Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

dr Yulia Noviany, Mengabdi dari Puskesmas ke Kursi Direktur RSUD dr Murjani

Yuni Pratiwi Iskandar • Senin, 9 Februari 2026 | 05:00 WIB
Direktur RSUD dr Murjani Sampit, dr Yulia Noviany
Direktur RSUD dr Murjani Sampit, dr Yulia Noviany

SAMPIT,radarsampitjawapos.com- Pelantikan dr Yulia Noviany sebagai Direktur definitif RSUD dr Murjani Sampit pada 30 Januari 2026, menutup satu fase panjang kepemimpinan rumah sakit kebanggaan masyarakat Kotawaringin Timur (Kotim) itu. Sekitar satu setengah tahun sebelumnya, ia memimpin Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) itu sebagai pelaksana tugas (Plt).

“Terus terang, saya tidak pernah membayangkan akan akan menjadi direktur. Tidak pernah terbesit sama sekali,” ungkapnya saat ditemui usia sertijab di lingkungan RSUD dr Murjani Sampit baru-baru tadi.

Perempuan kelahiran 1976 ini bukan sosok yang tiba-tiba hadir di puncak kepemimpinan RSUD dr Murjani. Kariernya tumbuh perlahan, melalui perjalanan panjang pelayanan kesehatan, dari tingkat paling dasar hingga manajerial tertingi.

Ia mengawali pengabdian sebagai dokter pada 2003 saat masa Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Puskesmas Ketapang 1 selama dua tahun. Pengalaman itu membentuk pemahamanya tentang pelayanan kesehatan yang bersentuhan dengan masyarakat.

“Di puskesmas kita belajar banyak. Bukan hanya soal medis, tapi juga soal keterbatasan dan bagaimana melayani dengan apa yang ada,” tutur Yulia.

Tahun 2006, dirinya kembali sebagai tenaga kerja sukarela (TKS). Di tahun yang sama, ia mengikuti seleksi dan diterima sebagai PNS. Hingga 2012, ia tetap bertugas di layanan primer, termasuk terlibat dalam program Jaminan Persalinan (Jampersal), saat sistem pembiayaan kesehatan masih berbasis fee for service.

Pada 2012, Yulia melanjutkan pendidikan ke Solo selama dua tahun. Masa studinya berjalan lebih lama dari rencana, karena mengikuti suami yang menempuh pendidikan spesialis di kota yang sama.

Tahun 2016, Yulia kembali ke Sampit. Ia sempat mengajukan pengunduran diri sebagai PNS. Namun pengajuan tersebut tidak disetujui oleh Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) kala itu. Tak lama berselang, ia justru ditarik untuk bertugas di RSUD dr Murjani Sampit, yang saat itu tengah menghadapi persoalan terkait klaim layanan BPJS Kesehatan.

Periode 2014–2015 menjadi masa sulit bagi rumah sakit. Seiring diberlakukannya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan sistem INA-CBGs, klaim RSUD dr Murjani tidak dapat disetujui BPJS karena belum adanya staf khusus pengelola klaim.

“Waktu itu Murjani belum punya SDM yang paham mengelola klaim INA-CBGs. Orang-orang sebelumnya terbiasa fee for service, bukan paket. Akibatnya, layanan pasien hampir dua tahun tidak dibayar, karena klaim kita belum layak. Masih ada kurang administrasi segala macam, jadi akhirnya saya dtarik ke RSUD dr Murjani untuk membenahi itu, melalui Unit Casemix di 2016,” terang Yulia.

Pekerjaan melalui Unit Casemix untuk membenahi sistem itu menurutnya tidak lah ringan, karena menyangkut administrasi, rekam medis, dan perubahan pola kerja. Enam bulan kemudian, pada Desember 2016, Yulia dipercaya menjadi Kepala Seksi Pelayanan Medik.

Karier manajerialnya terus berlanjut. Tahun 2021, ia menjabat Kepala Bidang Pelayanan Medik Rawat Inap. Pada September 2024, Yulia ditunjuk sebagai Plt Direktur RSUD dr Murjani Sampit, menggantikan dr Sutriso. Dan pada April 2025 Yulia dilantik sebagai Wadir Yankes, yang merupakan jabatan definitifnya.

Selama kurang lebih satu tahun lima bulan, ia memimpin rumah sakit dalam status Plt, sebelum akhirnya dilantik secara definitif oleh Bupati Kotim Halikinnor, pada 30 Januari 2026 lalu. “Waktu SK pelantikan dibacakan, saya sempat bercanda, akhirnya Murjani ini seperti ijab kabul. Sudah lama Plt terus,” imbuhnya.

Dalam perjalanan kariernya, Yulia menghadapi sejumlah tantangan berat. Salah satu yang paling berkesan adalah proses akreditasi rumah sakit pada 2017. Menurutnya, saat itu, RSUD dr Murjani hampir sepuluh tahun tidak menjalani akreditasi, sementara standar yang digunakan sudah berganti ke standar Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) yang menekankan perubahan budaya kerja.

“Yang paling susah itu mengubah perilaku manusia. Konflik itu pasti ada, baik sesama nakes maupun dalam pemenuhan administrasi. Tapi itu proses yang harus dilewati,” imbuhnya.

Saat itu, Yulia juga ditunjuk sebagai Ketua Tim Akreditasi. Rekam medis harus dibenahi, pelaporan diperketat, edukasi pasien diperkuat, dan seluruh unit dipaksa beradaptasi dengan standar baru. “Alhamdulillah, semua bisa kita lewati,” tambahnya.

Tantangan berikutnya muncul pada September 2024, saat RSUD beralih dari rekam medis manual ke rekam medis elektronik. Proses ini kata Yulia memerlukan waktu panjang dan energi besar.

“Itu perlu effort lahir Batin, juga jangka waktu penyelesaiannya cukup panjang. Saya sampai beberapa kali di RDP. Kalau permasalahan yang lain tidak terlalu, masih bisa saya hadapi,” paparnya.

Ke depan, Yulia menegaskan komitmennya untuk menyelaraskan arah RSUD dr Murjani dengan visi dan misi kepala daerah di sektor kesehatan.“Bagaimana kita meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kotim dengan pelayanan yang prima. Itu harus dibuktikan, dan pembuktiannya adalah akreditasi,” tegasnya.

Saat ini, RSUD dr. Murjani tengah mengejar pemenuhan seluruh standar akreditasi yang direncanakan akan disurvei pada Januari 2027. Selain itu, juga melakukan akselerasi pemenuhan sarana prasarana dan SDM untuk menjadi rumah sakit rujukan berbasis skompetensi.

“Sekarang Kemenkes tidak lagi melihat tipe A, B, C, atau D. Yang dilihat adalah unggulnya di mana, alat kesehatannya apa, SDM-nya bagaimana. Semua bisa dipantau real time,” jelas Yulia.

Di balik kesibukannya sebagai direktur dan saat ini sedang menempuh pendidikan program doktoral (S3) di STIESIA Surabaya sejak September 2025, Yulia tetap menempatkan keluarga sebagai prioritas. Dukungan suami menjadi penopang utama dalam perjalanan karier rnya.

“Suami selalu mengingatkan, kewajiban utama itu bukan yang di dunia. Yang utama adalah menjadi istri dan ibu. Jabatan itu bonus,” tuturnya.

Yulia dikaruniai tiga orang anak, dua diantaranya di pondok pesantren. Meski bekerja di rumah sakit yang sama, Yulia dan suaminya jarang bertemu di jam kerja karena perbedaan peran. Suaminya sebagai fungsional dan dirinya manajerial. Tak jarang keduanya sering berdiskusi, bahkan perdebatan kecil.

“Dari sepuluh diskusi, mungkin dua atau tiga diantara debat. Tapi itu biasa,” tukasnya.

Bagi Yulia, seluruh suka duka yang dilalui adalah bagian dari pembelajaran. “Kalau kita terus di zona nyaman, tidak akan ada perbaikan. Justru dari ketidaknyamanan itu kita belajar meningkatkan apa yang kurang,” pungkasnya.  (yn/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
#dr Yulia Nofiany #Direktur RSUD dr Murjani Sampit #Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) #puskesmas