Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jahatnya Perundungan yang Mampu Ciptakan Trauma Mendalam

R
Penulis: Radar Sampit❯
Ilustrasi aksi perundungan di kalangan pelajar (dok.radarsampit/modifikasi AI)
Ilustrasi aksi perundungan di kalangan pelajar (dok.radarsampit/modifikasi AI)

Advertisement

SAMPIT- Kasus bullying atau perundungan kembali menodai dunia pendidikan. Perilaku itu sering kali tidak terlihat dampaknya dari luar secara langsung. Namun, ia menggerogoti pondasi mental, rasa percaya diri, dan kesehatan jiwa korbannya secara perlahan hingga akhirnya runtuh sama sekali.

Meskipun pelaku meminta maaf, bekas-bekas lipatan trauma itu akan tetap ada dan sulit hilang sepenuhnya. Bullying bisa menciptakan atmosfer yang beracun, membuat orang lain takut, hilang empati, dan merusak keharmonisan sebuah komunitas, baik di sekolah, tempat kerja hingga lingkungan sosial.

“Walaupun kami miskin, jangan bully anak saya,”Kalimat menyayat hati itu jadi permintaan Arini, orangtua pelajar perempuan korban yang menjadi perundungan, saat ditemui Rabu (21/10/2026).

Advertisement

Warga Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur itu mengungkapkan bahwa anak bungsunya berulang kali menjadi korban dugaan perundungan oleh teman sekolahnya.

Diungkapkan Arini, anaknya kerap menerima ejekan terkait kondisi ekonomi keluarganya. Sang anak bahkan disebutnya pernah dituduh mencuri di hadapan banyak orang. Perlakuan itu pun membuat anaknya malu, sakit hati, dan sering menangis setiap pulang sekolah.

“Anak saya sering diolok-olok, dibilang miskin dan katain tidak pernah melihat uang. Dia juga pernah dikatakan maling di tengah orang banyak. Anak saya malu karena dilihati orang-orang,” paparnya.

Advertisement

Menurutnya, dugaan perundungan itu dilakukan oleh seorang teman sekolah yang juga merupakan tetangga mereka. Berdasarkan cerita anaknya, teman-teman yang lain tidak ikut melakukan tindakan tersebut.

Diungkapkannya pula, perlakuan itu tidak hanya berupa ejekan verbal. Arini juga mengatakan, jok sepeda anaknya pernah sampai disobek. Karena kejadian tersebut terus berulang, anaknya yang berusia sekitar 10 tahun itu bahkan sempat tidak mau berangkat sekolah lantaran merasa sakit hati.

Arini pun mengaku telah melaporkan persoalan tersebut kepada pihak sekolah. Namun, menurut dia, perlakuan yang dialami anaknya masih berlanjut meskipun laporan telah disampaikan.

“Perundungan ini bukan hanya sekali, tetapi sudah berkali-kali. Saya sudah melaporkannya ke pihak sekolah, tetapi anak saya masih mengalami perlakuan seperti itu,” ucapnya lirih.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SampitIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kesan Haru dari Seorang Anggota Paskibraka Kotim setelah Melaksanakan Tugas

Kesan Haru dari Seorang Anggota Paskibraka Kotim setelah Melaksanakan Tugas

Kesan Haru dari Seorang Anggota Paskibraka Kotim setelah Melaksanakan Tugas.Orangtua Tak Hadir, Kelak Bercita-Cita Ingin Jadi Perwira

Sejumlah Sekolah di Kotim Mulai Kembali Gelar Pembelajaran Tatap Muka

Sejumlah Sekolah di Kotim Mulai Kembali Gelar Pembelajaran Tatap Muka

Meski demikian, pelaksanaannya tetap menyesuaikan kondisi di masing-masing wilayah dan mengacu pada Surat Edaran (SE) kepala daerah terkait

Bullying Bukan Kenakalan Remaja, Dampaknya Ancam Masa Depan

Bullying Bukan Kenakalan Remaja, Dampaknya Ancam Masa Depan

Kasus perundungan antarsiswa di lingkungan sekolah di Kotim tidak boleh lagi dipandang sebelah mata sebagai kenakalan remaja biasa

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement

Populer