KATINGAN, radarsampit.jawapos.com – Warga Dusun Rangan Seha, Desa Galinggang, Kecamatan Kamipang, Kabupaten Katingan, Kalteng mengeluhkan kerusakan lingkungan di areal Sei Bengkui akibat maraknya penambangan emas ilegal.
Aktivitas tersebut dituding menjadi penyebab utama menurunnya hasil tangkapan ikan para nelayan setempat. Air sungai yang dulunya jernih kini berubah keruh.
Busran (70), nelayan setempat, mengaku kondisi Sei Bengkui saat ini sudah jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu.
Menurutnya, kawasan itu dulu menjadi primadona nelayan karena kaya akan ikan air tawar.
“Untuk daerah Sei Bengkui kondisinya sudah rusak parah. Nelayan sudah tidak lagi bisa memasang jaring di tempat itu,” ujarnya, Senin (2/3/2026).
Ia menambahkan, kekeruhan air membuat ikan menjauh dan sulit berkembang biak. Akibatnya, hasil tangkapan menurun drastis.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada pendapatan warga yang menggantungkan hidup dari sungai.
Busran berharap pemerintah daerah segera turun tangan melakukan penertiban terhadap aktivitas tambang emas ilegal yang masih berlangsung. “Harapan kami, penambang emas ilegal di Sei Bengkui dan sekitarnya bisa ditutup,” tegasnya.
Keluhan serupa disampaikan Ihan (56), yang juga nelayan setempat. Ia mengatakan penghasilan sebagai nelayan kini tak lagi bisa diandalkan akibat kerusakan lingkungan yang semakin parah.
“Penambangan emas masih terus terjadi di sini, bahkan dulu menggunakan excavator,” katanya.
Menurut Ihan, jika tidak segera dihentikan, dampaknya bukan hanya pada nelayan hari ini, tetapi juga generasi mendatang yang akan kehilangan sumber mata pencaharian.
Sementara itu, Kepala Desa Galinggang, Sarkawi, saat dikonfirmasi menyatakan pihaknya telah masif menggelar rapat dan melakukan sosialisasi kepada warga agar tidak melakukan penambangan di lokasi nelayan.
“Kami sudah berkali-kali memberi sosialisasi agar jangan menambang di lokasi nelayan. Namun kelihatannya masih ada saja yang bekerja,” ujarnya singkat.
Untuk diketahui, hingga kini, aktivitas penambangan emas ilegal di Sei Bengkui disebut masih berlangsung secara sporadis.
Warga berharap ada langkah tegas dari aparat dan pemerintah daerah sebelum kerusakan sungai semakin tak terkendali. (ktr-3/sla)
Editor : Slamet Harmoko