SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Laju inflasi di Kota Sampit pada Februari 2026 tercatat cukup tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kotawaringin Timur mencatat inflasi year-on-year (y-on-y) mencapai 5,15 persen, tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Inflasi tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang meningkat dari 104,41 pada Februari 2025 menjadi 109,79 pada Februari 2026.
Selain itu, inflasi month-to-month (m-to-m) pada Februari 2026 tercatat sebesar 0,61 persen, sedangkan inflasi year-to-date (y-to-d) mencapai 1,03 persen.
Kepala BPS Kabupaten Kotawaringin Timur, Eddy Surahman, mengatakan kenaikan harga terjadi pada sebagian besar kelompok pengeluaran masyarakat.
“Secara umum inflasi Februari 2026 di Sampit terjadi karena kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran, terutama kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya,” ujarnya, Jumat (6/3/2026).
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga tercatat mengalami inflasi paling tinggi, yakni 16,91 persen.
Sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatat kenaikan signifikan sebesar 15,80 persen.
Menurut Eddy, beberapa komoditas menjadi penyumbang utama kenaikan harga tersebut.
“Komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi antara lain tarif listrik, emas perhiasan, daging ayam ras, beras, serta beberapa komoditas makanan olahan seperti ikan bakar dan nasi dengan lauk,” jelasnya.
Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga memberikan kontribusi cukup besar terhadap inflasi dengan tingkat kenaikan 3,71 persen.
Komoditas seperti ayam ras, beras, air kemasan, dan sejumlah komoditas perikanan tercatat menjadi pendorong utama kenaikan harga pada kelompok ini.
Meski sebagian besar kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga, beberapa sektor justru mencatat penurunan indeks atau deflasi.
Salah satunya adalah kelompok transportasi yang mengalami deflasi sebesar 0,65 persen, terutama dipengaruhi turunnya harga bensin.
“Di sisi lain, kelompok transportasi mengalami deflasi yang dipengaruhi oleh penurunan harga bensin,” tambah Eddy.
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, inflasi Sampit pada Februari 2026 menunjukkan peningkatan cukup tajam.
Pada Februari 2025, Sampit bahkan sempat mengalami deflasi sebesar 0,11 persen, sementara pada Februari 2024 inflasi tercatat 2,14 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga pada awal tahun 2026 mulai meningkat, terutama dipicu kenaikan tarif listrik, harga emas, serta sejumlah komoditas pangan yang menjadi kebutuhan masyarakat sehari-hari. (oes)
Editor : Slamet Harmoko