Tidak sedikit individu yang nyawanya tidak terselamatkan karena menderita penyakit terminal (keadaan tubuh tak berfungsi karena sakit, cacat, dan lain hal), namun kepala dan otaknya masih sehat.
Hal ini acapkali menumbuhkan imajinasi "andai saja kepala dan tubuh yang berbeda bisa ditransplantasikan".
Banyak kasus transplantasi organ tubuh yang sukses. Namun, khusus transplantasi kepala, hal itu merupakan prosedur bedah yang luar biasa dan dianggap mustahil.
Dilansir dari harian kesehatan AS, Pub Med, para ilmuwan medis diketahui telah bereksperimen akan hal itu sejak lama. Bagaimana hasilnya?
Terkait etika, tentu saja percobaannya adalah pada kepala binatang terlebih dahulu.
Pada tahun 1908, Charles Guthrie mencoba mentransplantasikan kepala anjing donor ke leher anjing resipien namun tidak berhasil.
Tahun 1950, Vladimir Demikhov mengembangkan beberapa teknik pembedahan terkait transplantasi organ vital dan anggota tubuh pada anjing .
Kedua eksperimen di atas belum berhasil hingga akhirnya ada peningkatan di tahun 1970-an.
Robert White melakukan transplantasi pertukaran sefalik pertama pada monyet dengan mentransplantasikan kepala monyet rhesus pada tubuh monyet lain yang tidak berkepala.
Monyet tersebut bertahan hidup selama 8 hari dengan pemulihan sensasi dasar seperti penciuman, pengecapan, pendengaran, dan fungsi motorik pada wajah yang ditransplantasikan.
Terakhir, Canavero S dkk pada 2017 mulai menjelaskan model transplantasi kepala pada manusia melalui anastomosis sefalosomatik menggunakan mayat manusia.
Meskipun belum pernah diuji langsung kepada manusia, Canavero dari beberapa penelitiannya telah menetapkan teknik bedah atau bahkan paten dalam upaya untuk melakukan transplantasi kepala manusia pertama.
Jadi, untuk pertanyaan tentang sejauh mana perkembangan transplantasi manusia, diketahui ada perkembangan eksperimen ke arah keberhasilan pada hewan dan untuk manusia masih berupa skenario, namun dengan dasar ilmiah dan logis.
Skenario transplantasi kepala manusia menurut Canavero dkk, dari ulasan Canavero, pasien yang memenuhi transplantasi kepala adalah orang-orang muda, karena memiliki peluang keberhasilan yang lebih tinggi.
Upaya pertama harus dilakukan pada orang muda yang menderita penyakit terminal yang menyebabkan otak dan fungsinya tetap utuh seperti distrofi otot progresif.
Pendonornya adalah pasien muda yang mengalami mati otak dengan organ sehat dengan tinggi yang sama, yang cocok untuk imunotipe dan disaring untuk gangguan sistemik apa pun.
Tujuannya adalah untuk melakukan pengangkatan kepala dari penerima dan pemisahan tubuh dari donor, masing-masing, dan menyelesaikan transplantasi kepala penerima ke tubuh donor yang sehat.
Dengan dua tim bedah yang berkerja secara bersamaan, satu pada pemisahan kepala pasien penerima dan satu tim lagi untuk memisahkan kepala dan tubuh pendonor.
Kepala penerima dipisahkan, dikeluarkan darahnya dan disiram dengan Ringer laktat dingin (untuk menghindari komplikasi koagulasi), kemudian dipindahkan ke tubuh donor yang tidak berkepala yang dihubungkan dengan tabung yang menghubungkannya ke sirkulasi donor, dalam waktu satu jam.
Stabilisasi tulang belakang anterior dilakukan dengan pelat anterior.
Segera setelah itu, kedua sumsum tulang belakang disatukan dengan lem kitosan-PEG (polietilen glikol) yang memiliki kemampuan untuk segera menyusun kembali membran sel yang rusak akibat cedera mekanis.
Secara bersamaan, PEG diinfus ke dalam sirkulasi darah donor untuk menawarkan sejumlah besar polietilen glikol ke dalam ruang intravaskular juga dan meningkatkan fusi neuronal yang lebih baik. Jahitan di sekitar sumsum yang disambung diterapkan. Suntikan iv PEG kedua diberikan setelah 4-6 jam.
Akhirnya, semua otot dihubungkan dan kulit dijahit. Penerima kemudian dibawa ke unit perawatan intensif dengan penyangga ortosis servikotoraks.
Kendala Setelah Transplantasi
Setelah operasi, pasien akan dipantau di unit perawatan intensif dengan dukungan ventilasi dan sirkulasi.
Stabilitas kepala dan tulang belakang merupakan perhatian utama untuk memastikan keberhasilan fusi sumsum tulang belakang. Jika memungkinkan, rehabilitasi intensif untuk quadriplegia harus dimulai.
Masalah utama lainnya adalah adanya syok neurogenik akibat perubahan fungsi saraf simpatik dan vagus.
Ileus paralitik dan kandung kemih neurogenik merupakan komplikasi pascaoperasi yang mungkin terjadi.
Dukungan ventilasi jangka panjang mungkin diperlukan karena fungsi otot diafragma mungkin bermasalah untuk jangka waktu yang tidak pasti.
Setelah fase awal, protokol rehabilitasi cedera sumsum tulang belakang harus dilakukan, idealnya di lingkungan khusus unit trauma sumsum tulang belakang.
Kemungkinan adanya trakeostomi dapat menyebabkan masalah dalam rehabilitasi dan kualitas hidup.
Fungsi pita suara dapat menimbulkan masalah yang memengaruhi komunikasi dan harga diri.
Selain itu, timbulnya nyeri sentral sumsum tulang belakang merupakan komplikasi pascaoperasi yang mungkin terjadi karena adanya potongan melintang traktus spinotalamikus
Kesimpulan
Seperti itulah gambaran transplantasi kepala menurut kajian medis Canavero dkk.
Namun, komunitas medis masih belum menyetujui protokol bedah seperti itu.
Hal ini dikarenakan masih terbatasnya penelitian mendalam terkait hal tersebut.
Selain itu, transplantasi membutuhkan situasi yang tepat, biaya operasional yang besar, serta etika di masyarakat. Juga agama tentunya. (rm-107)
Editor : Gunawan.