Suasana malam Ramadan di Masjid Agung Ad Durun Nafis, Kabupaten Sukamara, terasa berbeda. Setelah salat tarawih usai, puluhan santri berkumpul di dalam masjid. Sebagian membawa mushaf Alquran, sebagian lain bersiap mengikuti perlombaan yang digelar khusus selama bulan suci.
Di sinilah Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Nurul Hijrah Sukamara menghidupkan Ramadan dengan berbagai kegiatan keagamaan bagi para santri.
Melalui program tamir Ramadan, pengurus pondok menyusun jadwal kegiatan yang diikuti seluruh santriawan dan santriwati. Beragam lomba digelar untuk menambah semarak sekaligus memperkuat pembelajaran keagamaan.
Mulai dari lomba hafalan Alquran juz 30, pembacaan syair Abu Nawas, adzan, hingga vokal duet religi. Ada pula lomba story telling yang mengangkat kisah-kisah nabi.
Kegiatan tersebut disambut antusias para santri yang kini berjumlah 104 orang. Mereka bergiliran tampil menunjukkan kemampuan di hadapan teman-temannya.
Selain perlombaan, pondok juga mengadakan kegiatan khataman Alquran bersama.
“Pondok juga mengadakan khataman Alquran bersama seluruh santri,” ujar M. Saleh, salah satu pengurus yayasan yang menaungi operasional ponpes.
Ponpes Modern Nurul Hijrah Sukamara sendiri terbilang masih muda. Pesantren ini didirikan pada 1 Juni 2021 dan menjadi satu-satunya pondok pesantren di Kabupaten Sukamara.
Awalnya, setelah Masjid Agung Ad Durun Nafis berdiri dan mulai beroperasi, muncul gagasan dari masyarakat dan pemerintah daerah agar masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan keislaman.
Dari situlah muncul ide mendirikan lembaga pendidikan Islam yang berpusat di kawasan masjid agung. Konsep pondok pesantren dianggap paling sesuai, mengingat Kabupaten Sukamara saat itu belum memiliki pesantren.
Gagasan tersebut kemudian dibahas dalam sebuah pertemuan yang digelar di rumah jabatan Wakil Bupati Sukamara kala itu. Tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pemerintah daerah sepakat mendirikan pondok pesantren yang dinaungi sebuah yayasan.
Lalu terbentuklah Yayasan Pendidikan Islam Anwarul Hidayatit Tholibin (Ahyat) sebagai pengelola.
Sejumlah tokoh turut berperan dalam pendiriannya, di antaranya Bupati Sukamara H. Windu Subagio, Wakil Bupati H. Ahmadi, KH. M. Nasrul Mahmudi selaku pimpinan Pondok Pesantren Darul Hijrah Putri Martapura, Ahmad Saihuddin, Yunizar Ramadhani, serta H. Busyairi Basri, H. Harkani, M. Saleh, dan Yan Suharyono.
Mengusung konsep pesantren modern, Yayasan Ahyat menjalin kerja sama dengan Pondok Pesantren Darul Hijrah Putri Martapura. Sistem pendidikan yang diterapkan di Nurul Hijrah mengadopsi sistem pembelajaran yang digunakan pesantren tersebut, yang juga terinspirasi dari sistem pendidikan Gontor.
Kerja sama itu dituangkan dalam sebuah nota kesepahaman antara kedua lembaga.
Pada tahun ajaran pertama 2021/2022, jumlah santri tercatat 28 orang, terdiri dari 22 santri laki-laki dan 6 santri perempuan.
Seiring waktu, jumlah santri terus bertambah. Kini total santri mencapai 104 orang yang mengikuti pendidikan umum setingkat SMP di lingkungan pondok.
Untuk sementara, aktivitas belajar dan asrama santri masih memanfaatkan ruang basement Masjid Ad Durun Nafis.
“Sambil menunggu pembangunan di lokasi pondok pesantren dengan usaha mandiri, bantuan pemerintah provinsi, dan donatur. Saat ini sudah selesai dua ruang asrama santri dan dua ruang kelas,” jelas Saleh.
Di tengah keterbatasan fasilitas, kegiatan Ramadan tetap berjalan meriah. Lantunan ayat suci, syair religi, hingga kisah para nabi yang dituturkan para santri menjadi warna tersendiri bagi malam-malam Ramadan di pesantren muda tersebut. (yit)
Editor : Heru Prayitno