Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Mengenal Tiga Calon Rektor Satu Diantaranya Pasti Jadi Rektor UPR (2),

Dodi Abdul Qadir • Senin, 13 Juli 2026 | 21:55 WIB
Prof Bhayu Rhama saat memaparkan visi dan misi serta program kerja kepada seluruh senat dan para dosen,alumni UPR dalam rangkapan pemilihan rektor Universitas Palangka Raya. (dodi/radarsampit)
Prof Bhayu Rhama saat memaparkan visi dan misi serta program kerja kepada seluruh senat dan para dosen,alumni UPR dalam rangkapan pemilihan rektor Universitas Palangka Raya. (dodi/radarsampit)

Prof Bhayu Rhama Ingin Bawa UPR Berakar pada Huma Betang, Mendunia Lewat Inovasi

Di ruang kerjanya sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Palangka Raya (UPR), Prof. Bhayu Rhama, S.T., M.B.A., Ph.D. tidak sekadar berbicara tentang perguruan tinggi. Ia berbicara tentang masa depan Kalimantan Tengah.

----------------------

Bagi guru besar bidang pariwisata itu, universitas tidak lagi cukup menjadi tempat mahasiswa mengejar gelar. Kampus harus berubah menjadi pusat lahirnya gagasan, inovasi, riset, hingga solusi bagi persoalan daerah.

Pemikiran itulah yang kini dibawanya dalam kontestasi pemilihan Rektor UPR periode 2026–2030. Mengusung manifesto Borneo Impact and Global Recognition, Prof. Bhayu menawarkan sebuah gagasan sederhana namun ambisius: membangun kampus yang tetap berpijak pada falsafah Huma Betang, tetapi mampu berdiri sejajar dengan universitas terbaik di dunia.

Perjalanan Prof. Bhayu dimulai jauh sebelum menyandang gelar profesor.Ia lahir dan tumbuh di Palangka Raya. Masa kecilnya dihabiskan di Kota Cantik. Pendidikan ditempuh mulai dari TK Tunas Rimba, SMP Katolik Palangka Raya, kemudian melanjutkan pendidikan menengah di SMA Negeri 1 Surakarta.

Selepas SMA, langkahnya membawanya keluar Kalimantan. Ia menempuh pendidikan Sarjana di Universitas Atma Jaya sebelum melanjutkan studi magister di University of Wolverhampton, Inggris.

Perjalanan akademiknya belum berhenti.Gelar doktor kemudian diraih dari University of Central Lancashire, Inggris. Pengalaman belajar di luar negeri memberinya perspektif baru tentang bagaimana universitas dapat menjadi motor pembangunan ekonomi, sosial, bahkan kebijakan publik.

Namun satu hal tidak berubah.Keinginannya untuk kembali membangun daerah tempat ia dibesarkan. Saat kembali ke Indonesia, Prof. Bhayu memilih mengabdikan diri di Universitas Palangka Raya.

Karier akademiknya berkembang pesat. Ia dipercaya menjadi Dekan FISIP UPR, asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), asesor kompetensi analis kebijakan publik BNSP, hingga aktif menghasilkan berbagai publikasi ilmiah internasional.

Bhayu menekankan UPR memiliki modal besar. Kampus ini berada di jantung Pulau Borneo, kawasan yang menjadi perhatian dunia karena kekayaan hutan tropis, lahan gambut, keanekaragaman hayati, hingga isu perubahan iklim. "Ini adalah keunggulan yang tidak dimiliki banyak universitas lain," katanya.

Karena itu, menurutnya, UPR tidak boleh hanya menjadi universitas regional. Kampus ini harus menjadi pusat pengetahuan Borneo yang diperhitungkan dunia. Manifesto Borneo Impact and Global Recognition lahir dari cara pandang tersebut.

Prof. Bhayu tidak ingin internasionalisasi dimaknai sekadar memperbanyak kerja sama luar negeri atau mengejar peringkat kampus.

Baginya, pengakuan global justru lahir ketika universitas mampu menyelesaikan persoalan lokal. Nilai Huma Betang yang mengajarkan kebersamaan, toleransi, dan gotong royong menjadi fondasi utama.

“Di atas nilai itulah saya ingin membangun universitas yang unggul dalam pendidikan, riset, inovasi, hingga pengabdian kepada masyarakat,” tuturnya.

Lanjutnya, delapan agenda perubahan. Gagasan besar itu diterjemahkan dalam delapan program prioritas.

Mulai dari reformasi tata kelola universitas berbasis integritas dan kinerja, digitalisasi layanan menuju smart campus, peningkatan mutu akademik dan akreditasi, hingga penguatan riset berbasis potensi Kalimantan Tengah.

Ia juga menawarkan pengembangan living laboratory untuk sektor sawit, pertambangan, dan lahan gambut agar penelitian kampus tidak berhenti di jurnal ilmiah, tetapi menjadi solusi nyata bagi industri dan pemerintah.

Tak kalah menarik adalah gagasan pengembangan carbon trading berbasis riset universitas. Menurutnya, isu lingkungan tidak lagi hanya berbicara tentang konservasi.

“Kini telah menjadi peluang ekonomi baru yang dapat dimanfaatkan perguruan tinggi untuk memperkuat kemandirian pendanaan sekaligus mendukung pembangunan hijau,”tegasnya.

Lanjutnya lagi, di balik berbagai konsep besar tersebut, perhatian Prof. Bhayu justru banyak tertuju kepada mahasiswa.Ia meyakini kualitas universitas diukur dari keberhasilannya melahirkan lulusan yang siap menghadapi dunia kerja.

Karena itu ia menawarkan penguatan career center, English Zone, sertifikasi kompetensi sesuai kebutuhan industri, hingga perluasan jejaring magang dan kolaborasi internasional.

Ia juga mendukung penuh program Satu Keluarga Satu Sarjana, yang dinilai mampu memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat Kalimantan Tengah.Menurutnya, pendidikan adalah jalan paling efektif untuk memutus rantai kemiskinan.

“Universitas tidak hanya mencetak sarjana.Universitas harus membuka kesempatan hidup yang lebih baik bagi keluarga,”tegasnya.

Ia menambahkan, di tengah persaingan perguruan tinggi yang semakin ketat, ia memilih kata impact sebagai inti visinya.

Baginya, keberhasilan universitas tidak hanya diukur dari jumlah publikasi, akreditasi, atau peringkat internasional. Yang jauh lebih penting adalah sejauh mana kampus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Mulai dari membantu pemerintah merumuskan kebijakan, mengembangkan potensi desa, memperkuat ekonomi hijau, hingga meningkatkan kualitas sumber daya manusia Kalimantan Tengah.

"Universitas hadir untuk mahasiswa dan masyarakat. Dengan komunikasi, kolaborasi, dan solusi yang baik, saya ingin membawa UPR menjadi kampus Huma Betang yang nyaman, unggul, dan bermanfaat," tekannya.

Di tengah kontestasi pemilihan rektor yang masih berlangsung, gagasan Prof. Bhayu menawarkan satu pesan yang kuat.

Bahwa kampus terbaik bukan hanya kampus yang dikenal dunia, tetapi kampus yang mampu mengubah daerahnya menjadi lebih maju.”Konkretnya dan dari Palangka Raya, ia percaya, langkah menuju pengakuan global dapat dimulai,”tandasnya.(daq/gus)

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#pemilihan rektor #masa depan #calon #Universitas Palangka Raya (UPR) #Mengenal