Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Aksi Dua Pembalap Cilik Kotim Berlatih MiniGP. Balapan Sejak Usia 3,5 Tahun, Pernah Ikut Kejurnas

Yuni Pratiwi Iskandar • Kamis, 2 April 2026 | 20:09 WIB
Abimanyu (kanan) dan Azka (kiri) dua pembalap cilik asal Kotim.(yuni/radarsampit)
Abimanyu (kanan) dan Azka (kiri) dua pembalap cilik asal Kotim.(yuni/radarsampit)

Veda Ega Pratama, pembalap muda berbakat asal Kabupaten Gunung Kidul, Jogjakarta, telah menjadi sumber inspirasi besar dengan meraih podium perdana di ajang Moto3 Grand Prix Brasil 2026. Remaja 17 tahun itu, menunjukkan potensi besar putra daerah di kancah internasional. Di Kotawaringin Timur (Kotim), harapan itu muncul dari pembalap cilik yang menekuni dunia balap motor.

-----------------------------

Suara mesin motor MiniGP memecah suasana sore di halaman Stadion 29 November Sampit, Rabu (1/4). Deru motor sport berukuran kecil itu cukup menarik perhatian warga yang tengah berolahraga.

Tak sedikit dari mereka berhenti sejenak menonton, sambil mengabadikan momen dua pembalap cilik yang lincah menaklukkan lintasan sederhana di area ber aspal tersebut.

Dua pembalap cilik  itu adalah Abimanyu Al Fatih (7), siswa SDN 1 Baamang Tengah, dan Azka Nur Majid (7), siswa SD Islam Baiturrahim. Dengan tubuh mungil, keduanya tampak percaya diri mengendalikan motor miniGP, menunjukkan teknik dasar balap, layaknya atlet balap motor.

Penulis yang penasaran kemudian berbincang dengan dua pria dewasa yang mendampingi mereka, yang tidak lain adalah Ayah mereka masing-masing. Ari, ayah Abimanyu, mengungkapkan bahwa kedua anak tersebut sudah rutin berlatih sejak 2023.

“Kami latihan di sini sudah izin juga. Latihan biasanya seminggu dua kali, hari Sabtu dan Minggu. Sekali latihan paling lama dua jam, dengan durasi per putaran sekitar 5 sampai 10 menit,” ujar Ari.

Ia menyebutkan, tidak ada kesulitan mengajak anak-anak berlatih balap motor itu, karena minat itu datang dari diri mereka sendiri. Orang tua hanya berperan memfasilitasi dan mengarahkan.

“Pada dasarnya mereka yang mau sendiri. Kami hanya mendukung, menyediakan fasilitas. Yang agak sulit itu mencari feel di awal saja,” tambahnya.

Abimanyu dan Azka tergabung dalam komunitas MiniGP Mentaya yang beranggotakan sekitar 10 anak usia 7 hingga 10 tahun. Mengingat batas usia miniGP maksimal 12 tahun, pembinaan sejak dini menjadi penting untuk mengasah kemampuan mereka.

Menariknya, keduanya sudah mengenal dunia balap sejak usia sangat belia, yakni sekitar 3,5 tahun. Bahkan, Abimanyu yang akrab disapa Abim disebut lebih dulu bisa mengendarai motor dibandingkan sepeda.“Abim justru bisa naik sepeda karena belajar motor dulu,” ungkap Ari.

Baca Juga: Veda Ega Pratama Masuk Kandidat Rookie of the Year

Hal senada disampaikan Wawan, ayah Azka, yang juga bertanggung jawab dalam perawatan unit kendaraan yang digunakan para pembalap cilik itu. Ia mengatakan Azka sejak kecil sudah menunjukkan ketertarikan pada motor. “Umur 3,5 tahun sudah minta motor,” ungkapnya.

Meski para pembalap cilik itu memiliki semangat tinggi untuk berlatih, mereka menghadapi keterbatasan fasilitas di daerah. Hingga kini, di Kotim belum memiliki sirkuit yang memadai untuk menyalurkan bakat salah satu olahraga populer tersebut. Mereka pun biasanya memanfaatkan halaman stadion atau area parkir Kantor Dinas Perhubungan.

“Kalau mau latihan, lihat kondisi dulu. Yang sulit itu track lurus panjang, karena turnamen di luar daerah biasanya seperti itu, track lurus. Di sini belum ada,” papar Wawan.

Padahal, lanjutnya, kemampuan anak-anak Kotim tidak kalah dengan daerah lain. Bahkan, mereka kerap mengikuti berbagai kejuaraan, mulai dari tingkat lokal di Palangka Raya, kejurda, hingga kejuaraan nasional (kejurnas). Abimanyu bahkan pernah tampil di ajang FIM MiniGP Indonesia Series 2024.

FIM MiniGP adalah ajang balap motor pembinaan resmi berskala internasional untuk anak-anak (usia 10-14 tahun), yang digagas oleh FIM dan Dorna Sports sebagai langkah awal menuju MotoGP.

“Progres mereka justru lebih banyak saat ikut event di luar daerah. Dukungan dari luar cukup besar, karena bibit dari Sampit ini bisa diperhitungkan,” beber Wawan.

Dalam waktu dekat, keduanya direncanakan mengikuti turnamen tahunan Lebah Central Borneo di Palangka Raya yang kemungkinan digelar sekitar Mei atau Juni 2026. Menurutnya, pembalap dari Kalimantan Selatan (Kalsel) dirasa menjadi pesaing yang cukup berat.

Diakui mereka, minimnya fasilitas dan pembinaan menjadi tantangan besar untuk peningkatan potensi para pembalap cilik ini. Berbeda dengan daerah seperti Banjarmasin dan Batulicin yang sudah memiliki sirkuit permanen dan pelatih khusus. Sementara pembalap cilik di Sampit masih mengandalkan latihan mandiri dengan arahan orang tua.

Mereka pun berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian, setidaknya dengan menyediakan fasilitas latihan yang layak. Salah satu harapan adalah difungsikannya sirkuit road race di Jalan Jenderal Sudirman Km 6 Sampit yang hingga kini belum rampung, sejak mulai dibangun pada 2018. “Tidak harus langsung sempurna, yang penting bisa dipakai latihan dulu,” harap Wawan.

Meski berlatih mandiri, tanpa sirkuit yang memadai, semangat Abimanyu dan Azka tetap menyala. Bahkan, saat anak seusia mereka asyik bermain gadget , keduanya justru memanfaatkan gadget tetap untuk menonton tayangan balap seperti MotoGP untuk mempelajari teknik para pembalap.

“Main gadget tetap ada batasan. Tapi yang ditonton juga seputar balapan, jadi tetap ada manfaatnya,” ujar Ari.

Di tengah kegemaran anak seusia mereka bermain gadget, Abimanyu dan Azka tetap diberikan batasan. Orang tua menyadari, dunia balap menuntut konsentrasi dan ketajaman berpikir, sehingga penggunaan gawai harus dikontrol agar tidak mengganggu kemampuan mereka dalam memahami dan menerapkan teknik di lintasan.

“Main motor dituntut cerdas, konsentrasi tinggi, karena otak, otot, tangan dan kaki main semua,” tuturnya.

Meski saat berlatih hanya didampingi Ayah, namun dukungan penuh juga datang dari Ibu mereka. Walaupun pada awalnya, baik Ibu dari Abim maupun Azka sempat khawatir dengan kegemaran mereka. Namun setiap kali turnamen balap motor digelar, keluarga menjadi pembakar semangat nomor satu bagi anak-anak itu.

Dengan dukungan keluarga dan semangat yang tinggi, kedua pembalap cilik ini menjadi bukti bahwa potensi atlet balap dari Kotim sangat menjanjikan. Kini, tinggal bagaimana perhatian dan dukungan lebih luas dapat mendorong mereka melaju lebih jauh di lintasan prestasi. (*/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
#sirkuit #lintasan #Stadion 29 November Sampit #pembalap #balap