radarsampitjawapos.com- Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili jatuh pada Selasa 17 Februari 2026. Salah satu rangkaian penyambutan dilakukan umat Buddha di Vihara Avalokitesvara, Sampit. Yakni dengan melakukan tradisi Basuh Rupang atau membersihkan patung-patung yang dianggap suci.
--------------------
Beberapa umat Buddha nampak sibuk melakukan bersih-bersih di lingkungan sebuah Vihara bernama Avalokitesvara di bilangan Jalan Kopi, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Sampit, pada Minggu (8/2).
Aktivitas itu nampaknya tidak sekadar bersih-bersih fisik. Namun disertai ritual yang menjadi simbol refleksi diri dan kesiapan spiritual dalam menyongsong tahun yang baru Imlek.
Pengurus Daerah Majelis Budhayana Indonesia (MBI) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) Bambang Siswanto, yang juga turut serta mengatakan, tradisi ini rutin dilaksanakan setiap tahun, sebagai bagian penting dari rangkaian menyambut Imlek.
“Pembersihan ini kami lakukan agar perayaan Imlek nanti berlangsung dalam suasana yang bersih, khidmat,dan penuh berkah. Bukan hanya lingkungan vihara, tetapi juga batin kita,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam prosesi tersebut, umat dan pengurus vihara membersihkan rupang utama seperti Buddha Gautama, Dewi Kwan In Phu Sa, Dewa pelindung Dhamma, hingga altar, wadah hio, serta perlengkapan ibadah lainnya. Bambang menegaskan, seluruh rangkaian pemersihan itu dilakukan dengan penuh kehormatan dan tata cara khusus.
Pembersihan rupang diawali dengan sembahyang sebagai bentuk penghormatan. Kemudian rupang-rupang tersebut dimandikan menggunakan air kembang. Rupang berukuran kecil dibersihkan melalui beberapa tahapan, mulai dari disikat dan dicelupkan ke air sabun, dibilas dengan air bersih, hingga dimandikan air bunga agar kembali bersih dan harum.
Sementara rupang berukuran besar, dibersihkan dengan cara disikat dan dilap menggunakan kain basah. “Debu dan asap dupa menempel cukup lama di rupang. Karena itu, setahun sekali harus dibersihkan agar tetap terawat dan indah,” jelasnya.
Bambang menyebutkan, di Vihara Avalokitesvara terdapat sekitar delapan altar utama dengan jumlah rupang yang cukup banyak. Dalam ritual basuh rupang, bunga dan kain yang digunakan wajib dalam kondisi baru. Hal itu sebagai simbol menyambut tahun baru dengan kesucian dan niat yang baru pula.
“Bunga wajib ada, kain juga harus baru. Ini melambangkan kita meninggalkan yang lama dan menyambut yang baru dengan semangat baru,” tuturnya.
Bambang juga menjelaskan, kegiatan itu lebih dari sekadar tradisi. Basuh rupang merupakan bagian dari pengamalan tujuh bagian puja dalam ajaran Buddha. Prosesi ini mengandung filosofi mendalam tentang pembersihan diri, baik lahir maupun batin, sebelum memasuki tahun yang penuh tantangan dan harapan.
“Membersihkan rupang itu sama maknanya dengan membersihkan diri kita sendiri. Kita menata ulang pikiran dan hati, agar siap menghadapi tahun yang baru dengan semangat yang lebih baik,” paparnya.
Tradisi basuh rupang biasanya dilaksanakan sekitar satu minggu sebelum Imlek, bertepatan dengan kepercayaan saat para dewa naik ke langit. Setelahnya, umat akan bersiap menyambut puncak perayaan Imlek, dan di Vihara Avalokitesvara akan ditandai dengan ritual doa keselamatan atau Po Un.
Menurut Bambang, perayaan Imlek berlangsung selama 15 hari, dan menjadi momentum untuk berbagi kebahagiaan, berkah, dan mempererat kebersamaan.
“Imlek adalah waktu untuk menjadi manusia baru. Kita merefleksikan perjalanan setahun ke belakang dan menjadikanya pelajaran. Semoga Imlek tahun ini membawa kedeamaian dan kebahagiaan, tidak hanya bagi umat Buddha, tetapi juga seluruh masyarakat, khususnya di Kotim,” pungkasnya. (*/gus)