Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Proses Operasi tanpa Obat Bius Tempo Dulu, Dokter Atasi Derita Pasien dengan Cara Ini

Sabrianoor • Selasa, 10 Juni 2025 | 17:39 WIB
Ilustrasi operasi.
Ilustrasi operasi.

Radarsampit.jawapos.com – Bayangkan bagaimana rasanya jika seseorang yang menjalani proses operasi besar dilakukan tanpa obat bius. Ketika daging tubuh dibelah dan dijahit. Ngilu bukan?

Memang, menghadapi rasa sakit seperti itu akan menjadi mimpi buruk.

Saat ini, anestesi atau obat bius sudah menjadi bagian penting dalam pengobatan.

Terdiri dari serangkaian obat yang digunakan tidak hanya untuk mengelola rasa sakit, tetapi juga untuk merelaksasikan otot dan membuat pasien tidak sadarkan diri.

Banyak orang, pada suatu saat dalam hidup mereka, akan menerima obat-obatan ini.

Entah itu anestesi lokal untuk membuat gusi mati rasa di kantor dokter gigi, epidural saat melahirkan atau anestesi umum untuk membuat tidur nyenyak saat dokter mengangkat amandel.

Namun, bagaimana dokter melakukan operasi sebelum adanya anestesi?

Anestesi seperti yang kita ketahui saat ini merupakan penemuan yang relatif baru, tetapi selama berabad-abad, kita telah mencari cara untuk meredakan nyeri hebat.

Sejak tahun 1100-an, ada kisah tentang dokter yang mengoleskan spons yang dibasahi dengan sari buah mandrake dan opium ke pasien untuk membuat pasien mengantuk sebelum menjalani operasi, dan untuk meredakan nyeri yang terjadi setelahnya.

Lebih jauh lagi, manuskrip yang membentang dari zaman Romawi hingga abad pertengahan menggambarkan resep untuk campuran obat penenang yang disebut "dwale."

Terbuat dari ramuan memabukkan dari empedu babi hutan , opium, sari buah mandrake, hemlock, dan cuka, tingtur tersebut diseduh "untuk membuat seseorang tertidur sementara orang-orang memotong dagingnya.

Namun, obat-obatan ini akhirnya tidak tepat dan sulit disesuaikan dengan pasien dan kebutuhan mereka.

Terlebih lagi, obat-obatan ini bisa berbahaya; misalnya, hemlock bisa berakibat fatal, dan opium serta laudanum bersifat adiktif.

Mandrake dalam dosis tinggi dapat menyebabkan halusinasi , detak jantung abnormal dan dalam kasus ekstrem  bisa berakibat kematian.

 

Berpacu dengan Kecepatan Atasi Rasa Sakit

Di abad ke-19, dengan latar belakang medis yang tak kenal ampun ini, ketika dokter bedah harus melakukan operasi invasif, sering kali metode paling masuk akal yang mereka gunakan adalah bertindak secepat dan setepat mungkin. 

Efisiensi dan ketepatan di bawah tekanan waktu menjadi ukuran keterampilan dokter bedah saat itu

Namun, kecepatan dan ketepatan juga membatasi ahli bedah untuk melakukan operasi yang terlalu rumit.

Misalnya, sebelum munculnya anestesi bedah di Eropa dan Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1800-an, operasi berisiko tinggi seperti operasi caesar dan amputasi di daerah tersebut tidak umum dilakukan seperti sekarang, baik karena keterampilan dan risiko maupun rasa sakit yang hebat tidak terkendali.

Operasi gigi adalah salah satu dari sedikit jenis operasi yang relatif lebih umum selama periode ini, karena rasa sakit dan bahaya yang ditimbulkannya lebih rendah daripada jenis operasi yang lebih serius.

Tak perlu dikatakan lagi, pasien juga tidak mengantre untuk menjalani operasi ini.

 

Teknik Tak Lazim Atasi Rasa Sakit saat Operasi

Saat dokter bedah mencari cara baru untuk melakukan pekerjaan mereka, muncul beberapa metode yang lebih tidak biasa.

Salah satunya adalah kompresi, teknik yang melibatkan pemberian tekanan pada arteri untuk membuat seseorang tidak sadarkan diri, atau pada saraf untuk menyebabkan mati rasa tiba-tiba pada anggota badan.

Teknik pertama mungkin sudah ada sejak zaman Yunani kuno, saat dokter megkompresi arteri di leher pasien hingga pingsan dan tidak sadar.

Namun, tidak ada petunjuk bahwa metode ini diterapkan secara luas dan mungkin dengan alasan yang tepat.

Seseorang yang mencoba metode sangat berisiko seperti ini ,mungkin di era sekarang lebih mungkin berakhir di pengadilan karena tuduhan pembunuhan daripada tuduhan lainnya.

Pada tahun 1784, seorang ahli bedah Inggris bernama John Hunter mencoba menekan saraf dengan menggunakan torniket pada anggota tubuh pasien dan menyebabkan mati rasa.

Anehnya, cara itu sempat berhasil mengamputasi anggota tubuh, dan tampaknya, pasien tidak merasakan sakit. (sbn)

REFERENSI: Hektoen International Journal, Live Science.

Editor : Gunawan.
#obat bius #operasi