Radarsampit.jawapos.com – Bagaimana rasanya jika kita didorong oleh pemerintah sendiri untuk pacaran, menikah dan punya anak?
Sampai-sampai pemerintahnya menjanjikan akan memberikan sejumlah uang untuk pasangan yang mau berkomitmen.
Hal ini telah terjadi di Korea Selatan, negara yang mengalami ancaman penurunan populasi. Banyak anak banyak rejeki mulai direalisasikan Pemerintah Korsel.
Penurunan angka kelahiran di Korea Selatan yang mencapai 0,72 kelahiran per wanita pada tahun 2023 (cemetery korean) telah mejadi ancaman serius.
Angka kelahiran yang minim terus menunjukan stagnasi selama berapa tahun belakangan.
Menurut Statista, suatu negara membutuhkan setidaknya 2,1 kelahiran per wanita agar populasinya terus tumbuh.
Banyak faktor sosial dan ekonomi yang menjadi penyebabnya, diantaranya keengganan untuk saling terikat dalam pernikahan karena pekerjaan dan emansipasi wanita.
Selain itu, Profesor sosiologi Universitas Wanita Seoul, Jung Jae-hoon mengatakan kepada Reuters, warga Korea Selatan sekarang memilih untuk menghabiskan lebih banyak uang untuk diri mereka sendiri daripada memulai sebuah keluarga.
”Jika angka kelahiran Korea tetap rendah, negara itu akan menghadapi kepunahan," kata Lee Joong-Keun, ketua perusahaan tersebut.
Dikutip dari Newseek pada bulan Juli tahun ini, Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol mengumumkan pembentukan Kementerian Angka Kelahiran baru untuk mengatasi apa yang disebutnya sebagai "darurat nasional," yaitu ancaman penurunan populasi Korea Selatan.
Kementerian tersebut akan mengawasi berbagai masalah demografi selain menurunkan angka kelahiran seperti populasi yang menua, migrasi, dan tenaga kerja.
Selain itu, lembaga pemerintah lainnya di Korsel juga tengah berupaya mencari solusi atas penurunan tersebut.
Bayar Warga untuk Berkencan
Banyak upaya Pemerintah Korea Selatan untuk mengatasi ancaman serius penurunan populasi warganya.
Salah satunya seperti dilaporkan Korean Times, diketahui sebuah distrik kota di Korea Selatan membayar warganya untuk memulai hubungan dan memiliki anak.
Kantor distrik Saha-gu di Busan berencana menyelenggarakan acara perjodohan pada bulan Oktober, dan menawarkan 1 juta won atau 750 Dollar AS kepada orang-orang yang mulai berkencan.
”Proyek ini dirancang untuk mengatasi krisis demografi di tengah rendahnya angka kelahiran Korea Selatan dengan membentuk komunitas lokal multikultural di masa depan," kata kepala distrik Lee Gap-jun.dikutip dari situs berita Asia-Amerika NextShark.
Distrik tersebut akan menyelenggarakan acara kencan buta untuk pria dan wanita lajang Korea dan asing berusia antara 23 hingga 43 tahun baik bagi yang tinggal atau bekerja di daerah tersebut.
Jika pasangan tersebut bertahan dan mulai mempersiapkan pernikahan, termasuk bertemu keluarga masing-masing, masing-masing dari mereka akan menerima tambahan 1.490 Dollar AS.
Tidak hanya sampai di situ, pemerintah juga akan memberikan bantuan setelah pasangan tersebut menikah.
Dewan distrik akan memberi mereka tambahan 14.900 Dollar AS.
Pasangan pengantin baru juga dapat menerima 22.350 Dollar untuk uang muka rumah atau tunjangan sewa selama lima tahun ke depan yang jumlahnya dapat mencapai 600 Dollar.
Langkah yang dilakukan Distrik Saha-gu bukanlah inisiatif pertama yang diambil untuk meningkatkan angka kelahiran di negara tersebut.
Banyak perusahaan mulai memberikan penghargaan bagi karyawan yang memilih untuk memulai sebuah keluarga.
Salah satunya, perusahaan raksasa Booyoung Group yang menawarkan karyawan mereka 75.000 Dollar AS untuk setiap bayi yang mereka miliki. (sbn)
Referensi: Reuters, Newseek, Korean Times
Editor : Gunawan.