Radar Utama Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno Kalteng

Brain Fog, Gangguan Mental yang Kian Marak: Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Usay Nor Rahmad • Sabtu, 19 Juli 2025 | 07:10 WIB

Ilustrasi kabut otak . (Dibuat dengan akal imitasi)
Ilustrasi kabut otak . (Dibuat dengan akal imitasi)

Radarsampit.jawapos.com – Pernah merasa pikiran mendadak “berkabut”? Sulit konsentrasi, mudah lupa, hingga berpikir terasa lambat?

Mungkin Anda sedang mengalami brain fog atau kabut otak, sebuah kondisi yang kian banyak dialami masyarakat urban, terutama di tengah tekanan hidup modern.

Meski bukan istilah medis resmi, brain fog bukan sekadar kelelahan biasa. Para ahli menyebutnya sebagai gejala gangguan kognitif ringan yang membuat otak terasa tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Orang yang mengalaminya sering mengeluh sulit fokus, bingung, pelupa, hingga merasa pikirannya melambat.

“Ini seperti berjalan di dalam lumpur secara mental,” tulis salah satu peneliti dalam jurnal Frontiers in Human Neuroscience.

Dalam survei terhadap lebih dari 25 ribu orang dewasa, mayoritas mengaku pernah mengalami gejala tersebut, terutama setelah sakit atau dalam masa stres berat.

Banyak Faktor Pemicu

Brain fog bisa dipicu oleh banyak hal. Salah satu penyebab utama adalah infeksi virus, termasuk COVID-19. Istilah long COVID kini lekat dengan gangguan kognitif seperti ini.

Namun, penyebabnya tidak berhenti di situ. Kondisi kronis seperti lupus, diabetes, hingga efek samping kemoterapi juga berperan besar.

Faktor psikologis pun tak kalah penting. Depresi, kecemasan, trauma, dan stres berat bisa mengganggu kerja otak.

Bahkan kondisi seperti ADHD dan bipolar disebut-sebut memperparah gejala kabut otak.

Selain itu, kualitas tidur sangat berpengaruh. Kurang tidur atau gangguan seperti sleep apnea dapat menyebabkan otak kekurangan oksigen, sehingga menurunkan fungsi kognitif. T

ak hanya itu, pola makan yang buruk terlalu banyak gula, minim nutrisi juga ikut andil. Kekurangan vitamin B kompleks, zat besi, hingga asam lemak omega-3 diketahui berdampak pada konsentrasi.

Bagi perempuan, perubahan hormon juga bisa menjadi pemicu. Banyak yang melaporkan mengalami brain fog selama masa PMS, kehamilan, atau menopause.

Tak kalah penting, kondisi kesehatan usus kini mulai dilihat sebagai faktor signifikan.

Ketidakseimbangan mikroba usus bisa memicu peradangan sistemik yang berdampak hingga ke otak.

Bisa Pulih, Asal Tahu Caranya

Kabar baiknya, brain fog bisa diatasi. Gaya hidup sehat menjadi kunci utama. Istirahat cukup, mengelola stres, serta menjaga pola makan seimbang adalah langkah pertama yang harus dilakukan.

Tidur malam minimal tujuh jam, rutin bergerak atau berolahraga ringan, dan cukup minum air bisa membantu otak kembali “jernih”. Di sisi lain, meditasi, teknik pernapasan dalam, serta membatasi paparan media sosial bisa membantu meredakan tekanan psikologis.

Para ahli juga menyarankan untuk menjadwalkan pekerjaan berat di pagi hari saat otak masih segar.

Mengurangi multitasking, serta memberi jeda di antara pekerjaan, turut membantu meringankan beban mental.

Jika perlu, konsultasi dengan dokter atau ahli gizi bisa menjadi solusi. Tes darah sederhana bisa mendeteksi kekurangan vitamin atau hormon tertentu. Dalam beberapa kasus, terapi tambahan seperti neurofeedback atau suplemen khusus mungkin dibutuhkan.

Jangan Diabaikan

Meski terkesan sepele, brain fog bisa menjadi sinyal awal gangguan yang lebih serius. Bila kondisi ini berlangsung lebih dari beberapa minggu, atau mengganggu kehidupan sehari-hari, segera temui profesional medis.

“Jangan tunggu sampai aktivitas terganggu. Otak perlu dirawat, sama seperti tubuh,” kata Dr. Uma Naidoo, psikiater nutrisi dari Harvard Medical School, dikutip dari Experiencelife

Di tengah kesibukan dan tekanan hidup saat ini, menjaga kejernihan pikiran adalah bentuk perawatan diri yang tak kalah penting.

Jangan abaikan sinyal dari tubuh Anda karena pikiran yang sehat, adalah awal dari hidup yang produktif dan bahagia. (*)

Editor : Slamet Harmoko
#gangguan mental #gejala #brain fog