SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Penggunaan rokok elektronik atau vape secara terus-menerus dapat menimbulkan risiko kesehatan dalam jangka panjang, terutama terhadap organ pernapasan.
Dokter Spesialis Paru RSUD dr Murjani Sampit, dr. Muhamad Taufiqurrahman, Sp.P., mengingatkan masyarakat tidak menganggap vape sebagai produk yang aman.
Peringatan tersebut disampaikan menyusul temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang mengungkap sejumlah dampak kesehatan terkait penggunaan vape, mulai dari gangguan produksi insulin, risiko diabetes, hingga gangguan pada paru-paru dan pankreas.
Taufiqurrahman mengatakan dampak penggunaan vape dapat terjadi dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Pada kondisi akut, penggunaan vape dapat memicu cedera paru yang berpotensi menyebabkan gagal napas.
“Risikonya sangat serius. Dampaknya bisa akut atau cepat, maupun kronis. Dampak akut dapat menyebabkan kematian akibat gagal napas akut karena VAPI atau EVALI,” kata Taufiqurrahman, Selasa (6/10).
Dalam jangka panjang, lanjutnya, paparan vape dapat berdampak terhadap kesehatan paru dan meningkatkan risiko penyakit kronis. Ia menyebut kanker paru dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) sebagai penyakit yang perlu diwaspadai.
Taufiqurrahman juga menegaskan bahwa vape tidak dapat dianggap lebih aman dibandingkan rokok konvensional.
Menurutnya, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) telah menyampaikan bahwa rokok elektrik tetap memiliki risiko serius terhadap kesehatan.
“Tidak. Kami dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia telah menyampaikan dengan tegas bahwa rokok elektrik atau vape sama berbahayanya dengan rokok konvensional,” ujarnya.
Ia menjelaskan, gejala gangguan paru akibat penggunaan vape dapat berbeda pada setiap orang, bergantung pada lama dan tingkat paparan.
Batuk yang sulit sembuh, peningkatan lendir atau dahak, hingga sesak napas yang semakin berat merupakan beberapa gejala yang perlu diperhatikan.
“Gejala awal seperti batuk yang sulit sembuh, peningkatan lendir atau dahak di saluran napas hingga sesak napas yang semakin memberat. Sesak atau mudah lelah saat melakukan aktivitas ringan juga perlu diwaspadai,” jelasnya.
Terkait pemulihan setelah berhenti menggunakan vape, Taufiqurrahman mengatakan tidak semua kerusakan paru dapat kembali seperti kondisi semula. Tingkat pemulihan bergantung pada lama paparan dan kerentanan masing-masing individu.
Sebagian kerusakan dapat bersifat menetap atau irreversible. Paparan dalam waktu panjang juga berpotensi meninggalkan jaringan parut pada paru dan menyebabkan kerusakan semakin progresif.
“Intinya, jika berhenti secepatnya akan lebih baik untuk mencegah progresivitas kerusakan yang lebih parah pada paru-paru,” ucapnya.
Ia menilai edukasi dan pencegahan perlu terus dilakukan, terutama kepada remaja. Dampak penggunaan vape dalam jangka panjang tidak selalu langsung dirasakan, tetapi dapat memengaruhi kualitas kesehatan pada masa mendatang.
“Langkah utama yaitu edukasi terus-menerus dan imbauan untuk menghindari vape atau rokok konvensional. Bagi yang sudah terpapar, berhenti secepatnya,” tutupnya. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko