Catatan Perjalanan ke Timor Leste (4): Pelukan Saudara Seperjuangan

Admin • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 05:45 WIB
Dua sahabat lama berjumpa kembali setelah puluhan tahun tidak bertemu. Dan tgl 18 Mei 2026, mereka bertemu pada Acara Prezidente Horta Show.  (Foto: Pebri Ayu Lestari)
Dua sahabat lama berjumpa kembali setelah puluhan tahun tidak bertemu. Dan tgl 18 Mei 2026, mereka bertemu pada Acara Prezidente Horta Show.  (Foto: Pebri Ayu Lestari) 

 

Oleh Kusni Sulang & Andriani SJ Kusni

Saat yang paling mengesankan bagi Kami adalah saat melihat Presiden Ramos bersama para undangan lainnya berdiri di ruangan menunggu Kami. Dua puluh tahun kami tak saling berjumpa. Saya mengikuti keadaan dan kegiatan Ramos hanya dari berita-berita media, sedangkan Ramos sama sekali tidak tahu tentang diri saya. Ia hanya tahu bahwa saya ada di Kalimantan, tapi tak tahu persis Kalimantan bagian mana.

Didorong oleh keinginannya bertemu kembali dan memberikan salah satu medali tertinggi negaranya Republik Demokratik Timor Leste kepada Kusni Sulang, menggunakan berbagai platform media sosial, ia pun mencari Kusni dan dapat. Ramos mendapat nomor kontak Kusni dan secara pribadi ia segera menghubungi teman lamanya itu. 

Sesungguhnya, saya tidak suka Ramos mencari saya melalui media sosial (medsos), karena cara ini membuat saya terekspos , hal yang sama sekali tidak  saya sukai dan selalu saya coba hindari. Apalagi jika menjadi viral. Untuk pekerjaan saya eksposur begini tidak menguntungkan. Tapi saya paham mengapa Ramos menggunakan cara ini untuk mencari saya.

Ketika masuk ruangan yang digunakan untuk menyelenggarakan acara The Przidente Horta Show, dari kejauhan saya sudah melihatnya. Ia pun melihat saya. Sejenak kami saling tatap. Diam. Saling pandang dari ujung rambut hingga ujung kaki. Orang-orang sekeliling semua diam. Memandang kami dengan perhatian penuh. Akhirnya kami berpelukan erat. Kudengar ia mengatakan lirih: ”Akhirnya kita ketemu kembali. Akhirnya kau datang.”

”Setelah dua puluh tahun lebih berlalu”.

”Dua puluh tahun lebih“. Kulihat ia seperti orang menghitung sesuatu dan mengumpulkan ingatan. 

”Ya, dua puluh tahun lebih.” Dan dalam hati saya berkata, ketika kita masing-masing tambah usia. Saya, Ramos juga, memeluk saya tidak sebagai seorang Presiden tapi sebagai seseorang memeluk saudara seperjuangannya yang lama tidak berjumpa. Saya menggunakan istilah saudara seperjuangan, dan bukan saudara kandung, karena hubungan antara saudara seperjuangan, dalam kenyataan yang saya hadapi, lebih dekat dari hubungan antar saudara kandung. Apalagi jika hubungan antar saudara seperjuangan  itu sudah teruji dalam badai-topan perjuangan. Dalam WhatsApp pribadinya pun, Ramos menggunakan istilah pada Kusni Sulang.

“Great my brother. I am in Europe now, back home 15th. I will follow up with Filomeno Faria.”, tulisnya dalam sebuah WhatsApp (WA) ke Kusni Sulang.

Dengan perasaan sebagai saudara seperjuangan saya memeluk Ramos setelah dua puluh tahun lebih tak berjumpa, dan saya pun merasakan bahwa dengan perasaan serupa, ia memelukku. Bukan sebagai seorang Presiden sebuah Negara. Cukup lama kami berpelukan di bawah sorot pandang seluruh  undangan dan petinggi Negara Timor Leste – yang ketika terlirik olehku sejenak nampak ikut terharu, seakan mereka pasti, ada suatu cerita panjang pahit-getir tak terucap berada di balik pelukan lama dan perlakuan non-protokoler itu, darimana rasa saudara seperrjuangan itu tumbuh berkembang.

Momen kedua yang mengharukan Kusni Sulang adalah saat ketika Andriani SJ Kusni dipanggil untuk naik ke panggung menerima cinderamata dari Presiden Ramos berupa sebuah tas tangan hitam dari kulit. Hal ini sama sekali di luar  dugaan Kusni Sulang dan rombongan tiga orangnya. Karena kami pergi ke Timor Leste selain untuk memenuhi undangan Presiden Timor Leste kepada Kusni, selebihnya bagi Andriani SJ Kusni dan Pebri Ayu Lestari adalah untuk bekerja. Meliput acara peringatan kemerdekaan dan mendokumentasi perjalanan dalam berbagai bentuk baik tulisan maupun foto atau video. Andriani SJ Kusni datang bukan sebagai isteri Kusni Sulang tapi sebagai wartawan seperti juga halnya dengan Pebri Ayu Lestari – wartawan Panutung Tarung, majalah dua bahasa Dayak dan Indonesia yang terbit di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Apa yang terbaca oleh saya melalui hadiah tas tangan ini, selain rasa persaudaraan yang mendalam dari Ramos Horta kepada sahabat dan ’his brother’ adalah kepekaan dan kecerdikan perasaan Presiden serta bentuk penghormatannya pada peran perempuan sebagai ’penyangga separo langit’. Hal yang saya kenal lama dan ternyata tidak mengalami perubahan sedikitpun. Bahkan, bukan mustahil ketika ia menjadi Presiden, kepekaan dan kecerdikan perasaan serta penghargaannya pada peran perempuan bertambah. Karena sebagai Presiden ia pada tempatnya jadi teladan.

Selain itu tentu saja kesetiaannya pada teman lama adalah sesuatu yang perlu digarisbawahi dan mengharukan. Setia dan tidak lupa bukanlah sesuatu yang sederhana. Karena itu sastrawan asal Ceko, Mila Kundera, alm. mengingatkan kita untuk ”melawan lupa” yang esensinya sama dengan pesan Bung Karno ”Jangan sesekali melupakan sejarah (Jasmerah)”. Presiden José Ramos Horta dalam pidato kenegaraannya saat merayakan hari kemerdekaan Timor Leste, 20 Mei 2026, antara lain  mengatakan bahwa ”kami tidak melupakan kawan-kawan lama kami”.

Sikap terhadap perempuan yang dicerminkan antara lain oleh pemberian tas tangan kepada Andriani SJ. Kusni, menyopir sendiri kendaraan kepresidenannya yang tidak mewah, dan pernyataan resmi ”kami tidak melupakan kawan-kawan lama kami”, kita bisa menemukan jawaban atas pertanyaan bagaimana sesungguhnya sosok José Ramos-Horta sebagai anak manusia yang humanis, pemimpin yng dekat selalu dengan rakyatnya, tokoh budaya dan perdamaian yang berupaya mempersatukan seluruh kekuatan yang mungkin dipersatukan demi satu haridepan bersama yang baik dan lebih baik lagi.

Sikap ini terlihat misalnya dari cerita-ceritanya yang tertuang dalam bukunya ”Funu. The Unfinished Saga of East Timor”, Pennington, The Red Sea Press, Inc.1987 & 1996, 207 hlm. Dari  paparan pengalaman yang dituturkan dalam buku ini, kita melihat bahwa sejak masa perjuangan merebut kemerdekaan, Presiden Horta bukanlah sosok yang menyukai sikap ekstrim. Ia selalu berusaha mencari jalan yang bisa menyatukan sebanyak mungkin pihak demi mencapai tujuan bersama. Dengan kata lain José Ramos Horta bisa dikategorikan sebagai  politisi yang moderat yang oleh sementara penulis disebut sebagai politisi dengan pendekatan pragmatis.

Berdasarkan sikap politik demikian, maka ia bergabung dalam partai politik baru yaitu The National Congres for Timorese Reconstruction (CNRT), or Congresso Nacional de Reconstrução de Timor, yang didirikan oleh pada Maret 2007 oleh Xanana  Gusmão, seorang tokoh kunci dalam perjuangan kemerdekaan Timor Leste. Fokus perhatian CNRT diletakkan pada stabilitas pemerintahan dan sosial, pemulihan ekonomi, mengutamakan lapisan masyarakat akar rumput serta menggalang persatuan nasional. Sambutan rakyat terhadap CNRT dan politiknya tergambar dari hasil pemilihan presiden dan legislatif.

Saya menduga nama Republik Demokratik Timor Leste, dan bukan Republik Demokrasi Rakyat Timor Leste, ada kaitannya dengan ideologi tengah kiri atau sosial-demokratik seperti yang ditunjukkan dalam Tabel di atas.

Apa-siapa dan bagaimana Presiden Ramos juga bisa dilihat dari bagaimana pakaian yang ia kenakan ketika sudah menjadi Presiden. Dahulu ketika menjadi diplomat di masa-masa perjuangan merebut kemerdekaan, saat bekerja ia tampil mengenakan jas dasi. Yang paling sering saya lihat ia tampil mengenakan dasi kupu-kupu.

Saat bertemu di Dili setelah 20 tahun lebih berlalu, bahkan waktu menyampaikan pidato kenegaraan di acara resmi peringatan Hari Kemerdekaan 20 Mei, Ramos tidak mengenakan jas dasi seperti yang dahulu saya lihat di Eropa. Di Dili, ia mengenakan pakaian bercorak Timor Leste terbuat dari kain tenun setempat juga, dengan simbol-simbol Timor Leste. Penampilan seperti ini saya baca sebagai isyarat bahwa Ramos berupaya mengangkat budaya Timor Leste, secara tersirat mengatakan bahwa Timor Leste punya identitas sendiri. Sederhana tapi artistik.

Saya kira, sederhana dan artistik, merupakan salah satu ciri Ramos sebagai pribadi walau pun masih belum bisa menyaingi kesederhanaan alm. Presiden Ho Chi-minh dari Viet Nam. Saya katakan sebagai salah satu ciri Ramos karena hal ini saya dapatkan ketika kami bertemu di Eropa dan tetap menjadi cirinya ketika ia menjadi orang pertama negerinya.

Apakah Anda bisa membayangkan bahwa Ramos yang sekarang menjadi Presiden, pada masa berjuang untuk kemerdekaan, tidak kagok tidur di kursi-kursi atau meja Restoran Indonesia di Paris yang menjadi salah satu ”markas”-nya di Paris. Menyiapkan makannya sendiri dan mencuci piringnya sendiri di Restoran Indonesia itu? Jika ia punya waktu, ia pun tidak segan-segan turun tangan membantu teman-temannya melakukan persiapan pelayanan tamu-tamu Restoran.

Kepada para audiens The Prezidente Horta Show saya katakan kesaksian ini, langgam yang sangat saya hargai dan mengesankan serta masih Horta pertahankan hingga ketika ia menjadi Presiden.

”Langgam, gaya dan komitmen sosial Ramos yang saya kenal dari dulu hingga sekarang tidak berubah. Saya kira tidak mudah mencari pemimpin tipe ini”. Suatu kesimpulan yang saya sampaikan di acara The Prezidente Horta Show 19 Mei 2026. Kekuasaan itu sangat menggoda dan gampang membuat orang berubah.

“Nearly all men can stand adversity, but if you want to test a man’s character, give him power” (Hampir semua orang dapat bertahan dalam kesulitan, tetapi jika Anda ingin menguji karakter seseorang, berikanlah dia kekuasaan), ujar Abraham Lincoln ,, Presiden ke-16 Amerika Serikat. Horta memiliki kekuasaan itu, dan ia tidak berubah.

Pepatah Tiongkok Kuno memang mengingatkan kita bahwa ”daya tahan seekor kuda diuji dalam perjalanan jauh”. Pengalaman pula yang mengajarkan kalau cinta sangat kuat, tidak akan sederhana mengkhianati yang dicintai itu. Perjalanan jauh sebaliknya bisa meneguhkan cinta itu. Mengapa kita mesti menghancurkan capaian upaya bertahun-tahun, bahkan dengan mengadaikan nyawa, sekedar mengikuti godaan di waktu senja kehidupan? Saya tidak percaya Horta akan mengkhianati cintanya pada Timor Leste. Saya tidak percaya, Horta akan mencampakkan  begitu saja nilai-nilai yang dikandung oleh Hadiah Nobel Perdamaian yang dianugerahkan kepadanya dan Mgr Bello pada tahun 1996.

”Kami tidak melupakan teman-teman lama kami”, kata-kata yang Horta ucapkan dalam Pidato Kenegaraan Memperingati Hari Kemerdekaan 20 Mei 2026, sekaligus menyiratkan makna bahwa Horta tidak melupakan sejarah. Tidak melupakan nilai-nilai yang dibelanya dengan nyawa  sampai hari ini.

 

Editor : Heru Prayitno
Presiden Ramos Horta Kusni Sulang timor leste