Tak ada kubah menjulang. Tak pula menara tinggi yang menandai keberadaannya. Dari luar, Langgar Annur di Jalan Merak, Kelurahan Baamang Hilir, Kecamatan Baamang, nyaris tak tampak seperti masjid, apalagi pesantren. Namun begitu melangkah masuk, denyut Ramadan terasa hidup bahkan sejak siang hari hingga menjelang subuh.
USAY NOR RAHMAD, Sampit
TEMPAT ini tampak seperti rumah biasa. Namun terasnya sengaja dibuat lebih lega, mirip seperti garasi. Setiap hari di luar Ramadan biasa digunakan untuk anak-anak mengaji Alquran. Santrinya puluhan. Berasal dari warga sekitar, adapula dari lokasi di luar kawasan itu.
Di ruang sederhana itulah, Ramadan dijalani dengan ritme yang nyaris tak putus. Salat berjemaah datang silih berganti. Salat sunah, tadarusan, hingga amaliah-amaliah kecil yang justru menjadi napas kebersamaan.
Menjelang magrib, sebagian santri sibuk menyiapkan buka puasa bersama. Ada yang menata hidangan, ada pula yang dengan cekatan membuatkan minum bagi santri dan santriwati yang masih tenggelam dalam lantunan ayat-ayat suci.
Semua itu bukan berlangsung tanpa rencana. Ustaz Badar, pengasuh Pengajian Langgar Annur, sengaja merancang kegiatan mengaji dengan pola pesantren Ramadan. Program ini konsisten dijalankan setiap bulan puasa.
Bagi para santri, Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih disiplin ibadah terutama kedekatan dengan Alquran.
Prinsip itu sejatinya berakar kuat dari teladan Rasul dan para sahabat. Dalam riwayat sahih disebutkan, setiap Ramadan Muhammad selalu didatangi Malaikat Jibril untuk menyimak bacaan Alquran beliau hingga khatam.
Bahkan pada Ramadan terakhir sebelum wafat, Alquran dikhatamkan dua kali. Sebuah isyarat kuat bahwa Ramadan adalah momentum puncak untuk membersamai Kalamullah bukan sekadar membacanya, tetapi menjadikannya rutinitas yang dijaga.
Para sahabat pun meneladani ketekunan tersebut. Abdullah bin Amr bin Ash, misalnya, dikenal sangat bersemangat dalam membaca Alquran.
Saat ingin mengkhatamkan dalam waktu singkat, Rasulullah justru mengarahkannya agar khatam dalam tujuh hari, agar bacaan tetap seimbang antara jumlah dan penghayatan. Pesannya jelas: konsistensi lebih utama daripada kecepatan.
Nilai inilah yang coba ditanamkan di Langgar Annur. Menurut Ustaz Badar, tadarusan memang harus “dipaksakan” di awal. Bukan karena santri malas, melainkan karena kebiasaan baik perlu dilatih.
“Kalau tidak dipaksa sekarang, kapan lagi?” ujarnya. Menariknya, para santri tidak keberatan. Orang tua pun mendukung penuh.
Dukungan itu juga datang langsung dari para orang tua santri. Rahmad, salah satu wali santri di Langgar Annur, mengaku bersyukur anaknya mengikuti kegiatan pesantren Ramadan tersebut.
Menurutnya, rutinitas anak saat mengikuti pesantren Ramadan lebih terarah, dibanding hanya di rumah.
“Awalnya berat, apalagi rumah jauh harus tadarus sampai malam. Tapi lama-lama anaknya sendiri yang minta. Turun kembali ke langgar apabila tidak sekolah,” ujarnya.
Ia menilai kegiatan itu bukan sekadar mengaji, tetapi melatih tanggung jawab dan kebiasaan baik. “Kalau sudah terbiasa di Ramadan, harapannya setelahnya juga tetap melekat,” tambahnya.
Bagi santri yang rumahnya dekat, aktivitas ibadah berlanjut hingga subuh. Salat berjemaah dilanjutkan dengan salat syuruk.
Wajah-wajah mengantuk terlihat, namun tak ada yang benar-benar pergi. Di langgar kecil itu, Alquran kembali dilantunkan, seakan Ramadan enggan beristirahat.
Ustaz Badar tak menampik, akan selalu ada “seleksi alam”. Tidak semua sanggup bertahan dengan ritme padat.
Namun yang istikamah, jumlahnya tetap banyak. Mereka inilah yang perlahan ditempa belajar menahan diri, mengatur waktu, dan menjaga komitmen ibadah.
Menjelang Ramadan berakhir, kegiatan pesantren Ramadan ini akan dievaluasi. Para santri dinilai: siapa yang paling aktif, paling banyak hafalan, paling istikamah tarawih, hingga konsistensi tadarus. Penilaian dilakukan untuk semua jenjang, baik santri Iqra maupun Alquran.
Di Langgar Annur, kesederhanaan justru melahirkan ketekunan. Di tempat yang nyaris tak dikenali dari luar, Ramadan dijalani dengan penuh makna sunyi dari sorotan, namun kaya pembiasaan.
Sebuah pengingat bahwa menghidupkan Alquran tak selalu butuh bangunan megah. Cukup ruang kecil, niat yang dijaga, dan istiqamah yang dirawat bersama. (***)
Editor : Slamet Harmoko