Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Dari Perahu ke Perut: Kisah Hasan dan Berkah Durian Sepuluh Ribuan di Sampit

Slamet Harmoko • Senin, 29 Juni 2026 | 12:46 WIB
Beberapa warga ketika turut berburu buah durian di dalam Kota Sampit, Jumat (26/6). (Yuni/Radarsampit)
Beberapa warga ketika turut berburu buah durian di dalam Kota Sampit, Jumat (26/6). (Yuni/Radarsampit)

RADARSAMPIT.JAWAPOS.COM - Kalau ada satu hal yang bisa menyatukan umat manusia di Kalimantan Tengah tanpa memandang suku, ras, dan pilihan politik, jawabannya sudah pasti: musim durian.

Saat ini, Kota Sampit sedang mengalami sebuah fenomena yang sangat menyenangkan bagi lidah, tapi agak menguji iman bagi yang sedang diet.

Lapak-lapak durian dadakan bermunculan bak jamur di musim hujan. Mulai dari kawasan Taman Kota Sampit, Jalan Cilik Riwut, sampai Jalan Jenderal Sudirman, semuanya kompak "beraroma" magis. Menggoda iman siapa saja yang kebetulan lewat naik motor.

Salah satu pahlawan di musim durian kali ini bernama Pak Hasan. Beliau ini bukan sekadar pedagang, tapi petualang rasa.

Bayangkan saja, demi memuaskan dahaga para pencinta durian di Sampit, Pak Hasan rela mengangkut sekitar 400 buah durian lokal dari Desa Bapinang, Kecamatan Pulau Hanaut, menggunakan perahu! Iya, perahu.

Ini membuktikan bahwa perjuangan menjemput rezeki itu memang harus menerjang ombak, demi mengantarkan buah berduri yang isinya kelembutan hakiki.

"Durian lokal tidak kalah kualitasnya. Rasanya manis, dagingnya tebal, dan aromanya khas," kata Pak Hasan dengan nada promosi yang sangat meyakinkan.

Dan benar saja, strategi marketing alamiah itu berhasil. 400 buah durian yang dibawa naik perahu itu biasanya ludes hanya dalam beberapa hari.

Soal harga? Nah, ini dia bagian terbaiknya. Hukum ekonomi berjalan sangat ramah di sini. Karena pasokan melimpah, harganya pun ikut tiarap.

Pak Hasan dan kawan-kawan mematok harga bervariasi sesuai kasta dan ukuran si raja buah. Yang ukurannya imut-imut dijual mulai Rp10.000 saja per buah.

Yang sedang Rp25.000, dan kalau Anda tipe orang yang flexing-nya lewat makanan, ada durian ukuran sultan yang harganya Rp60.000 sampai Rp80.000.

Murahnya harga durian musim ini diaminkan oleh seorang pembeli bernama Mbak Nia. Sebagai pemburu durian profesional, Mbak Nia merasa tahun ini adalah tahun kemenangan bagi dompetnya.

"Harganya murah, bahkan ada yang sepuluh ribu per buah, tapi rasanya tetap enak. Tadi beli total seratus lima puluh ribu dapat banyak," ujar Mbak Nia dengan binar mata bahagia yang tidak bisa disembunyikan.

Uang 150 ribu kalau dibelikan durian di kota besar mungkin cuma dapat satu buah ukuran sedang yang rasanya untung-untungan. Di Sampit? Anda bisa bawa pulang satu kardus sampai tangan pegal.

Mbak Nia juga menambahkan sebuah harapan yang sangat mulia, yaitu semoga musim durian tahun ini berlangsung lebih lama.

Sebuah doa yang tentu saja diaminkan oleh para pedagang, pembeli, dan mungkin diam-diam ditolak oleh para dokter spesialis dalam yang mengkhawatirkan lonjakan kadar gula darah warga kota.

Tapi tenang, buat yang parno, konon ahli gizi sudah bersabda bahwa durian itu sebenarnya tidak mengandung kolesterol.

Dia cuma tinggi gula. Jadi, asal tidak dimakan bersama kulit-kulitnya, atau dimakan satu truk sendirian, Anda masih aman.

Akhir kata, buat warga Sampit, selamat menikmati berkah musiman ini. Buat yang di luar daerah, silakan gigit jari sambil meratapi harga durian di supermarket terdekat yang harganya setara dengan cicilan motor bulanan. Tabah ya! (*)

Editor : Slamet Harmoko
#durian sampit #sampit #panen durian #musim durian