Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Ketika Kemarau mulai Mengurangi Sumber Air untuk Warga dan Perkebunan. Sumur Kering, Sungai dan Irigasi mulai Surut

Rado. • Senin, 13 Juli 2026 | 06:09 WIB

Salah satu lahan pertanian warga wilayah Kecamatan Kota Besi, yang rentan terdampak kekeringan  di musim kemarau.(dok.radarsampit)

Salah satu lahan pertanian warga wilayah Kecamatan Kota Besi, yang rentan terdampak kekeringan di musim kemarau.(dok.radarsampit)

Dampak musim kemarau mulai dirasakan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Selain meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sebagian warga mulai  merasa kesulitan memperoleh air bersih. Terutama bagi yang mengelola lahan pertanian, dan mengandalkan air sumur serta saluran irigasi

----------------------

Fina,  salah satu warga Kecamatan Cempaga, mengaku sudah sekitar sepekan terakhir sumur milik keluarganya tidak lagi mengeluarkan air. Sumur dengan kedalaman sekitar empat meter yang selama ini menjadi sumber kebutuhan sehari-hari kini mengering.

Menyiasati hal itu, keluarganya pun terpaksa memanfaatkan air Sungai Cempaga untuk mandi dan mencuci pakaian.

"Sudah seminggu ini air sumur kami yang kedalamannya empat meter sudah tidak ada air. Kami harus turun ke Sungai Cempaga untuk mandi dan cuci pakaian," ujarnya.

Menurut Fina, kondisi Sungai Cempaga juga mulai mengalami perubahan. Permukaan air pasang yang biasanya masih cukup tinggi, kini telah mengalami penurunan signifikan seiring tidak turunnya hujan dalam beberapa waktu terakhir.

Warga lainnya, Taufiq, juga merasakan dampak kemarau mulai mengurangi pasokan air bagi lahan kebunnya di kawasan Danau Lentang, Desa Luwuk Bunter. Diungkapkannya, saluran irigasi yang selama ini menjadi akses distribusi air mulai mengering.

"Salah satunya irigasi di Danau Lentang. Tempat kami sudah kering, baik saluran primer maupun sekunder," sebutnya.

Baca Juga: Mediasi Warga dan Pihak PBS Terkait Sengketa Lahan di Danau Lentang Belum Hasikan Kesimpulan

Ia menjelaskan, surutnya air menyebabkan akses menuju kebun yang biasanya dapat dilalui melalui saluran air kini ikut terganggu. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan berdampak pada aktivitas dan produktivitas kebun, apabila kemarau terus berlangsung.

"Karena air pasang sudah tidak ada dan hujan sudah dua minggu ini tidak turun lagi," tukas Taufiq.

Mereka pun berharap pemerintah segera melakukan pemantauan terhadap wilayah-wilayah yang mulai mengalami kekurangan air bersih serta menyiapkan langkah antisipasi. Termasuk mendistribusikan air bersih apabila kondisi kemarau semakin panjang.

Sebelumnya, berdasarkan buletin iklim Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika di bulan Juni 2026, diperkirakan curah hujan di seluruh wilayah Kotim sudah berada pada kategori sangat rendah. Yakni hanya 0–20 milimeter atau di bawah normal.Kondisi tersebut pun menggambarkan rawannya kebakaran lahan dan kekeringan, serta krisis air bersih.

Pemkab Kotim pun telah melakukan pengawasan dan antisipasi kekeringan, seperti yang dikeluhkan warga tersebut.

"Kalau memang terjadi krisis air bersih, nanti akan kita lakukan dropping air dari Sampit," ujar Bupati Kotim Halikinnor, Rabu (8/7) lalu.

Pihaknya pun terus memantau perkembangan musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya pada akhir Juli hingga Agustus 2026. Selain meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pemerintah juga mengantisipasi dampak lain berupa berkurangnya ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah.

Halikinnor juga mengungkapkan informasi dari BMKG, yang  menunjukkan musim kemarau tahun ini berpotensi lebih panas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut membuat seluruh pihak harus meningkatkan kewaspadaan agar karhutla tidak berkembang menjadi bencana asap yang berdampak luas.

"Ini memasuki musim kemarau dan menurut informasi BMKG panas tahun ini kemungkinan menjadi yang terpanas dalam 30 tahun terakhir. Karena itu saya menghimbau seluruh masyarakat agar berhati-hati, terutama yang masih melakukan penggarapan lahan," pungkasnya. (*/gus)

 

 

 

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
Luwuk Bunter musim kemarau kekeringan Sungai Cempaga sumur