Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Dua Karhutla Sehari di Sampit, Alarm Dini Musim Kering Mulai Terasa

Rado. • Kamis, 26 Maret 2026 | 12:37 WIB

Kebakaran lahan hingga Rabu malam (25/3 /2026) di wilayah Desa Bengkuang Makmur, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, belum dapat diatasi secara keseluruhan. (BPBD Kotim)
Kebakaran lahan hingga Rabu malam (25/3 /2026) di wilayah Desa Bengkuang Makmur, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, belum dapat diatasi secara keseluruhan. (BPBD Kotim)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai menunjukkan peningkatan.

Dalam waktu kurang dari sehari, dua titik kebakaran muncul di wilayah Sampit, Rabu, menjadi sinyal awal masuknya fase rawan musim kering.

Berkurangnya intensitas hujan dalam beberapa pekan terakhir menciptakan kondisi yang memudahkan api cepat menyebar, terutama di lahan gambut yang sangat rentan terbakar.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menegaskan pihaknya harus bergerak cepat setiap menerima laporan untuk mencegah kebakaran meluas.

“Begitu ada informasi, kami langsung turun ke lokasi. Kalau terlambat sedikit saja, api bisa cepat membesar,” ujarnya.

Kebakaran pertama terjadi di Jalan Ir Soekarno, Kelurahan Baamang Tengah. Lokasi yang relatif mudah dijangkau memungkinkan tim BPBD yang berjumlah tujuh personel segera melakukan pemadaman menggunakan mobil tangki air.

Meski berhasil dikendalikan, lahan seluas sekitar 1,08 hektare yang terbakar—didominasi semak belukar di atas gambut—menjadi indikasi bahwa kondisi lahan sudah cukup kering dan mudah tersulut api.

Belum selesai penanganan di lokasi pertama, petugas kembali menerima laporan kebakaran kedua di Desa Bengkuang Makmur, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

Berbeda dengan lokasi sebelumnya, titik api kedua berada di area yang sulit dijangkau. Petugas harus menempuh jalur desa sejauh kurang lebih 4 kilometer dari Jalan HM Arsyad dengan kondisi medan terbatas.

Hingga malam hari, proses pemadaman masih berlangsung. Minimnya penerangan serta karakteristik lahan gambut yang dapat menyimpan bara di bawah permukaan membuat upaya pemadaman menjadi lebih berisiko dan memakan waktu.

“Kondisi di lapangan cukup gelap. Kami harus ekstra hati-hati karena api di lahan gambut bisa menyala di bawah tanah,” tambah Multazam.

Ia menegaskan, kemunculan dua titik karhutla dalam satu hari bukan sekadar insiden biasa, melainkan peringatan dini yang tidak boleh diabaikan. Jika tren ini terus berlanjut tanpa langkah pencegahan yang serius, kebakaran berpotensi meluas dan sulit dikendalikan.

BPBD mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar, terutama di tengah kondisi cuaca yang mulai mengering.

“Ini sudah masuk fase rawan. Kalau masih ada yang membakar lahan, risikonya bisa menjadi kebakaran besar,” tegasnya. (ang)

 
 
 
Editor : Slamet Harmoko
#kebakaran hutan #sampit #kotim #kalteng #kebakaran lahan