
Yang Terhormat, Bupati Kotawaringin Timur
Bapak H. Halikinnor di Sampit
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Bapak Bupatiku. Sebelumnya izinkan saya untuk memperkenalkan diri, nama saya Arif Rahmat Hidayat, siswa kelas tujuh dari SMP Negeri 1 Sampit. Dalam surat ini, saya ingin menyampaikan tentang Bahasa Dayak Sampit.
Saya ingin menceritakan pengalaman waktu mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tahun 2025. Waktu itu, saya membawakan dongeng berbahasa Dayak Sampit di tingkat Provinsi Kalimantan Tengah. Alhamdulillah saya meraih penghargaan "Ekspresi Budaya Lokal Terbaik". Tapi Bapak, saya merasa cukup kesulitan saat mencari penerjemah Bahasa Dayak Sampit di Kota Sampit. Bahkan saya sampai mencarinya hingga ke Kota Besi. Dari pengalaman saya, mengapa Bahasa Dayak Sampit penggunanya cukup sulit untuk ditemukan?
Inspiratorku, Bahasa Dayak Sampit ini sudah hampir punah, karena penggunanya sedikit, apalagi dari anak muda seperti kami jarang ada yang bisa Bahasa Dayak Sampit. Coba Bapak bayangkan, bagaimana jika Bahasa Dayak Sampit ini punah, dan anak muda seperti kami tidak ada yang bisa menggunakan Bahasa Dayak Sampit sama sekali? Sungguh sayang sekali jika identitas daerah kita sendiri punah dan tidak ada yang melestarikannya.
Tapi Bapak, seperti yang disampaikan ibu penerjemah naskah saya dari Kota Besi, sebelumnya sempat diadakan pelatihan antar guru dalam rangka upaya memperkenalkan Bahasa Dayak Sampit, salah satunya dalam bentuk eksibisi Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI). Tapi, pada saat lomba, bahasa yang diutamakan adalah Bahasa Dayak Ngaju. Namun sosialisasi pelaksanaan FTBI ini, tidak sampai ke daerah Kota Besi terutama daerah pinggir sungai, karena mereka tidak mendapatkan informasi. Padahal mereka anak muda di Kota Besi memiliki potensi dalam pelestarian Bahasa Dayak Sampit.
Pimpinanku, Sekarang kebanyakan pengguna Bahasa Dayak Sampit adalah orang tua, sedangkan masih banyak anak muda yang belum mengetahui Bahasa Dayak Sampit. Di sini, orang tua juga mempunyai peran untuk mengajarkan kepada anak-anaknya agar bisa berbahasa Dayak Sampit.
Selain itu, perlu diadakan lomba-lomba dan kegiatan berbahasa Dayak Sampit untuk pelajar, yang sifatnya merata. Sehingga berkembang potensi anak muda dari kota Sampit ke pinggir sungai, dan daerah lain. Tidak harus selalu storytelling maupun speech Bahasa Inggris. Saran lainnya, bisa menerapkan Bahasa Dayak Sampit sebagai salah satu bahasa dalam aktivitas petugas informasi pada setiap waktu tertentu di sekolah. Misal saat waktu istirahat pertama, ishoma, dan pulang sekolah. Sehingga anak muda dapat mengenali Bahasa Dayak Sampit.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





