Jeruji besi memang membatasi langkah, tetapi tidak pernah mampu membelenggu cahaya iman. Itulah suasana yang terasa setiap sore di Rumah Tahanan Kelas IIA Palangka Raya. Ratusan warga binaan pemasyarakatan (WBP) menjalani ibadah puasa dengan khidmat, mengisi hari-hari Ramadan penuh makna meski berada di balik tembok tinggi.
------------------
Ramadan di balik jeruji bukan sekadar rutinitas ibadah. Ia menjadi ruang kontemplasi, tempat menata ulang niat dan harapan. Di sana, di antara lantunan ayat suci dan doa yang lirih, para warga binaan belajar satu hal penting bahwa pintu perubahan selalu terbuka, bahkan dari balik dinding penjara.
Di dalam rutan, waktu seakan berjalan lebih lambat. Namun saat azan magrib berkumandang, wajah-wajah yang sejak pagi menahan lapar dan dahaga itu berubah teduh. Ratusan warga binaan duduk bersila, menanti waktu berbuka dengan sederhana kurma, minuman hangat, dan hidangan yang telah disiapkan.
Menariknya, Ramadan kali ini terasa lebih istimewa. Kepala Rutan Kelas IIA Palangka Raya, Wayan Arya Budiartawan menggagas program layanan buka puasa bersama (bukber) keluarga.
Kegiatan ini dilaksanakan terjadwal dan bergilir per blok hunian, dengan tetap mengedepankan aspek keamanan dan ketertiban.
“Ramadan adalah momentum memperkuat nilai spiritual sekaligus kekeluargaan. Kami laksanakan delapan kali bukber bersama keluarga selama bulan suci ini,” ujar Wayan.
Bagi para WBP, pertemuan singkat saat berbuka bersama keluarga menjadi suntikan semangat. Di ruang yang dijaga ketat petugas, mereka berbagi senyum, doa, dan harapan baru.
Selama Ramadan, pola distribusi makanan pun disesuaikan. Jatah makan pagi dan siang digeser menjadi menu sahur dan berbuka bagi warga binaan yang berpuasa.
“Sahur kami siapkan pukul 02.00 dini hari. Menu berbuka juga kami pastikan layak dan enak. Sementara warga nonmuslim tetap mendapat jatah pagi, siang, dan sore seperti biasa,” jelas Wayan.
Pengelolaan distribusi makanan dilakukan merata, tanpa diskriminasi. Semua mendapatkan hak yang sama sesuai ketentuan.
Tak hanya bukber, rangkaian kegiatan keagamaan digelar sepanjang Ramadan. Seperti tarawih, tadarus, dan siraman rohani. Salat tarawih berjamaah dibagi dalam beberapa gelombang, masing-masing sekitar 70 orang. Tadarus Alquran dan ceramah agama rutin digelar.
Rutan juga menggandeng Kementerian Agama untuk menghadirkan imam dan penceramah. Pembimbing rohani secara konsisten mendampingi warga binaan agar Ramadan menjadi titik balik perbaikan diri.
“Pembinaan kepribadian adalah inti dari pemasyarakatan. Ramadan menjadi waktu terbaik untuk memperkuat iman,” tegas Wayan.
Meski sedang kondisi berpuasa, kegiatan pembinaan kemandirian tetap berjalan. WBP difasilitasi pelatihan seni musik dan karungut, keterampilan menyadap karet (ngetah), hingga pertanian dan perkebunan.
Pihak rutan ingin memastikan, waktu yang dijalani tidak terbuang sia-sia. Setiap hari harus bernilai, menjadi bekal saat kembali ke masyarakat.
Diakui Wayan, di balik kegiatan positif itu, tantangan tetap ada. Jumlah penghuni yang cukup banyak belum sepenuhnya sebanding dengan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) petugas. Selain itu, upaya penyelundupan barang terlarang seperti narkotika dan ponsel masih kerap dicoba.
“Kami tegaskan, layanan di rutan gratis. Jangan percaya jika ada yang meminta uang. Jangan mencoba memasukkan barang terlarang,” cetus Wayan.
Selama Ramadan, kondisi rutan dipastikan aman dan terkendali. Hubungan antarwarga binaan pun relatif harmonis, saling menghargai satu sama lain.
Wayan pun selalu berpesan agar para WBP memanfaatkan Ramadan sebagai momen memperbaiki diri.“Ikuti dan patuhi tata tertib. Jangan melakukan pelanggaran. Itu akan mempercepat proses kembali ke keluarga,” pesannya.
Sementara bagi masyarakat dan keluarga WBP, pihaknya selalu mengingatkan pentingnya dukungan moral. Kunjungan dapat dilakukan pada Selasa, Kamis, dan Sabtu sesuai jadwal.
“Berikan dukungan positif. Jangan mudah percaya jika ada oknum yang mengatakan perlu bayar ini-itu. Semua layanan gratis,” pungkas Wayan.(*/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama