Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Merasakan Demam Piala Dunia 2026 di Kotim, Bagi Penggemar Sepak Bola

Agus Jaka Purnama • Senin, 22 Juni 2026 | 05:31 WIB
Ilustrasi aktivitas begadang warga, ketika menyaksikan alias nonton bareng siaran Piala Dunia 2026. (AI)
Ilustrasi aktivitas begadang warga, ketika menyaksikan alias nonton bareng siaran Piala Dunia 2026. (AI)

Dari Berburu Antena, Sampai Mengubah Pola Tidur

Perhelatan Piala Dunia 2026 menyedot perhatian pecinta sepak bola di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Tak hanya bagi kaum pria, event olahraga terbesar sejagad itu juga digemari kaum hawa, termasuk mereka yang masih berusia belia. Beragam cara pun dilakukan untuk menikmati atmosfernya. Ada yang menyaksikan dari rumah, melalui ponsel, hingga bersama teman nongkrong.

----------------------------

Perbedaan waktu antara Indonesia dengan negara tuan rumah (AS, Meksiko, Kanada) membuat banyak pertandingan berlangsung pada tengah malam hingga dini hari. Penggemar bola pun ada yang rela mengurangi waktu istirahat alias merubah pola tidurnya demi menyaksikan tim favorit mereka berlaga.

Teguh, salah seorang warga Kecamatan Baamang, mengaku sengaja begadang untuk mengikuti pertandingan tim-tim unggulan yang berlaga di ajang empat tahunan tersebut. "Kalau Piala Dunia saya memang sengaja begadang. Apalagi kalau yang main tim-tim besar seperti Argentina, Brasil, atau Inggris. Meski besoknya kerja, rasanya sayang kalau tidak nonton langsung," ungkapnya.

Pria ini mengaku waktu tidurnya selama Piala Dunia jauh berkurang dibandingkan hari biasa. Bahkan, ia kerap baru beristirahat menjelang dini hari setelah pertandingan usai.

"Biasanya tidur jam 10 malam, sekarang bisa sampai jam 2 atau 3 dini hari kadang juga sampai jam 5. Kadang siang jadi mengantuk, tapi karena Piala Dunia cuma empat tahun sekali, ya dinikmati saja," lanjutnya.

Meski demikian, ia mengaku suasana nonton bareng menjadi daya tarik tersendiri. Selain menyaksikan pertandingan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana berkumpul bersama teman dan tetangga.

Roby, salah seorang pendidik, juga mengaku tetap mengikuti sejumlah pertandingan meski harus mengajar keesokan harinya. Menurutnya, jadwal pertandingan yang bervariasi membuat dirinya harus pandai mengatur waktu istirahat. Beberapa laga digelar pada pukul 23.00 WIB, sementara pertandingan lainnya berlangsung pada pukul 02.00 hingga 03.00 WIB.

Baca Juga: Demam Piala Dunia 2026 Turut Melanda Kalangan Remaja Kota Sampit

"Kalau pertandingan yang mulai jam 11 malam masih lumayan. Tapi ada juga yang mulai jam 2 atau jam 3 menjelang subuh. Kadang selesai nonton langsung bersiap untuk aktivitas pagi," ujarnya.

Roby mengaku rasa kantuk kerap datang saat siang hari. Namun, antusiasme menyaksikan ajang sepak bola terbesar di dunia membuat dirinya tetap berusaha mengikuti perkembangan pertandingan.

Meski demikian, Roby menegaskan, pekerjaan tetap menjadi prioritas utama. Ia berusaha menjaga kondisi tubuh dan memanfaatkan waktu luang untuk beristirahat agar aktivitas mengajar tidak terganggu.

Tak ingin ketinggalan, Yayang Welia gadis asal Sampit kelahiran kelahiran 22 Juni 2002 pun memiliki timnas unggulannya di Piala Dunia 2026. Ditemui Radar Sampit, ia dan rekannya Jasmine Ramadani, kompak mengenakan Jersey timnas Argentina dan Brasil.

Yayang mengaku sangat optimistis tim nasional Argentina mampu kembali meraih gelar juara dunia tahun ini. Menurutnya, performa Argentina yang berhasil menang di laga perdana dengan skor telak 3-0 menjadi bukti kekuatan tim berjuluk Albiceleste tersebut.

“Saya yakin Lionel Messi dan kawan-kawan masih menjadi kandidat terkuat untuk menjadi juara lagi tahun ini. Pertandingan kemarin sangat meyakinkan, dan saya sudah tidak sabar menunggu laga berikutnya,” ujarnya penuh semangat.

Jasmine Ramadani pun  demikian. Dara kelahiran 29 September 2006 itu, memberikan dukungan penuh kepada tim nasional Brasil sebagai calon kuat peraih trofi Piala Dunia. “Saya tetap mendukung Brasil. Saya yakin Neymar dan kawan-kawan bisa tampil maksimal dan menjadi juara dunia tahun ini,” sebutnya.

Meski berbeda pilihan, keduanya warga Sampit yang juga aktif bermedia sosial itu, tak ingin ketinggalan menikmati atmosfer Piala Dunia 2026.

Perbedaan dukungan ini menunjukkan bahwa semangat Piala Dunia mampu menyatukan para pencinta sepak bola dari berbagai kalangan. Di Kota Sampit sendiri, perbincangan mengenai tim unggulan dan prediksi juara dunia semakin ramai diperbincangkan di berbagai tempat, termasuk kafe-kafe yang menjadi lokasi favorit warga untuk menyaksikan pertandingan bersama.

Terpisah, salah satu warga Sampit, Tono, rela membeli antena televisi bary dengan harga Rp 185 ribu agar dapat mengakses siaran Piala Dunia yang ditayangkan secara gratis melalui TVRI.

"Saya beli antena supaya bisa nonton bola. Kalau tidak pakai antena agak sulit menangkap siaran Piala Dunia,"ujarnya.

Menurutnya, momen Piala Dunia hanya datang empat tahun sekali sehingga sayang untuk dilewatkan. Terlebih banyak pertandingan yang mempretemukan tim-tim besar dunia yang selama inj dinanti para pecinta sepak bola.

Antusiasme serupa juga ditunjukkan Irfan. Namun pendukung timnas Korea Selatan ini lebih memilih nenyaksikan pertandingan melalui telepon genggam."Nontonnya di ponsel saja, pakai aplikasi. Lebih praktis karena bisa ditonton di imana saja," cetusnya.(ang/yn/bri/gus)

 

 

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#penggemar sepak bola #demam #gadis #kaum hawa #piala dunia 2026