ketersediaan air selama proses pertumbuhan.
“Petani hortikultura dan tanaman pangan sudah banyak yang mengeluh akibat kekeringan. Yang sudah banyak mengalami kerugian adalah petani jagung karena banyak yang gagal panen,” ujar Syahrian, Kamis (15/8/2026).
Menurut Syahrian, kekurangan air dalam waktu cukup panjang dapat menghambat pertumbuhan tanaman jagung dan menurunkan produksi. Dalam kondisi tertentu, tanaman yang telah dibudidayakan bahkan tidak dapat dipanen sehingga modal yang dikeluarkan petani terancam hilang.
Berdasarkan temuan sementara, sekitar 10 hektare lahan jagung di dua lokasi terdampak kekeringan. Namun, angka tersebut belum menggambarkan keseluruhan lahan yang terdampak di Kobar. Jika dihitung secara lebih luas, nilai kerugian petani diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Besarnya kerugian dipengaruhi biaya produksi yang dikeluarkan sejak pengolahan lahan, pembelian benih, penanaman, hingga perawatan. Syahrian memperkirakan modal budidaya jagung rata-rata mencapai sekitar Rp10 juta per hektare. Dengan demikian, saat gagal panen, petani kehilangan hasil sekaligus berpotensi kehilangan modal usaha.
Kemarau panjang juga berpotensi memicu persoalan lain, seperti meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta berkurangnya ketersediaan air bagi masyarakat. Petani diingatkan menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca dan mempertimbangkan ketersediaan sumber air sebelum melakukan budidaya.
Syahrian mengajak seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi kemarau ekstrem yang disebut sebagai “El Nino Godzilla”. Kondisi tersebut, menurut dia, perlu diantisipasi melalui pengelolaan air secara bijak, menjaga sumber air, mencegah pembukaan lahan dengan cara membakar, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.
Kemarau panjang juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan dehidrasi. Masyarakat diminta menjaga kondisi tubuh dan meningkatkan kewaspadaan selama suhu udara meningkat.
Syahrian menegaskan tantangan iklim tidak dapat dihadapi petani seorang diri. Keterlibatan pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan diperlukan untuk menjaga keberlangsungan produksi pangan.
“Mari bersama kita membangun ketahanan pangan Kalteng di tengah tantangan iklim,” pungkasnya. (sam/yit)
Editor : Heru Prayitno