Oleh: Phy
Baru saja aku menyelesaikan Chapter 1 halaman 85, pengumuman kedatangan kereta sudah menggema. Segera kumasukkan novel tebal hadiah ulang tahun dari suami tercinta ke dalam tas belanja sebuah minimarket yang berdesakan dengan snack sebagai camilanku selama perjalanan.
Usia empat puluh dengan begitu banyak kesibukan, rasanya mendapat perhatian ekstra adalah bagian dari kado istimewa.
Bagaimana tidak. Ia selalu menjadi orang pertama, tepat jam duabelas malam, yang mengucapkan bertambahnya usia.
Sebenarnya sudah lumrah dan aku bisa menebak kejutan-kejutan itu. Namun selalu saja tetap membuat berbunga-bunga. Anak-anak juga paling sibuk bercie saat tahu papanya ribut memelukku. Aku hanya bisa tertawa dan sungguh bahagia, meskipun sering merasa malu sendiri.
Kereta di jalur 2 diumumkan melalui pengeras suara. Bergegas aku menempatkan diri dengan menyeret koper kecil berisi beberapa pakaian, buku catatan, dan perelengkapan harian.
Laptop kubawa di dalam tas jinjing dan tak lupa barang penting seperti ponsel dan dompet kusimpan di mini sling bag. Lagi-agi, hadiah dari suamiku saat kami merayakan ulang tahun pernikahan.
Stasiun sungguh ramai kali ini. Maklum saja, sedang musim liburan. Penumpang ini tentu saja memanfaatkan libur sekolah selama dua minggu lamanya untuk beranjangsana.
Apalagi kereta sudah menjadi pilihan tranportasi yang paling favorit. Selain nyaman, kereta melintasi jalur yang masih alami.
Sawah, sungai, dan hamparan rumah penduduk khas desa, menambah suasana di dalam kereta menjadi lebih tenang. Tidak ada hiruk pikuk klakson, berebut jalan, menyalip, dan terobos lalu lintas.
Gerbong 2 Nomor 8A. Kembali kucek tiket di ponsel. Suamiku selalu ingin aku menjadi perempuan eksklusif. Dia mengatur perjalananku yeng terbilang mendadak ini.
Setelah aku mendapat email dari panitia bedah buku di salah satu komunitas di Yogyakarta, ia bergegas cek aplikasi kereta. Ia pilihkan tempat paling nyaman, sehingga aku tidak merasa bosan saat menjalani dua belas jam perjalanan.
Ia pilihkan snack dan minuman energi yang cocok dengan lambungku yang sedikit rewel ini. “Tak usah terlalu banyak. Aku bukan anggota studytour,” cegahku saat ia memasukkan banyak makanan ke keranjang belanja.
“Biar nggak njajan di kereta. Tambah boros. Lapar mata,” selorohnya.
Kukembalikan beberapa makanan yang -menurutku- terlalu berlebihan.
“Permen mint?” tanyaku dengan menaikkan alis.
“Biar napas selalu fresh. Ketemu orang banyak. Kamu nanti artisnya. Jadi sorotan. Kalau masuk infotainment, gimana?”
“Huh! Aku bukan artis yang populer karena gosip. Lagipula hanya bedah buku sebuah komunitas, Akma!” dengusku.
Akma. Ya, aku tidak bisa memanggilnya dengan sebutan yang romantis, seperti Mas, Yang, atau Cintaku. Aku tetap memanggilnya Akma. Akma Adrian. Pemimpin yang pemberani. Kecuali di depan anak-anak, aku memanggilnya “Pa”.
Beda denganku, Akma selalu meromantisasi semua keadaan. My Shine. Namaku di poselnya. Sungguh kekanakan sekali.
Terkadang aku malu dan ingin ia menggantinya. Karena aku sadar bahwa aku tak secemerlang itu. Aku perempuan biasa yang masih banyak kekurangan.
Namun Akma dengan tegas dan lantang selalu memamerkanku di depan kenalan atau teman-temannya sebagai perempuan hebat, bisa membawa diri, dan tentu saja dengan prestasi yang sudah banyak kuraih, menjadikanku selalu menjadi tempat bertanya banyak orang. Akma menyukai itu. My Shine sesuai arti namaku, terangnya kala itu.
Sebenarnya aku hanya ibu rumah tangga biasa. Hanya saja Akma selalu percaya bahwa aku bisa melesat sejauh mungkin.
Memang, sebelum menikah aku sudah aktif di dunia jurnalis dan sibuk menulis yang akhirnya membawaku melanglang buana ke banyak tempat.
Akma tidak mau aku mandeg dan ia dengan berbesar hati memberiku kesempatan untuk membuatku tetap menjadi diriku. Ia rela bergantian mengurus anak-anak di rumah saat aku sibuk di luar.
Embusan laju kereta yang berhenti tepat di depanku menerbangkan helaian rambutku. Desakan penumpang di gerbong belakang berebut untuk masuk.
Padahal setiap orang sudah mendapat kursi sesuai nomornya dan itu membuatku tersenyum sendiri. Lagi-lagi Akma menyelamatkanku.
Prami kereta menyambutku menawarkan bantuan untuk mencarikan nomor dan mengangkat koper ke bagasi atas. Tak sulit mencari nomor kursiku, jadi kutolak tawaran baiknya sembari mengucapkan terima kasih atas kebaikannya.
Kuempaskan tubuhku masuk ke kursi yang ternyata, oh Tuhan, mengapa terasa sedikit sempit? Rasanya aku kurang olahraga beberapa minggu terakhir.
Aku sibuk menyiapkan tulisanku yang dikejar target dan belum lagi wara-wiri mengikuti kegiatan sosial literasi. Tentu saja, tumpukan aktivitas menjadi penghambat rutinitas olahragaku.
Sedikit kusesali keputusanku yang terlalu banyak mengambil pekerjaan dan aku berjanji sepulang dari Yogyakarta, aku wajib mengembalikan kebugaran. Tentu saja, akhirnya bekal snack dari Akma akan teronggok saja di tas belanja di bawah kursiku.
Isi gerbongku hanya segelintir orang dan mereka memilih melesakkan badan untuk segera ditutup selimut bergegas tidur. Aku memilih meneruskan novel yang tadi sempat tertunda untuk dibaca.
Laju kereta membuat badanku seolah terombang-ambing. Kututup novel, karena tba-tiba terasa pusing, dan kupilih untuk membuka gorden. Aktivitas pagi masyarakat pedesaan yang memanfaatkan sungai untuk mandi, membajak sawah, dan kulihat anak-anak bermain di pematang.
Mataku terasa berat. Sayang sekali Akma tidak membelikan kopi untukku. Ia tidak ingin asam lambungku kambuh dan mengganggu pekerjaanku.
Padahal kupastikan bahwa obat-obatan sudah kubawa dan ia tegas menolak saat aku merengek untuk memasukkan kopi ke dalam keranjang belanja. Aku berhuh merajuk, tapi ia tak acuh.
Pikiran nakalku mulai memengaruhi. Karena aku masih ingin menikmati perjalanan dan mataku terasa mengantuk, kuputuskan memanggil prami dan memesan kopi.
Perkara bagaimana nanti asam lambungku kambuh dan aku harus merepotkan Akma lagi, itu urusan belakang.
Sekitar tujuh menit aku menunggu sampai aroma kopi menguar menusuk hidungku. Kuseruput kopi panas yang selama ini, sebenarnya, menjadi favoritku.
Oleh karena dokter -yang cerewet dan lebih pro ke Akma- memberi peringatan keras akan kesehatan lambungku, terpaksa aku menghentikan secara mendadak kebiasaanku meminum bergelas-gelas kopi sejak enam bulan lalu.
Akhirnya Akma dengan telaten membuatkan teh herbal dengan batas tertentu dan setia menyediakan dua liter air putih setiap hari.
Kereta sudah sempat berhenti di dua stasiun sejak aku memesan kopi. Sial! Ternyata kopi juga tidak bisa membunuh kantuk. Mataku semakin berat. Mungkin karena semalam aku masih mengerjakan materi yang akan kubawakan di komunitas nanti.
Kakiku tiba-tiba terdesak. Lutut saling bersentuhan seperti tertindih secara paksa. Aku menggeliat dan terkejut mendapati anak kecil berusia sekitar empat tahun, menendang-nendang kakiku.
“Maaf, Bu. Sudah saya tegur tapi dia rewel.”
Tiba-tiba suara lembut menyadarkanku dan seketika aku duduk tegak untuk kembali menguasai diri. Kusampaikan tidak apa-apa sembari merapikan kacamata yang sempat melorot saking lelapnya tidurku.
“Kita pindah ke depan, ya!” sambung suara lembut tadi.
“Eh?” timpalku heran.
“Bukan, Bu. Maksud saya, kami akan pindah ke depan. Biar suami saya yang pindah di sini, di...,” ujarnya tersendat. “Di sini, duduk di sebelah Ibu, boleh?” pintanya tiba-tiba.
“Eh?” Seperti kena hipnosis, aku mengangguk.
“Terima kasih, Bu. Si Kecil memang rewel. Di depan biar sama saya dan kakaknya,” pungkasnya sembari menggendong Si Kecil yang kembali merengek. Oh kasihan. Mungkin ia tak nyaman denganku yang terlihat garang ini dan lebih memilih duduk bersama kakaknya di depan. Sebagai salam perpisahan, kusunggingkan senyum termanis padanya agar tidak meninggalkan trauma.
Kembali kurapikan posisi dudukku, sedikit merapikan rambut dengan jari, dan membuka novel. Masih banyak halaman tersisa yang belum terbaca.
“Permisi!” Sebuah suara membuyarkan konsentrasi membacaku.
Belum sempat menjawab, kembali aku dibuat tertegun.
“Apa kabar? Jadi ke Yogya?” tanya suara itu.
“Dua puluh dua tahun lalu, berat melepasmu ke Yogya. Ajaibnya, kamu memilih untuk tetap tinggal bersamaku. Anehnya, kita ke Yogya bukan untuk bersama, ya?”
Aku tidak berani menjawab dan menyanggah. Aku memilih diam.
Rentetan cerita detail ia buka kembali. Tak ada satu pun yang terlewat. Semua menggema, memutar kembali ingatan yang sebenarnya tidak benar-benar aku lupakan.
Jika aku mau, aku bisa menimpali semua ocehannya. Aku ingat bagaimana kami berboncengan menembus hujan, bagaimana kami harus mengatur sisa uang untuk cukup kenyang selama sehari, bagaimana ia harus menjemputku kuliah pagi, bagaimana dan bagaimana lainnya.
“Siapa namanya?” tanyaku tiba-tiba.
“Dia?”
“Bukan. Mereka,” tunjukku dengan mengangkat dagu.
“Alin dan Anika.”
Bibirku mendadak bisu. Tuhan, lenyapkan saja tubuh ini. Engkau menghukumku yang harus menghabiskan sisa perjalanan dengan keringat dingin.
“Pesanan atas nama Ibu Alin Anika. Nasi goreng telur satu, ya!” Suara prami semakin menelanku ke Bumi.
Senja Ujung Jawa, 16 Juni 2026
Editor : Slamet Harmoko