Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Perjuangan Weni, Pembuat Kue Bingka untuk Menghidupi Keluarga

Yuni Pratiwi Iskandar • Minggu, 22 Februari 2026 | 22:00 WIB

Menantu Weni, dengan kue bingka olahan mertuanya di tempat berjualan di Jalan Muchran Ali, Baamang, Sampit, Sabtu (21/2).
Menantu Weni, dengan kue bingka olahan mertuanya di tempat berjualan di Jalan Muchran Ali, Baamang, Sampit, Sabtu (21/2).

Cari Berkah Ramadan Sembari Merawat Suami

Di sebuah rumah sederhana di Jalan Muchran Ali, Kecamatan Baamang Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Saat sebagian besar warga terlelap di larut malam, Weni justru sibuk menyiapkan adonan, memantau api oven, dan memastikan setiap loyang kue Bingka matang sempurna. Baginya, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga musim meraih harapan.

--------------------------------------------

Perempuan ini menjalankan usaha rumahan berlabel 'Irlandia' yang diambil dari nama anak bungsunya. Ia telah puluhan tahun membuat aneka kue, camilan ringan, dan minuman. Seperti sirup nanas dan sirup merah yang lebih di kenal warga lokal dengan sebutan setrup.

Namun, sejak sekitar tahun 2010, satu menu olahannya menjadi primadona setiap Ramadan. Bingka kentang dan kue sarikaya, dua kue khas Kalimantan Selatan yang identik dengan bulan puasa sudah mahir diolahnya.

Di balik setiap loyang bingka yang ia buat, tersimpan keteguhan seorang istri, ibu, sekaligus tulang punggung keluarga, yang tak pernah berhenti berjuang. Oven ynag menyala di setiap moment Ramadan bahkan sejak dunia masih terlelap dalam sunyi malam,membawa hangat bukan hanya untuk pelanggan, tetapi juga untuk harapan hidup yang terus ia jaga.

Bingka Kentang merupakan kue tradisional khas Kalimantan Selatan yang terbuat dari kentang, santan, telur, dan gula, dipanggang hingga menghasilkan tekstur lembut dan rasa manisyang khas. Bagi banyak warga, bingka menjadi hidangan yang tak terpisahkan dari suasana Ramadan.

“Masaknya mulai jam 12 malam. Bingka ini sekali masuk oven bisa tiga jam. Sambil nunggu, saya gulung risol juga,” ungkap ibu dua anak itu, saat dibincangi Radar Sampit.

Di dapurnya, sebuah oven besar mampu menampung hingga 20 loyang bingka dalam sekali panggang. Meski begitu, produksi kini lebih terbatas. Dalam sehari, Weni hanya membuat sekitar 10 bingka di luar pesanan, ditambah sekitar lima loyang untuk pelanggan yang sudah memesan terlebih dahulu.

Bingka kentang dan sarikaya bukan kue yang mudah dibuat. Api oven harus stabil, tidak boleh terlalu besar atau terlalu kecil. Bahkan gas elpiji yang digunakan pun harus penuh.

“Kalau gas tiba-tiba habis, kuenya bisa gagal, jadi bantat. Jadi harus dipantau terus,” ungkap Weni.

Dalam sehari, ia bisa menghabiskan dua set telur untuk adonan. Semua dikerjakan dengan telaten. Dari menghaluskan kentang, mencampur santan, hingga memasatijan teksturnya lembut dan matang sempurna.

Meski prosesnya panjang dan melelahkan, Weni tetap mempertahankan harga agar terjangkau masyarakat. Bingka kentang dijual Rp25 ribu per loyang, semantara bingka sarikaya Rp20 ribu. “Kalau mahal, susah jualnya. Padahal bahan sekarang mahal semua. Tapi kualitas tetao sama, tidak ada yang dikurangi,” imbuhnya.

Lapak jualannya pun sederhana, hanya di depan rumah, dengan etalase kaca sebagai tempat untuk memajang jualannya. Namun saat Ramadan, suasananya beruabh ramai, terutama selepas ashar. Lokasinya yang berada di jalur menuju bandara membuat banyak warga singgah. “Kadang sampai kendaraan mau mutar balik saja harus sabar nunggu,” tutur Weni.

Baca Juga: Lestarikan Kuliner Tradisional melalui Bazar Ramadan di Taman Kota Sampit

Tak jarang, bingka buatannya habis diborong pelanggaan setia. Namun jika ada yang tersisa, ia memilih mengantarkannya ke panti asuhan. “Kalau tidak habis, saya antar saja ke panti,”tambahnya.

Selain bingka, ia juga membuat risol isi bihun, kentang, wortel, dan ayam suwir. Dalam sehari, adonan risol bisa menghabiskan 2,5 kilogram tepung.

Weni tidak berjualan sendiri. Ia ditemani putra sulung beserta istrinya yang turut membantu melayani pelanggan. Bahkan saat ditemui, putra sulungnya tampak cekatan menggoreng risol untuk memenuhi pesanan pembeli.

Dibalik kesibukannya itu, perjalanan usaha Weni tidak selalu mudah. Ia mengaku kerap memulai produksi dengan modal terbatas, bahkan harus meminjam bahan baku dari kenalan yang percaya padanya.

“Alhamdulillah ada yang percaya, saya dipinjami tepung, minyak goreng. Nanti kalau sudah laku baru saya ganti,” ungkapnya.

Dirinya mengaku belajar membuat kue secara otodidak, awalnya hanya untuk mengisi waktu luang, hingga akhirnya menjadi sumber penghidupan utama. “Alhamdulillah, saya syukuri saja yang ada,” ucapnya.

Tidak seperti sebagian pembuat bingka yang memilih memasak menjelang sahur, Weni justru memulai semuanya sejak tengah malam. Baginya, waktu itu menjadi satu-satunya kesempatan untuk menuntaskan banyak pekerjaan, sebelum pagi datang membawa tanggung jawab lain yang tak kalah penting.

Di sela kesibukannya membuat kue, ia juga harus menyiapkan diri untuk merawat dan tak jarang harus mengantar suaminya ke rumah sakit.

Usaha ini bagi Weni bukan sekadar rutinitas, tetapi menjadi tulang punggung keluarga sejak suaminya tidak lagi bekerja akibat sakit yang membuat kakinya harus diamputasi lima tahu lalu.

Kini, suaminya harus menjalani cuci darah ke rumah sakit, rutinitas yang harus dilakukan dua kali se pekan. “Walaupun pakai BPJS, tetap saja ongkos ke rumah sakit harus dipikirkan,” cetus Weni.

Namun demikian, wanita ini menjalaninya dengan penuh syukur. Setiap hari, ia mengumpulkan hasil jualan sedikit demi sedikit, cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, membayar ongkos transportasi ke rumah sakit, hingga membantu biaya anak bungsunya yang sedang kuliah di Palangka Raya.

Sang anak pun tak tinggal diam. Sambil kuliah, ia ikut belajar mandiri dengan berjualan risol, mengikuti jejak ibunya.

Setiap minggu, Weni memanfaatkan kawasan Car Free Day (CFD) di Taman Kota Sampit. Sesekali, ketika anaknya pulang ke Sampit, mereka berjualan bersama di kawasan  CFD. Weni bahkan membawa suaminya ke lokasi , bukan hanya untuk menemani berjualan, tetapi juga agar sang suami bisa menikmati suasana luar dan bertemu teman-temannya.

“Biar dia tidak bosan di rumah terus. Sekalian refreshing,” tukasnya.

Di CFD itu, mereka menjual berbagai dagangan, mulai dari risol, jajanan tradisional berbahan singkong seperti pilus dan jemblem, hingga tanaman hias dari rumah. Tak jarang, mereka juga menjual kerajianan tangan seperti tas yang dibeli dari Kapuas dan dimodifikasi agar terlihat lebih menarik.

Weni sengaja memberi peran kepada suaminya untuk menjaga dagangan. Baginya, itu bukan sekadar membantu, tetapi juga menjadi cara agar suaminya tetap merasa berarti dan terlibat.

Ia bersyukur dapat langganan sopir taksi online yang bersedia menjemputnya sejak subuh. Tanpa bantuan itu, ia mengaku sering kebingungan mencari alat transportasi.(*/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
#Taman Kota Sampit #Olahan #Loyang #Kue bingka #weni #baamang #ramadan #larut malam #sirup #car free day #sampit #camilan #Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) #sebagian besar #risol