Radarsampit.jawapos.com – Sebuah lapisan es yang super besar masih membeku jauh terpencil di Kutub Selatan. Ya! Benua Antartika.
Namun, seluruh masyarakat dunia mesti terus berharap es Antartika terus membeku. Mengapa?
Dengan volume es yang terhampar seukuran benua tersebut, jika mencair tentu saja airnya akan menyatu di seluruh lautan dan meningkatkan ketinggian air laut.
Dampaknya, beberapa daratan rendah akan dipenuhi air laut dan berubah menjadi lautan.
Hal ini bisa terjadi jika suhu di Bumi terus mengalami peningkatan.
Beberapa sumber menyimpulkan, bumi telah rentan terjadi perubahan iklim akibat terus meningkatnya suhu.
Banyak yang menjadi sebab, di antaranya tingginya karbon yang dilepaskan ke atmosfer akibat penggunaan bahan bakar fosil yang berlebihan.
Ada beberapa negara yang memiliki daratan sangat rendah bahkan salah satunya lebih rendah dari permukaan laut.
Mencairnya es di Antartika akan sangat memgancam keberadaan negara-negara tersebut bahkan bisa jadi hanya tinggal nama.
Dihimpun dari berbagai sumber, setidaknya ada 3 negara yang paling terancam akibat perubahan iklim.
- Tuvalu
Negara kecil di tengah Samudera Pasifik yang hanya punya satu jalan penghubung ini bisa jadi di masa depan hanya tinggal nama.
Alasannya, tentunya adalah permukaan wilayahnya yang hampir sejajar dengan permukaan lautan Pasidik.
Kerentanan Tuvalu terhadap perubahan iklim, khususnya naiknya permukaan air laut, berakar pada kondisi geografisnya.
Terdiri dari sembilan atol karang dan pulau-pulau dataran rendah, Tuvalu menghadapi ancaman ganda, yaitu pemanasan global dan mencairnya lapisan es kutub dan gletser.
Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) melaporkan peningkatan permukaan air laut global yang cepat yang memengaruhi negara-negara kepulauan kecil, dengan rata-rata 0,2 meter (0,7 kaki) selama seabad terakhir.
Selain naiknya permukaan air laut, Tuvalu semakin sering dilanda cuaca ekstrem, seperti siklon dan gelombang badai.
Peristiwa ini semakin menggerogoti keseimbangan ekosistem pulau tersebut, yang membuat kehidupan penduduknya semakin tidak menentu.
- Maladewa
Negara indah di tengah Samudera Hindia yang sering jadi destinasi utama wisata berbulan madu.
Namun, perubahan iklim merupakan isu utama bagi Maladewa . Sebagai negara kepulauan yang terdiri dari pulau-pulau dataran rendah dan atol di Samudra Hindia, keberadaan Maladewa sangat terancam oleh kenaikan muka air laut .
Pada tahun 2050, 80% wilayah negara tersebut dapat menjadi tidak layak huni akibat pemanasan global.
Menurut Bank Dunia , dengan "permukaan air laut di masa mendatang diproyeksikan akan meningkat dalam kisaran 10 hingga 100 sentimeter pada tahun 2100, seluruh negara tersebut dapat tenggelam.
Maladewa tengah berupaya keras untuk beradaptasi dengan perubahan iklim , dan otoritas Maladewa telah menonjol dalam advokasi politik internasional untuk melaksanakan mitigasi perubahan iklim.
- Belanda
Kincir angin di Belanda telah menjadi ikon utama negara , namun dibalik itu kincir angin memainkan peran penting menjaga daratan Belanda yang sebagian besar berada di bawah permukaan laut untuk tetap kering.
Ya! Selain banyaknya bendungan berteknologi tinggi untuk menahan air laut, kincir angin telah memompa air laut yang masuk ke daratan sehingga Belanda tetap eksis.
Meskipun begitu, perubahan iklim memainkan peran utama dalam menyebabkan Belanda tenggelam lebih dari yang diharapkan, kata para peneliti.
Sebuah tim dari Universitas Teknologi Delft membuat kesimpulan tersebut setelah menerbitkan angka nasional pertama mengenai penurunan tanah.
Mereka menggunakan data GPS dan radar serta pengukuran gravitasi untuk menghasilkan peta penurunan khusus.
Ini menunjukkan kota bagian barat Gouda misalnya, tenggelam rata-rata tiga milimeter per tahun.
Bayangkan! Negeri ini 80 persennya ada di ketinggian yang lebih rendah dari permukaaan laut hingga belasan meter.
Secanggih apapun teknologi yang dikembangkan Belanda untuk menahan air laut, pasti ada batasnya.
Terlebih jika, es super besar di Antartika musnah dan menyatu menjadi lautan. (sbn/ign)
Referensi: UNICEF, Wikipedia, New York Times, Climate Changed
Editor : Gunawan.