Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Lebaran di Tanah Rantau, Rasa Sepi Kerap Datang saat Idulfitri

Heru Prayitno
Penulis: Heru Prayitno❯

Dewi Patmalasari
Dewi Patmalasari


Advertisement

Bagi banyak perantau, Lebaran bukan sekadar momen merayakan Idulfitri, tetapi juga waktu untuk berkumpul bersama keluarga. Namun, bagi Dewi Patmalasari, Lebaran di Sampit adalah pengalaman yang sarat rindu dan kesepian.

Sejak merantau pada 2017 demi peluang kerja yang lebih baik, Dewi sadar bahwa jarak dengan keluarga adalah konsekuensi yang harus diterima. “Di Jawa sulit sekali mencari lapangan kerja. Hampir setiap kepala keluarga ada satu anggota yang merantau karena minimnya pekerjaan,” ujar Perempuan asal Tulungagung, Jawa Timur, ini.

Lebaran terakhir yang benar-benar ia rayakan di kampung halaman terjadi pada 2021, tepat di hari ketujuh Idulfitri atau yang dikenal sebagai Lebaran Ketupat. Sejak itu, ia memilih tidak mudik, bahkan menargetkan pulang kampung berikutnya baru akan terjadi pada 2027.

Advertisement

Rencana itu tak menghapus rasa sepi yang kerap datang saat hari raya. Di Sampit, ia hanya mengunjungi rumah mbah kung, sementara teman-temannya kebanyakan pulang kampung. Kesunyian itu semakin terasa saat melihat orang lain bersiap kembali ke kampung halaman. 

 “Perasaannya campur aduk. Kadang sedih karena tidak bisa pulang, tapi juga senang melihat orang lain bisa berkumpul dengan keluarga,” kata perempuan berhijab ini.

Momen paling berat justru datang setelah salat Idulfitri, saat Dewi menelepon orang tuanya. “Saling bermaafan lewat video call rasanya berbeda dengan bertemu langsung,” ujarnya sambil menahan haru.

Advertisement

Meski jauh dari keluarga, Dewi berusaha menjaga semangat Lebaran dengan kegiatan yang membuatnya tetap merasa dekat dengan suasana hari raya. Salah satu kebiasaan uniknya adalah berburu lokasi salat Idulfitri yang berbeda setiap tahun, mulai dari Bandara H Asan Sampit, kawasan pelabuhan, hingga Islamic Center.

“Momen itu sering membuat saya bertemu orang-orang baru, kadang juga sesama perantau yang tidak bisa mudik,” ujarnya.

Menjelang Lebaran, para perantau biasanya saling memberi dukungan, berbagi hampers, dan mendoakan agar bisa mudik di tahun berikutnya. Namun menurut Dewi, kebersamaan di rantau tidak selalu mampu mengurangi rasa rindu terhadap kampung halaman. “Rasa rindu tidak berkurang, malah kadang bertambah saat berkumpul dengan teman-teman di rantau,” katanya.

Bagi Dewi, kerinduan itu menjadi pengingat akan tujuan merantau: berjuang demi masa depan yang lebih baik dan membahagiakan orang-orang tercinta. Harapannya sederhana: bisa kembali pulang ke kampung halaman, dan hal pertama yang ingin ia lakukan adalah memeluk ibunya.

Kepada para perantau yang juga tak bisa mudik, Dewi menyampaikan pesan penuh semangat:
“Rindu kampung halaman adalah bukti cinta. Jadikan itu motivasi untuk terus berjuang. Tetes keringat di rantau adalah investasi masa depan untuk membahagiakan keluarga. Jarak bukan penghalang, doa adalah pelukan terhangat yang bisa kita kirimkan saat ini.”

Lebaran di tanah rantau memang tidak selalu mudah, tetapi bagi Dewi dan banyak perantau lain, rasa rindu adalah pengikat hati dan pengingat akan arti perjuangan yang sesungguhnya. (yit)

 

Advertisement
Editor : Heru Prayitno
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SampitIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kabut Asap Ternyata Masih Hantui Kota Sampit

Kabut Asap Ternyata Masih Hantui Kota Sampit

Kabut asap masih menyelimuti sejumlah kawasan di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Meski tidak setebal sebelumnya

Bupati Minta Camat hingga Kades Perketat Pengawasan Karhutla Meski Hujan Mulai Turun

Bupati Minta Camat hingga Kades Perketat Pengawasan Karhutla Meski Hujan Mulai Turun

Halikinnor meminta seluruh jajaran pemerintah daerah hingga tingkat desa aktif mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran

Ternyata Usulan Pengerukan Alur Sungai Mentaya Kotim Tunggu Keputusan Menteri

Ternyata Usulan Pengerukan Alur Sungai Mentaya Kotim Tunggu Keputusan Menteri

Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, usulan pengerukan masih dalam proses di tingkat pemerintah pusat. Pemkab Kotim belum menerima perkembang

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement

Populer