PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com - Beberapa peristiwa kebakaran permukiman di wilayah yang jaraknya puluhan kilometer dari Kota Pangkalan Bun, sering tak dapat dijangkau oleh tim Dinas Pemadam Kebakaran dan (Damkar) Penyelamatan Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).
Salah satunya seperti di wilayah Kecamatan Pangkalan Banteng, yang berjarak 60 kilometer lebih dari posisi markas komando Damkar Pangkalan Bun. Apabila ada peristiwa kebakaran di wilayah ini, sering petugas Damkar pemerintah setempat mengaku hanya bisa memantau dari jauh dan berharap masyarakat di sana bisa bahu membahu membantu pemadaman api.
Plt Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Kotawaringin Barat Dwi Agus Suhartono mengakui, situasi jauhnya jangkauan itu, sejauh ini menjadi salah satu kendala utama mereka.
"Seperti peristiwa kebakaran di Pangkalan Banteng contohnya, kita tidak berdaya untuk memadamkannya, karena terkendala oleh jarak yang jauh,"ujarnya, Sabtu (5/7).
Diungkapkannya pula, ketiadaan pos Damkar dan personel yang diperbantukan di setiap kecamatan merupakan salah satu kendala utama yang dihadapi dalam penanganan kebakaran permukiman.
“Jarak antara Kota Pangkalan Bun ke Kecamatan Pangkalan Banteng kurang lebih 60 an kilometre. Sementara itu bila terjadi kebakaran permukiman, api menjalar hanya hitungan menit. Maka bila dipaksakan ke lokasi sana, maka akan sia-sia, karena kebakaran telah selesai,” papar Agus.
Dijelaskannya, sesuai kettentuan standar pelayanan, minimal pihaknya menuju lokasi kebakaran 15 menit untuk jarak sekitar 7-10 kilometer. “Semakin cepat tertangani maka semakin baik," tegasnya.
Menurut Agus, salah satu solusi yang bisa dilaksanakan yakni dengan pembangunan pos damkar di setiap kecamatan, yang dibarengi dengan penambahan personel serta peralatan yang cukup mumpuni.
Paling tidak lanjutnya, di setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Kobar, selain peralatan, personel yang diperbantukan paling tidak ada satu regu. Hal itu tentunya untuk operasional sarana dan prasarana bila terjadi kebakaran.
Namun sadari pihaknya, semua kebutuhan tersebut akan berdampak pada tersedia atau tidaknya anggaran pemerintah, sehingga pilihannya adalah dengan memberdayakan masyarakat serta membentuk badan relawan damkar di setiap kecamatan. Itupun harus didukung oleh peralatan yang memadai.
"Tidak mungkin kita bentuk relawan kebakaran tetapi tidak kita dukung sarana dan prasarananya. Jadi semua itu memang membutuhkan anggaran yang besar, dan ini adalah kebutuhan yang kita nilai sangat penting," pungkas Agus Suhartono. (tyo/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama