Radarsampit.jawapos.com – Pernah merasa ada suara di dalam kepala yang terus-menerus menyalahkan diri sendiri? Misalnya, "Aku bodoh", "Aku nggak berguna", atau "Semuanya salahku"? Kalau iya, hati-hati.
Bisa jadi itu bukan sekadar overthinking, tapi gejala dari Complex PTSD (C-PTSD) alias gangguan stres pascatrauma kompleks.
Menurut psikolog klinis dan penulis di Psychology Today, Jennifer Sweeton Psy.D., suara batin yang terus mengkritik ini disebut sebagai inner critic.
Suara ini bukan cuma sekadar negatif, tapi sering kali sangat kejam dan membuat seseorang merasa malu, bersalah, bahkan tidak layak untuk dicintai.
“Orang dengan C-PTSD cenderung hidup dengan rasa malu kronis, seolah-olah ada yang salah dengan dirinya sejak awal,” kata Sweeton.
Beda dengan PTSD Biasa
C-PTSD seringkali muncul dari trauma jangka panjang dan berulang, seperti kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan masa kecil, atau hidup dalam lingkungan yang penuh tekanan.
Ini berbeda dengan PTSD biasa yang biasanya dipicu oleh satu kejadian traumatis yang spesifik.
Efek jangka panjangnya? Sangat terasa. Mulai dari sulit mempercayai orang lain, perasaan rendah diri, hingga terus-menerus memikul rasa bersalah atas hal yang bahkan bukan kesalahan diri sendiri.
Ketika Diri Sendiri Jadi Musuh Terbesar
Salah satu ciri khas C-PTSD adalah kemunculan inner critic yang agresif. Suara ini muncul dalam bentuk pikiran seperti:
“Aku tidak layak sukses.”
“Aku pantas disakiti.”
“Aku hanya beban bagi orang lain.”
Parahnya, suara ini bisa terdengar sangat meyakinkan.
Padahal menurut Sweeton, itu hanyalah pantulan dari luka masa lalu yang belum sembuh. Bukan realitas hari ini.
Bisa Disembuhkan
Kabar baiknya, kondisi ini bisa diatasi. Kuncinya adalah mengenali bahwa inner critic bukan representasi jati diri kita yang sebenarnya, tapi bayang-bayang dari trauma lama.
Sweeton menyarankan beberapa langkah pemulihan seperti:
- Terapi berbasis trauma (misalnya EMDR, terapi somatik)
- Latihan mindfulness untuk menyadari kapan pikiran negatif muncul
- Mengembangkan self-compassion, alias kasih sayang terhadap diri sendiri
“Penting untuk belajar membedakan mana suara trauma, mana suara kebenaran,” tegas Sweeton.
Jadi, kalau kamu merasa terus dikritik oleh suara dari dalam diri sendiri, mungkin saatnya bertanya: Apakah ini benar, atau ini hanya luka lama yang bicara? (*)
Editor : Slamet Harmoko