Mengusung Misi PTN-BH, Prof. Liswara Tawarkan Transformasi UPR
Di ruang laboratorium, Prof. Dr. Liswara Neneng, S.Pd., M.Si lebih akrab dengan bakteri, gambut, dan tabung reaksi. Namun kini, perempuan kelahiran Kalimantan Tengah itu tengah memasuki "laboratorium" yang jauh lebih besar: kontestasi pemilihan Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) periode 2026–2030.
------------------------------------
Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) bidang Mikrobiologi itu menjadi satu dari tiga kandidat yang akan memperebutkan kursi orang nomor satu di kampus terbesar di Kalimantan Tengah. Bagi Liswara, pencalonan itu bukan sekadar mengejar jabatan. Ia membawa sebuah mimpi besar yakni mengantar UPR naik kelas menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH).
Perjalanan akademiknya tak dibangun dalam waktu singkat. Perempuan yang dikenal sederhana itu menempuh pendidikan sarjana di IKIP Malang, melanjutkan magister di Institut Pertanian Bogor (IPB), hingga meraih gelar doktor di Universitas Negeri Malang dengan konsentrasi Pendidikan Biologi, subprogram Mikrobiologi.
Puluhan tahun hidupnya dihabiskan untuk dunia pendidikan dan penelitian. Fokusnya pun tak jauh dari karakter Kalimantan Tengah, yakni ekosistem rawa gambut.
Berbagai penelitian yang dipimpinnya menjadi bukti konsistensi tersebut. Salah satunya penelitian mengenai keanekaragaman bakteri pada tanah gambut bekas kebakaran di Desa Tanjung Taruna, Kabupaten Pulang Pisau. Penelitian lain mengkaji pemanfaatan limbah kelapa sawit terhadap sifat fisik, kimia, dan biologi tanah kritis bekas tambang emas.
Baginya, riset bukan hanya menghasilkan jurnal ilmiah, tetapi harus mampu menjawab persoalan masyarakat.
Tak heran jika sederet hibah penelitian nasional berhasil diraihnya. Mulai Hibah Strategis Nasional, Fundamental, INSINAS, MP3EI, RISTOJA, PUPT, BIMA hingga RIIM Ekspedisi dan RIIM Inovasi tahun 2024–2026.
Baca Juga: Penentuan Rektor UPR Ditangan Kementrian, Tiga Kandidat Lolos ke Tahap Akhir
Jejak internasionalnya juga cukup panjang. Ia pernah mengikuti short course pembelajaran berbasis Lesson Study di Tokyo, Jepang, pada 2015. Dua tahun kemudian, ia mengikuti joint research and publication bidang Biologi Molekuler di Osaka, Jepang. Bahkan, sejak 2020 ia dipercaya menjadi reviewer jurnal internasional dan pada 2026 menjadi reviewer jurnal internasional bereputasi Q2.
Tak hanya di laboratorium, Liswara juga aktif membangun institusi. Ia pernah menjabat Ketua Program Studi S-1 Pendidikan Biologi, Ketua Program Studi Magister Pendidikan Biologi, Sekretaris LP3MP, hingga Wakil Dekan Bidang Akademik FMIPA UPR.
Salah satu karya yang paling dibanggakan adalah paten biofertilizer organik untuk tanah gambut. Inovasi tersebut menjadi jawaban atas kebutuhan pengelolaan lahan gambut secara berkelanjutan.
Pengalaman itu pula yang mengantarkannya dipercaya sebagai Ketua Tim Ahli Penyusunan Rencana Aksi Daerah Pengurangan dan Penghapusan Merkuri di kabupaten/kota serta Provinsi Kalimantan Tengah.
Kini, seluruh pengalaman itu ingin ia bawa untuk mentransformasi UPR. Saat berbicara mengenai masa depan UPR, mata Liswara tampak berbinar.Ia ingin UPR memiliki otonomi yang lebih luas melalui status PTN-BH.
Saat ini baru sekitar 30 persen program studi UPR yang berakreditasi Unggul.Padahal, syarat menuju perguruan tinggi unggul minimal 50 persen program studi harus terakreditasi Unggul. Untuk menjadi PTN-BH, angkanya bahkan harus mencapai 60 persen.
Karena itulah ia menyusun peta jalan empat tahun.Tahun pertama menjadi fase penataan fondasi melalui digitalisasi tata kelola, pembenahan kurikulum, penguatan sistem penjaminan mutu, serta audit internal.
Tahun kedua diarahkan untuk mempercepat lahirnya guru besar baru, memperkuat SDM, merevitalisasi LPPM, dan meningkatkan fasilitas tridarma.Memasuki tahun ketiga, UPR akan didorong melakukan ekspansi melalui pembukaan program studi baru, hilirisasi riset, peningkatan HKI, publikasi internasional, serta pengembangan desa binaan.
Sementara tahun keempat menjadi fase penyiapan akreditasi perguruan tinggi unggul, pembentukan regulasi PTN-BH, komersialisasi aset kampus, dan perluasan kerja sama internasional.
Menurut Liswara, status Badan Layanan Umum (BLU) yang kini disandang UPR merupakan pijakan awal, bukan tujuan akhir.
Ia menilai UPR membutuhkan fleksibilitas yang lebih besar agar mampu bersaing dengan perguruan tinggi terbaik di Indonesia maupun dunia. Jalan menuju itu adalah transformasi menjadi PTN-BH.
Kata Neneng, empat program unggulan. Pertama, meningkatkan daya saing lulusan melalui perubahan kurikulum. Mahasiswa tidak lagi sekadar duduk di ruang kelas pada tahun terakhir kuliah, melainkan diwajibkan memperoleh pengalaman nyata melalui kerja praktik, penelitian, magang, maupun kewirausahaan.
Menurutnya, lulusan harus siap bekerja bahkan sebelum wisuda.Program kedua adalah revitalisasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). Ia ingin penelitian dosen tidak berhenti di jurnal ilmiah, tetapi menghasilkan inovasi yang dimanfaatkan masyarakat dan industri.
Program ketiga ialah optimalisasi aset kampus agar mampu menghasilkan pendapatan non-Uang Kuliah Tunggal (UKT), sekaligus mendukung keberlanjutan pembiayaan universitas.Sedangkan program keempat adalah membangun birokrasi kampus yang bersih, transparan, dan berbasis meritokrasi.
"Kuncinya adalah transparansi, akuntabilitas, dan kejujuran dalam memilih SDM berdasarkan meritokrasi. The right man on the right place. Siapa yang berkompeten, dialah yang menempati posisi tersebut," tegasnya.
Lanjutnya, dia juga ingin kampus gambut berkelas dunia. Ia ingin UPR menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan rawa gambut tropika dan daerah aliran sungai (DAS). Menurutnya, tidak banyak perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki kekuatan akademik sekaligus laboratorium alam seperti Kalimantan Tengah.
Potensi tersebut harus menjadi identitas UPR di tingkat nasional maupun internasional.Melalui penguatan penelitian, hilirisasi inovasi, publikasi internasional, serta kolaborasi global, ia optimistis UPR mampu menjadi rujukan pengembangan ilmu gambut tropis dunia.
Di sisi lain, Liswara juga ingin memperkuat jejaring alumni. Menurutnya, alumni merupakan pintu masuk bagi peningkatan serapan lulusan, kerja sama industri, hingga pengembangan kewirausahaan mahasiswa.
Tak kalah penting, ia memastikan suara mahasiswa tetap menjadi bagian dalam setiap kebijakan kampus."Suara mahasiswa merupakan bagian penting dalam setiap kebijakan kampus. Kami ingin membangun UPR yang unggul, inovatif, berintegritas, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat," tandasnya.(daq/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama