
SAMPIT- Kasus bullying atau perundungan kembali menodai dunia pendidikan. Perilaku itu sering kali tidak terlihat dampaknya dari luar secara langsung. Namun, ia menggerogoti pondasi mental, rasa percaya diri, dan kesehatan jiwa korbannya secara perlahan hingga akhirnya runtuh sama sekali.
Meskipun pelaku meminta maaf, bekas-bekas lipatan trauma itu akan tetap ada dan sulit hilang sepenuhnya. Bullying bisa menciptakan atmosfer yang beracun, membuat orang lain takut, hilang empati, dan merusak keharmonisan sebuah komunitas, baik di sekolah, tempat kerja hingga lingkungan sosial.
“Walaupun kami miskin, jangan bully anak saya,”Kalimat menyayat hati itu jadi permintaan Arini, orangtua pelajar perempuan korban yang menjadi perundungan, saat ditemui Rabu (21/10/2026).
Warga Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur itu mengungkapkan bahwa anak bungsunya berulang kali menjadi korban dugaan perundungan oleh teman sekolahnya.
Diungkapkan Arini, anaknya kerap menerima ejekan terkait kondisi ekonomi keluarganya. Sang anak bahkan disebutnya pernah dituduh mencuri di hadapan banyak orang. Perlakuan itu pun membuat anaknya malu, sakit hati, dan sering menangis setiap pulang sekolah.
“Anak saya sering diolok-olok, dibilang miskin dan katain tidak pernah melihat uang. Dia juga pernah dikatakan maling di tengah orang banyak. Anak saya malu karena dilihati orang-orang,” paparnya.
Menurutnya, dugaan perundungan itu dilakukan oleh seorang teman sekolah yang juga merupakan tetangga mereka. Berdasarkan cerita anaknya, teman-teman yang lain tidak ikut melakukan tindakan tersebut.
Diungkapkannya pula, perlakuan itu tidak hanya berupa ejekan verbal. Arini juga mengatakan, jok sepeda anaknya pernah sampai disobek. Karena kejadian tersebut terus berulang, anaknya yang berusia sekitar 10 tahun itu bahkan sempat tidak mau berangkat sekolah lantaran merasa sakit hati.
Arini pun mengaku telah melaporkan persoalan tersebut kepada pihak sekolah. Namun, menurut dia, perlakuan yang dialami anaknya masih berlanjut meskipun laporan telah disampaikan.
“Perundungan ini bukan hanya sekali, tetapi sudah berkali-kali. Saya sudah melaporkannya ke pihak sekolah, tetapi anak saya masih mengalami perlakuan seperti itu,” ucapnya lirih.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




