Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Studi Ilmiah Buktikan Nenek Moyang Orang Madagaskar Berasal dari Suku Banjar, Namun Berbahasa Maanyan

Gunawan. • Rabu, 14 Agustus 2024 | 18:38 WIB
Wajah orang-orang Madagaskar dan persebaran etnik di Madagaskar.
Wajah orang-orang Madagaskar dan persebaran etnik di Madagaskar.

Sesekali cobalah buka media sosial Instagram dengan ketikan kata pencari ibu kota Madagaskar, yaitu "Antananarivo".

Anda akan menemukan kemiripan wajah orang Madagaskar dan Indonesia, terutama Suku Banjar.

Dengan jarak kurang lebih 400 kilometer, secara geografis Pulau Madagaskar terpisah cukup jauh dari Benua Afrika.

Pulau yang berada di lepas pantai timur Benua Afrika ini menyimpan banyak perbedaan setelah terisolasi sekian lama.

Perbedaan tersebut mencakup flora, fauna, dan identitas masyarakat yang berbeda dari Benua Afrika kebanyakan.

Tak salah banyak pihak menyebutnya sebagai "Benua Kedelapan".

Salah satu yang cukup menarik dari Madagaskar adalah asal usul penduduknya, terlebih bagi Suku Merina.

Suku yang memiliki pengaruh kuat dalam budaya, sejarah, dan pemerintahan Madagaskar ini tidak seperti ciri fisik mayoritas ras Negro Afrika, kebanyakan malah lebih mirip orang-orang Asia Tenggara.

Seperti dilaporkan harian Science Daily, misteri asal-usul orang Madagaskar telah menginisiasi para peneliti dari Universitas Cambridge, Oxford, dan Leicester pada Tahun 2005.

Dalam hasil penelitian terungkap, orang Madagaskar memiliki kesamaan yang tinggi dari segi linguistik (bahasa) antara Bahasa Malagasi dan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia.

Penelitian lebih mendalam dilakukan oleh salah satu peneliti Indonesia sendiri, yaitu Dr Herawati Supolo Sudoyo dari Lembaga Biologi Molekul Eijkman.

Dihimpun dari berbagai sumber dan pernah dihubungi juga beberapa waktu lalu, diketahui ia bersama peneliti Selandia Baru, yaitu Murray P Cox dan sejumlah peneliti asing lainnya menelusuri jejak asal-usul orang Madagaskar melalui penelitian DNA.

Studi yang dilakukan sejak tahun 2005 tersebut, dilakukan dengan melakukan pencocokan DNA dari 2.745 sampel penduduk Indonesia yang berasal dari 12 pulau, yaitu Sumatera, Nias, Mentawai, Jawa, Bali, Sulawesi, Sumba, Flores, Lembata, Alor, Pantar, dan Timor. Dicocokkan dengan 266 sampel penduduk Madagaskar.

Sedangkan ampel DNA penduduk Madagaskar berasal dari tiga kelompok besar etnik yang dibedakan berdasarkan budaya dan tempat tinggal, yaitu Mikea (pemburu), Vezo (nelayan), dan Merina (dataran tinggi). Marka genetik yang digunakan adalah DNA mitokondria, kromosom Y.

Dikutip dari detik.com, hasil penelitian sangat menakjubkan dan hasilnya mereka menemukan bahwa populasi paling awal di Madagaskar adalah 30 wanita yang tiba pada 1.200 tahun lalu.

Sekitar 93 persen populasi awal, atau sebanyak 28 orang wanita tersebut berasal dari Indonesia, sedangkan sekitar 7 persen lainnya atau sebanyak 2 orang wanita berasal dari Afrika.

Dan semua penduduk asli Madagaskar merupakan keturunan dari 30 wanita tersebut.

Hasil studi DNA ini selaras dengan hasil penelitian linguistu yang digunakan oleh masyarakat Madagaskar, seperti yang dikutip dari jurnal Maurizio Serva dan tim yang berjudul Malagasy Dialects and the Peopling of Madagascar (2011) menyebutkan, bahasa Malagasi yang digunakan penduduk Madagaskar dekat dengan bahasa yang digunakan orang-orang Ma’anyan di daerah lembah Sungai Barito di tenggara Kalimantan. Tingkat kesamaan kosakata dasarnya juga mencapai 45 persen.

Di tahun 2016, Pradiptajati Kusuma bersama tim di Universite de Toulouse, Perancis menyusun, hasil-hasil dari penelitian seputar asal usul orang Madagaskar melalui jurnal yang berjudul ”Malagasy Genetic Ancestry Comse from an Historical Malay”.

Jika diterjemahkan, artinya adalah Keturunan Genetik Malagasi Berasal dari Sejarah Melayu.

Diungkapkan dalam jurnal tersebut, orang Madagaskar punya komposisi 68 persen gen Afrika dan 32 persen gen Asia.

Dalam sebuah wawancara dengan harian Tirto.id dijelaskan Pradiptajati, bahwa gen Afrika orang Madagaskar berasal dari suku Bantu.

Sementara itu, gen Asia yang mengisi gen orang Madagaskar berasal dari populasi suku yang punya gen campuran di Kalimantan, seperti Banjar, Ngaju, Dayak Kalimantan Selatan, Lebbo, Murut, Dusun, dan Bidayuh.

Pradiptajati merinci, 37 persen gen orang Madagaskar memuat gen orang Banjar sedangkan untuk 63 persen lainnya adalah gen suku Bantu.

Percampuran ini diperkirakannya sudah berusia lebih dari 7 abad atau terjadi sekitar abad ke -12 Masehi.

Hasil penelitian genetika ternyata secara spesifik Suku Dayak Ma'anyan cukup jauh dan lebih dekat genetikanya dengan Suku Banjar, meski secara linguistik Bahasa Malagasi lebih banyak menyerap Kosakata Maanyan.

Hanya saja, dalam periode migrasi tersebut, Kesultanan Banjar belum ada..

Dalam hipotesa Pradiptajati, perbedaan linguistik yang lebih dekat ke Maanyan namun Genetika yang lebih dekat ke Suku Banjar Pradiptajati mengungkapkan bahwa kedatuan Sriwijaya yang ada di zaman itu berperan besar dalam migrasi.

Diketahui Sriwijaya merupakan kerajaan bercorak maritim yang berpusat di wilayah Sumatera dan mayoritas beretnis melayu.

Keselarasan ini berdasarkan referensi dari Hikayat Banjar yang mengungkapkan bahwa  Sriwijaya pernah mendirikan pos dagang di Kalimantan bagian selatan.

Dalam periode sekitar abad ke-10 Masehi, Sriwijaya yang beretnis Melayu diperkirakan melakukan perkawinan dengan masyarakat Suku Dayak yang ada di Pulau Kalimantan, salah satunya subsuku Ma'anyan.

Perkiraan Pradiptajati diperkuat dari beberapa hasil penelusuran DNA Suku Banjar dengan komposisi 77 persen gen Melayu dan 23 persen Ma'anyan.

Tentunya dengan menelusuri kecocokan DNA orang Madagaskar dan beberapa etnis di Indonesia juga mengungkap asal-usul Suku Banjar itu sendiri.

Sementara itu, terkait bagaimana para moyang tersebut untuk bisa sampai ke Madagaskar, diakui Pradiptajati, meski telah mampu melacak orang Banjar sebagai pewaris gen Asia orang Madagaskar, riset genetiknya belum mampu mengungkap rute mana yang digunakan.

Dalam studi linguistik yang diungkapkan pakar lainnya, yaitu makalah Maurizio Serva dan tim diperkirakan  para moyang itu menempuh perjalanan laut dari Kalimantan dan berlabuh di pantai bagian tenggara Pulau Madagaskar.

Rute yang dilalui kemungkinan besar yaitu dari selat Sunda menuju Samudera Hindia mengikuti arus ke arah barat dan terbawa sampai ke Madagaskar.

Kemungkinan besar para wanita asal nusantara menumpang kapal dagang Sriwijaya.

Sampai sekarang belum ditemukan hasil penelitian akurat yang membuktikan cara Suku Banjar yang menjadi nenek moyang orang Madagaskar bisa sampai kesana.

Masih menjadi misteri yang mungkin terpecahkan suatu saat nanti, mengingat lautan di Samudera Hindia yang ganas dan berjarak ribuan kilometer antara Nusantara dan Madagaskar dengan teknologi di zaman itu. (rm-107)

 

 

 

 

 

Referensi:

Jurnal ilmiah :

  1. ”Malagasy Genetic Ancestry Comse from an Historical Malay”, Pradiptajati Kusuma dkk, 2016.
  2. Malagasy Dialects and the Peopling of Madagascar. Maurizio Sherva dkk, 2011 

Cerita dan Bukti Sejarah:

  1. Hikayat Banjar
  2. Kedatuan Sriwijaya

 

Kutipan wawancara:

  1. Herawati Supolo Sudoyo (detik.com)
  2. Pradiptajati Kusuma (tirto.id)
Editor : Gunawan.
#suku banjar #penelitian #madagaskar #sejarah