Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ketika Lembaran Buku Jadi Teman dan Penyala Asa Warga Binaan Lapas Sampit

Yuni Pratiwi Iskandar
LITERASI: Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Sampit manfaatkan perpustakaan keliling untuk membaca dan memilih buku favorit. FOTO: LAPAS SAMPIT/RADAR SAMPIT
LITERASI: Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Sampit manfaatkan perpustakaan keliling untuk membaca dan memilih buku favorit. FOTO: LAPAS SAMPIT/RADAR SAMPIT

Advertisement

 

SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com - Meskipun ruang gerak terbatas, semangat belajar Warga Binaan Lapas Sampit tak pernah surut. Lewat kehadiran perpustakaan keliling, mereka kini bisa membuka jendela dunia dari balik jeruji besi.

 Jeruji besi dan dinding beton yang kokoh kerap melambangkan batasan, kesunyian, dan waktu yang terasa berjalan begitu lambat.

Advertisement

Namun, di sudut halaman Lapas Kelas IIB Sampit siang itu, suasana sunyi perlahan meluruh. Sebuah mobil berpintu terbuka lebar menjadi pusat perhatian bukan kendaraan biasa, melainkan perpustakaan keliling yang membawa ratusan "jendela dunia".

Ketika pintu bagasi yang penuh rak buku dibuka, langkah-langkah kaki berpindah. Para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) berbondong-bondong mendekat. Jemari yang terbiasa bersentuhan dengan jeruji, kini perlahan menelusuri lembar demi lembar kertas berpembatas.

Advertisement

Ada mata yang berbinar saat menemukan buku petunjuk bercocok tanam, ada yang dengan khusyuk memilih kitab keagamaan, dan tak sedikit pula yang terhanyut menatap untaian kata dalam novel sastra.

Bagi mereka, buku bukan lagi sekadar tumpukan kertas, melainkan teman bicara yang tidak pernah menghakimi masa lalu.

"Berada di balik jeruji bukan berarti kesempatan untuk belajar harus terhenti," ujar Kalapas Kelas IIB Sampit, Muhammad Yani sembari menatap antusiasme para warga binaan yang merubung rak-rak buku.

Bagi Yani, setiap lembar bacaan adalah benih harapan. Waktu yang selama ini terasa menghimpit, kini diisi dengan wawasan baru. Budaya membaca di balik jeruji ini dirancang bukan sekadar untuk membunuh sepi, melainkan sebagai bagian dari proses pembinaan kepribadian sebuah upaya mengikis trauma dan penyesalan untuk digantikan dengan motivasi baru.

"Buku itu bisa menjadi jendela untuk melihat dan memahami banyak hal, meskipun mereka saat ini sedang menjalani masa pidana," tutur Yani penuh tekad. "Harapannya, apa yang mereka dapatkan bisa jadi bekal. Ada nilai positif yang bisa dibawa ketika nanti mereka kembali merangkul masyarakat."

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SampitIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kerinduan Keluarga Diuji di Pintu Lapas, Penggeledahan Ketat Jadi Benteng Keamanan

Kerinduan Keluarga Diuji di Pintu Lapas, Penggeledahan Ketat Jadi Benteng Keamanan

Pengawasan ketat para pengunjung Lapas Sampit

Jejak di Balik Masuknya Senpi ke Lapas Palangka Raya, Mantan Bhayangkari dan 4 Polisi Ikut Terseret

Jejak di Balik Masuknya Senpi ke Lapas Palangka Raya, Mantan Bhayangkari dan 4 Polisi Ikut Terseret

Perkara tersebut kini bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Palangka Raya dengan lima terdakwa, yakni Juwita serta empat polisi Bambang Kristis

Dari Balik Lapas, Warga Binaan Diasah Jadi Kapster

Dari Balik Lapas, Warga Binaan Diasah Jadi Kapster

Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas IIB Sampit mendapat pembinaan kemandirian melalui keterampilan mencukur rambut.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement

Populer