KUALA KURUN, radarsampit.jawapos.com – Tewasnya terduga maling, DB (34), di pintu rumah warga di Desa Tuyun, Kecamatan Mihing Raya, Kabupaten Gunung Mas, masih menyisakan misteri.
Kepala korban yang terjepit pintu hingga membuatnya hilang nyawa, dinilai di luar nalar dan logika manusia.
Aparat kepolisian setempat yang telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) pun belum bisa menjelaskan penyebabnya.
Satu-satunya penjelasan secara ilmiah datang dari pemeriksaan medis terhadap jasad korban. Yakni, diduga tewas akibat sirkulasi udara ke paru-paru dan otak pada bagian kepala yang tidak lancar.
Hal itu membuatnya kehabisan oksigen.Adapun penyebabnya terjepit belum ada jawaban.
Hanya saja, dari jenazah korban, bekas jepitan pintu terlihat sangat jelas di bagian leher dan bawah dagu.
Satu-satunya penjelasan masuk akal, pintu itu gagal fungsi saat korban berupaya masuk.
Nihilnya jawaban menurut akal sehat, membuat peristiwa itu dikaitkan dengan hal mistis, yakni ilmu gaib yang sengaja dipasang agar rumah tersebut aman dari aksi kejahatan.
Hal demikian umum dilakukan di kalangan masyarakat Dayak.
”Saya menduga korban terkena pakihang hapit. Itu diperkuat dengan adanya simbol pakihang yang tergambar di tembok," ucap Ketua Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan (MD-AHK) Kabupaten Gumas Naro, Jumat (13/9).
Dalam masyarakat Dayak, kata dia, biasanya pakihang hapit dipasang di dalam rumah. Sebagai pelindung dari siapa pun yang memiliki niat untuk berbuat jahat, seperti mencuri.
”Biasanya ada tanda atau simbol pada rumah yang dipasang pakihang hapit," ujarnya.
Dalam pemasangan pakihang hapit, ada mantra diucapkan yang bersamaan dengan menggambar simbol pada dinding. Pakihang hapit ini akan terus berlaku sampai pemiliknya datang untuk menetralisir.
”Untuk memasang pakihang hapit, ada ritual khusus yang harus dijalani bagi yang menginginkannya," kata dia.
Dia mengatakan, pakihang memiliki bermacam jenis seperti pakihang hapit, pakihang leket atau lengket, dan pakihang binatang.
”Ada juga pakihang yang membuat perut menjadi kembung dan membesar hingga akhirnya pecah ketika memakan buah atau makanan hasil curian,” jelasnya. (arm/ign)
Editor : Slamet Harmoko