PANGKALAN BUN, Radarsampit.jawapos.com - Sepuluh hektare padang savana di perbatasan Desa Teluk Bogam dan Desa Keraya, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) terbakar.
Belum diketahui penyebab terjadinya kebakaran hutan di pesisir Kumai itu, akses yang sulit ditempuh oleh Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Masyarakat Peduli Api (MPA) serta Barisan Relawan Kebakaran (Balakar) Huma Singgah Itah Mendawai membuat api semakin meluas.
Mirisnya, BPBD juga disibukkan dengan bencana banjir dan tanah longsor yang merendam sebagian besar wilayah di ibukota kecamatan yang berada di tepi Sungai Kumai yang terhubung langsung dengan laut Jawa itu.
Plt Kabid Logistik dan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Barat Andang Santana mengatakan, lokasi kebakaran hutan tersebut merupakan titik langganan terjadinya Karhutla, sulitnya medan dan terbatasnya akses menuju titik api menjadi kendala yang harus dihadapi oleh personel.
"Unit water suplai kita tidak bisa menjangkau titik api, personel harus menjinjing mesin matrik mendekat titik api sejauh 3 kilometer, hal ini diperparah sumber air, sehingga tim harus memperdalam parit galian dan menabat (membendung) airnya," terangnya, Jumat (12/9/2025).
Ia mengungkapkan, dengan kendala yang dihadapi, dari 10 hektar lahan yang terbakar, personel BPBD berhasil memadamkan 2 hektar sekaligus memutus laju api sehingga tidak semakin meluas.
Menurutnya, api yang menuju desa Teluk Bogam telah dapat di padamkan, sementara api yang menuju hutan Desa Keraya dalam kondisi masih berasap, sehingga memerlukan pemantauan untuk memastikan api di lokasi benar-benar padam.
"Padahal di ibukota Kecamatan Kumai cuaca hujan dan menimbulkan banjir, tetapi di pesisirnya justru cuaca panas dan muncul Karhutla, api sudah berhasil dipadamkan, namun masih butuh pemantauan lanjutan," pungkasnya. (tyo/fm)
Editor : Farid Mahliyannor