
PALANGKA RAYA ,radarsampit.jawapos.com-Dampak kemarau ekstrem yang melanda Kalimantan Tengah tidak hanya terlihat dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap. Menurunnya debit air sungai juga memicu pendangkalan di sejumlah aliran sungai di Kota Palangka Raya.
Kondisi tersebut sekaligus menimbulkan ancaman baru bagi masyarakat. Hamparan pasir dan lumpur yang muncul di tengah sungai kerap dimanfaatkan warga sebagai lokasi rekreasi dadakan. Padahal, kontur dasar sungai di sekitar kawasan tersebut dapat berubah secara ekstrem dan menyimpan potensi kecelakaan air.
Kondisi ini terjadi di tengah musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang. Berdasarkan informasi BMKG, musim kemarau di wilayah tersebut ditandai curah hujan yang cenderung berada di bawah kondisi normal atau lebih kering. Awal musim kemarau diperkirakan berlangsung sejak akhir Mei, dengan periode puncak pada Agustus hingga Oktober. Potensi fenomena El Nino juga menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai
Manajer Pusdalops PB Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya Balap Sipet mengatakan, hampir seluruh sungai di wilayah Palangka Raya mengalami pendangkalan saat debit air turun pada musim kemarau.
Dua sungai utama yang melintasi wilayah kota, yakni Sungai Kahayan dan Sungai Rungan, menjadi kawasan yang cukup terlihat mengalami pendangkalan.
“Sungai Kahayan meliputi kawasan bantaran seperti Pahandut, Flamboyan, hingga Dermaga Rambang. Sungai Rungan salah satu titik yang cukup mencolok ada di kawasan Kelurahan Petuk Katimpun,” kata Balap kepada Radar Sampit, Rabu (19/8/2026).
Menurut dia, pendangkalan yang terjadi tergolong cukup parah dan mulai berdampak terhadap aktivitas masyarakat di perairan. Salah satu fenomena yang mudah terlihat adalah munculnya “gosong” atau hamparan pasir di tengah maupun tepian sungai.
Gosong tersebut terbentuk akibat turunnya debit air yang membuat pasir dan endapan lumpur muncul ke permukaan. Di sejumlah lokasi, hamparan tersebut bahkan membentuk daratan sementara yang cukup luas.
Kondisi itu turut mengganggu aktivitas transportasi air. Perahu maupun kelotok harus lebih berhati-hati dan terkadang mencari alur sungai yang lebih dalam untuk menghindari kandas.
Selain itu, yang menjadi persoalan, permukaan sungai yang terlihat dangkal tidak selalu menunjukkan kondisi sebenarnya. Di sekitar gosong, dasar sungai bisa berubah curam hanya dalam jarak beberapa langkah.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





