PALANGKA RAYA,radarsampit.jawapos.com-Hitung mundur pemilihan tahap pertama Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) mulai terasa. Para kandidat kini memasuki fase krusial untuk meyakinkan anggota senat sebagai pemilik hak suara melalui adu gagasan, rekam jejak, dan visi membangun kampus terbesar di Kalimantan Tengah itu.
Salah satu kandidat, Prof. Bhayu Rhama, S.T., M.B.A., Ph.D., menyatakan optimistis mampu meraih dukungan karena menawarkan program yang berorientasi pada kemajuan institusi. Menurutnya, keputusannya maju bukan didorong ambisi pribadi, melainkan pengalaman panjang memimpin dan mengabdi di lingkungan UPR.
"Dorongan menjadi Rektor UPR lahir dari pengalaman, bukan semata-mata ambisi. Amanah sebagai Dekan FISIP membuktikan bahwa kepemimpinan yang kolaboratif, terukur, dan berorientasi pada hasil mampu menghadirkan berbagai prestasi institusi," ujarnya,Senin (6/7).
Baca Juga: Akreditasi UPR Kedaluwarsa, Perkuliahan Tetap Aman
Di sisi lain, kandidat Dr. Natalina Asi, M.A., juga menyatakan siap bertarung secara sehat dalam kontestasi pemilihan rektor. Wakil Rektor I UPR itu mengusung visi menjadikan UPR sebagai episentrum inovasi global yang berintegritas dengan berlandaskan falsafah Huma Betang menuju Indonesia Emas 2045.
Visi tersebut difokuskan pada penguatan kualitas pembelajaran, peningkatan sumber daya manusia, perluasan kerja sama, serta pembenahan tata kelola kelembagaan.
Natalina menegaskan dirinya siap menerima apa pun hasil pemilihan."Kalah atau menang itu hal biasa dalam demokrasi. Yang terpenting adalah memberikan kontribusi nyata bagi UPR dan menyukseskan agenda pemilihan rektor," katanya.
Ia mengingatkan seluruh pihak agar menjaga proses pemilihan tetap bersih dan bermartabat. Menurutnya, tidak boleh ada praktik politik uang, kampanye hitam maupun isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang dapat mencederai demokrasi kampus.
"Saya berharap senat memilih berdasarkan visi, misi, dan program kerja yang telah disampaikan para calon, bukan karena kepentingan lain," tegasnya.
Natalina juga mengajak seluruh sivitas akademika menjaga persatuan setelah proses pemilihan selesai. Siapa pun yang terpilih, menurutnya, harus mendapat dukungan penuh demi kemajuan UPR.
"UPR adalah rumah kita bersama. Kontestasi itu biasa, tetapi setelah selesai kita harus bersatu. Tidak boleh ada permusuhan di internal kampus. Siapa pun yang terpilih harus kita dukung," ujarnya.
Menurut Natalina, kemajuan UPR harus dilakukan secara menyeluruh melalui peningkatan fasilitas, sistem tata kelola, kualitas dosen, tenaga kependidikan, hingga peningkatan kompetensi seluruh sumber daya manusia di lingkungan kampus.
“Saya titip pesan, ini UPR sama-sama sukseskan,taat dengan meknisme yang ditaati.Tidak ada sara,black kampian,politik uang.Ingat semua hak sama untuk memimpin,”pungkasnya. (daq/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama