Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Kasus DBD di Lamandau Meningkat Selama Libur Lebaran

Ria Mekar Anggreany • Jumat, 27 Maret 2026 | 04:20 WIB

 

WASPADA: Munculnya kasus DBD saat ini di Kelurahan Mendawai membuat petugas dari Puskesmas Sukamara melakukan pengasapan. FOTO: FAUZIANUR/RADAR SAMPIT
WASPADA: Munculnya kasus DBD saat ini di Kelurahan Mendawai membuat petugas dari Puskesmas Sukamara melakukan pengasapan. FOTO: FAUZIANUR/RADAR SAMPIT

NANGA BULIK, radarsampit.jawapos.com — Jumlah pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Lamandau meningkat dalam sepekan terakhir. Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama pada musim hujan yang berpotensi mempercepat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

Direktur RSUD Gusti Abdul Gani, dr. Mardoni, mengatakan hingga Kamis (26/3), tercatat 17 pasien DBD dirawat dalam satu minggu terakhir, dengan enam pasien masih menjalani perawatan. “Peningkatan jumlah pasien terjadi sejak 11 Maret,” ujarnya.

Dinas Kesehatan Kabupaten Lamandau juga telah mengeluarkan peringatan waspada DBD. Kepala Dinas Kesehatan melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2M), dr. Pippy Yulianti, mengingatkan masyarakat untuk mengenali gejala DBD, seperti demam tinggi mendadak selama 2–7 hari, nyeri kepala hebat, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, muncul bintik merah pada kulit, hingga mimisan atau gusi berdarah dalam kondisi tertentu.

Ia mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala tersebut agar mendapat penanganan yang tepat. 

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, jumlah kasus DBD sejak Januari hingga 24 Maret 2026 mencapai 51 kasus, dengan rincian Kecamatan Bulik 46 kasus, Sematu Jaya 2 kasus, Lamandau 2 kasus, dan Batang Kawa 1 kasus. Secara bulanan, tercatat 12 kasus pada Januari, 19 kasus pada Februari, dan 20 kasus pada Maret.

Meski terjadi peningkatan kasus, Dinas Kesehatan belum melakukan fogging karena keterbatasan anggaran. “Kami masih melihat kecukupan anggaran. Jika dilakukan, fogging akan diprioritaskan pada lokasi dengan kasus tinggi dan tidak dilakukan secara massal,” kata Pippy.

Ia menegaskan, fogging bukan solusi utama dalam penanganan DBD. Masyarakat diminta aktif melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas, serta langkah tambahan lainnya.

Menurutnya, kondisi cuaca yang tidak menentu—hujan lebat disusul panas berkepanjangan—memicu terbentuknya genangan air di lingkungan sekitar, seperti pada ember bekas, pot bunga, kolam tidak terpakai, dan ban bekas, yang menjadi tempat ideal perkembangbiakan jentik nyamuk.

Karena itu, masyarakat diimbau rutin membersihkan lingkungan secara kolektif, menguras dan menutup tempat penampungan air, serta menghindari gigitan nyamuk dengan menggunakan losion antinyamuk atau kelambu. (mex/yit)

 

Editor : Heru Prayitno
#lamandau #DBD