Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Tradisi Tantara Lawung Mandau Talawang Pertahankan Budaya Dayak

Farid • Selasa, 14 Desember 2021 | 10:44 WIB
RITUAL : Pasukan khusus (Passus) Tantara Lawung Mandau Talawang menggelar ritual di Pantai Kalap Desa Ujung Pandaran, Teluk Sampit, Kotawaringin Timur. IST/RADAR SAMPIT
RITUAL : Pasukan khusus (Passus) Tantara Lawung Mandau Talawang menggelar ritual di Pantai Kalap Desa Ujung Pandaran, Teluk Sampit, Kotawaringin Timur. IST/RADAR SAMPIT
Minta Izin Leluhur Jaga Kalteng dengan Ritual Sangiang Hiyang

Menghentikan aktivitas duniawi sesaat menjadi rutinitas Tantara Lawung Mandau Talawang demi adat budaya. Menjaga Bumi Tambun Bungai dari perpecahan, pasukan suku Dayak ini selalu gelar ritual, berkomunikasi dengan leluhur.

FARID M, Sampit

SIANG ITU, matahari sangat terik dan pantulan hawa kemilau pasir pantai tak menyurutkan semangat Tantara Lawung Mandau Talawang untuk mengadakan ritual.

Tanpa berbalut pakaian dan hanya mengenakan celana sambil menenteng Mandau, senjata khas suku Dayak. Pasukan Khusus (Passus) ini menggelar ritual di Pantai Kalap Desa Ujung Pandaran, Teluk Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Teriakan pasukan yang tergabung dalam Gerakan Mandau Talawang Pancasila Sakti (GMTPS) ini saling bersahutan dengan riuh ombak yang menggulung pasir pantai.

Mereka unjuk kekuatan dengan memperagakan atraksi bela diri khas Dayak dan ritual Sangiang Hiyang atau berkomunikasi dengan para leluhur.

“Kami komunikasi dengan leluhur dan meminta izin, pasukan kami bisa menjadi pemersatu, bukan pemecah belah suku Dayak, karena ini sesuai dengan cita-cita para leluhur,” ujar Panglima GMTPS Kotim Ricko Kristolelu.

Ricko menjelaskan, kegiatan mereka bertujuan mengingatkan kembali generasi muda agar bisa melestarikan adat, budaya dan seni bela diri asli Kalimantan supaya tidak tergerus oleh zaman.

“Passus GMTPS ini sudah dikenal jauh sebelum Kalteng terbentuk. Kalteng bukan hasil hadiah ataupun pemberian cuma-cuma tapi terbentuk dengan perjuangan berdarah-darah oleh para pendahulu, dan tugas kami saat ini hanya perlu menjaga, melestarikan adat dan budaya ini,” jelasnya.

Photo
Photo


GMTPS ini merupakan organisasi militan yang dibentuk, bermula tahun 1953 hingga puncaknya tahun 1956 di bawah pimpinan tokoh Dayak Barito bernama Christian Mandolin Simbar atau akrab dipanggil Uria Mapas.

Christian Mandolin Simbar adalah satu tokoh yang mendesak pemerintah pusat untuk merealisasikan keberadaan Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) atau yang berjuluk Bumi Tambun Bungai.

“Kenapa budaya luar semakin berpengaruh di Kalteng, khususnya Kotim, karena kita sendiri yang sudah semakin tidak peduli dan melupakan adat budaya,” imbuhnya.

Panglima GMTPS ini berharap pemerintah daerah bisa memprioritaskan pengembangan bela diri khas Kalteng yang merupakan warisan leluhur dan memberi ruang lebih banyak lagi di kegiatan-kegiatan.

“Passus Tantara Lawung Mandau Talawang siap mengayomi dan menjadi garda terdepan dalam mempertahankan Kalteng, khususnya Kotim dari gangguan pihak luar yang mencoba memecah-belah keharmonisan masyarakat,” tegasnya. (***)

  Editor : Farid Mahliyannor