Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Masih 6 Hari Jelang Ramadan, Harga Bawang Merah dan Telur Ayam di Sampit sudah Naik

Heny Pusnita • Jumat, 13 Februari 2026 | 22:10 WIB
Wakil Bupati Irawati saat inspeksi harga bahan pokok dan bahan makanan di PPM Sampit, Jumat (13/2).
Wakil Bupati Irawati saat inspeksi harga bahan pokok dan bahan makanan di PPM Sampit, Jumat (13/2).

​SAMPIT,radarsampitjawapos.com- Ada trend kenaikan harga pada beberapa komoditas bahan pokok di pasar tradisional di Sampit, mendekati datangnya bulan Ramadan serta perayaan Imlek. Hal itu diketahui saat Wakil Bupati Kotim Irawati, didampingi jajaran Forkopimda, Bapanas, serta Badan Pusat Statistik (BPS) menggelar inspeksi mendadak di Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit, Jumat (13/2).

Kenaikan paling signifikan terlihat pada komoditas bawang merah dan telur ayam ras.

"Terpantau harga mulai naik, seperti bawang merah naik dari harga normal Rp35.000 menjadi Rp40.000 per kilogram. Sementara telur ayam ras juga mengalami kenaikan cukup tinggi, dari kisaran Rp58.000 menjadi Rp64.000, serta dari Rp60.000 menjadi Rp66.000 per rak," ujar Irawati.

Adapun untuk harga daging ayam ras, pada pantauan terakhir masih berada di angka Rp46.000 per kilogram.

​Menurut Irawati, kenaikan harga ini dipicu oleh beberapa faktor teknis. Di antaranya adalah biaya operasional pedagang dan kondisi cuaca di daerah asal pasokan. Terbatasnya jumlah distributor atau pemasok di wilayah Kotim juga diduga menjadi penyebab minimnya persaingan harga di pasar.

​"Salah satu alasannya karena pemasok atau distributornya hanya satu orang, sehingga tidak ada saingan harga. Selain itu, kondisi banjir di Pulau Jawa berimbas pada berkurangnya pasokan barang ke luar daerah, karena fokus memenuhi kebutuhan di Jawa saja," terangnya.

​Meski terjadi kenaikan harga pada beberapa bahan pokok, Irawati menilai daya beli masyarakat di Kotim masih cenderung stabil. Ia menegaskan, hal terpenting adalah ketersediaan barang di pasar tetap terjaga.

​"Masyarakat Kotim kalau kebutuhan sembako, kenaikan satu hingga dua ribu rupiah saya rasa masih bisa terjangkau. Yang penting barangnya tersedia. Saat ini, angka inflasi di Kotim juga masih sangat aman dan terkendali di posisi 0,41%, masih di bawah standar nasional,"  imbuh Irawati.

Ia menambahkan, Pemkab Kotim juga melakukan langkah antisipasi, untuk menjaga stabilitas harga selama Ramadan, dengan melaksanakan rapat koordinasi.

"Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotim juga menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) sebagai langkah untuk mengimbangi harga pasar. Pemerintah juga mengadakan rapat koordinasi menghadapi Ramadan hingga Lebaran. Kita berharap kebutuhan masyarakat Kotim terpenuhi dan tidak sampai memicu lonjakan inflasi," pungkasnya.

Sementara itu, seorang pedagang telur di PPM mengungkapkan, kenaikan harga terjadi secara bertahap. Sebelumnya harga per ikat berada di angka Rp310.000, kini melonjak menjadi Rp320.000.

​"Naik sejak empat hari yang lalu. Kemarin itu harganya Rp310.000, sekarang sudah Rp320.000 per ikatnya," ujar Roma, salah satu pedagang telur di PPM Sampit.

​Meskipun harga sedang merangkak naik, pedagang ini merasa daya beli masyarakat saat ini masih cenderung stabil. Belum terlihat adanya aksi borong atau penimbunan stok oleh konsumen untuk persediaan Ramadan.

​"Pembeli masih stabil saja, tidak ada yang sengaja menyetok untuk Ramadan. Namun, informasinya harga masih ada kemungkinan untuk naik lagi ke depannya," pungkas Roma. (hgn/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
#harga telur ayam #ppm sampit #pasar tradisional #bawang merah #sampit #kenaikan harga #wakil bupati kotim irawati