SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Misteri kematian buaya muara kembali jadi sorotan setelah bangkainya ditemukan warga di sejumlah titik aliran sungai.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit mengaku kesulitan melakukan penyelidikan karena kondisi bangkai yang terus berpindah akibat arus sungai.
Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, mengatakan bangkai buaya bisa hanyut ke hulu maupun ke hilir lantaran dipengaruhi pasang surut air laut.
“Sulit menemukan bangkai buayanya. Kalau bisa, kami minta tolong dengan warga atau nelayan yang melihat, supaya bangkai diikat ke pohon di sekitar pepohonan yang jauh dari permukiman warga,” jelasnya, Selasa (3/9/2025).
Namun, hal itu tidak mudah. Bangkai buaya biasanya sudah berbau sangat busuk dan dipenuhi belatung, sehingga warga enggan mendekat. Padahal, bangkai harus diperiksa untuk memastikan penyebab kematian.
“Itu kita belum tahu penyebabnya. Kalau karena benda tajam, bisa terlihat ada bekas tombak atau parang. Tapi kalau karena racun, harus ambil sampel organ dalam lalu dikirim ke laboratorium. Itu agak repot,” tambah Muriansyah.
Sebelumnya, bangkai buaya pertama kali terlihat warga hanyut di Desa Kenyala. Tak lama, bangkai itu terpantau bergerak ke Desa Simpur, lalu ke Desa Rasau Tumbuh dalam kondisi membusuk dan bengkak.
Temuan terbaru, seekor buaya muara sepanjang sekitar 4 meter juga ditemukan mati di pinggir sungai Desa Palangan.
BKSDA berharap kerja sama warga untuk membantu mengamankan temuan bangkai buaya agar penyelidikan bisa dilakukan lebih cepat.
“Kami sangat berharap peran aktif masyarakat. Semakin cepat bangkai diamankan, semakin mudah bagi kami mencari tahu penyebab kematiannya,” tandasnya. (oes)
Editor : Slamet Harmoko