Kepada Yth Bupati Kotawaringin Timur
Bp H Halikinnor
Assalamu’alakum Wr. Wb. Salam Sejahtera.
Bapak Bupati yang saya hormati. Ada sebuah pepatah mengatakan, masa depan suatu bangsa ditentukan oleh apa yang dibaca anak mudanya hari ini. Berangkat dari kegelisahan dan harapan tersebut, saya ingin menyampaikan aspirasi melalui surat ini. Saya menulis surat ini sebagai bentuk cinta, kepedulian, sekaligus kegelisahan saya terhadap masa depan remaja-remaja di Kotawaringin Timur.
Akhir-akhir ini saya memperhatikan sebuah fenomena yang terjadi di lingkungan sekolah maupun di media sosial. Fenomena ini mungkin terdengar asing bagi sebagian orang dewasa, tetapi sangat mengkhawatirkan bagi kami para remaja. Fenomena tersebut dikenal dengan istilah brain rot atau yang dapat diartikan sebagai “pembusukan otak”.
Saat ini, remaja seperti kami sering disuguhi video-video pendek yang tersebar luas di media sosial. Video tersebut berisi informasi yang dangkal dan kurang bermutu sehingga membuat otak kami menjadi malas berpikir, malas membaca, malas berimajinasi, serta kehilangan kemampuan untuk mencerna sesuatu secara mendalam.
Padahal, otak kami seharusnya digunakan untuk menyelesaikan masalah, berpikir kreatif, dan menciptakan hal-hal yang bermanfaat. Namun, perlahan kemampuan itu mulai terkikis karena terlalu sering mengonsumsi konten singkat yang hanya mementingkan hiburan sesaat. Istilah-istilah yang tidak mendidik, video berdurasi sangat pendek, serta konten yang dibuat hanya demi menarik perhatian menjadi sajian sehari-hari bagi generasi muda saat ini.
Namun, Bapak Bupati yang saya hormati, saya percaya bahwa fenomena ini bukanlah jalan buntu tanpa solusi. Langkah-langkah kecil seperti membatasi waktu penggunaan gawai, membiasakan membaca buku, melatih fokus, berdiskusi secara kritis, hingga memainkan permainan strategi dapat menjadi cara untuk mengurangi dampak dari “pembusukan otak” tersebut.
Jika remaja mulai mengabaikan langkah-langkah kecil ini, kita dapat berada dalam kondisi yang jauh lebih mengkhawatirkan di masa depan. Dengan adanya brain rot ini, muncullah sesuatu yang disebut lazy ambitious, yaitu perasaan ketika seseorang memiliki ambisi dan mimpi yang besar, tetapi malas untuk mewujudkannya. Kita memiliki banyak ide di kepala, tetapi enggan berusaha untuk merealisasikan ide-ide tersebut dan mengejar cita-cita yang diinginkan.
Bukan hanya itu, perasaan lazy ambitious juga terlihat ketika kita disuguhi video-video yang memicu rasa kagum sesaat, misalnya video seseorang yang berkeliling di National University of Singapore (NUS). Video tersebut dapat menimbulkan keinginan dalam diri kita untuk menjadi seperti mereka. Namun, sering kali keinginan itu tidak disertai tindakan nyata untuk berusaha mencapainya. Hal tersebut merupakan salah satu dampak dari brainrot.
Oleh karena itu, saya berharap pemerintah dapat mendukung inspirasi dan kreativitas generasi muda melalui aksi nyata, seperti menyediakan perpustakaan yang lebih menarik untuk dikunjungi, memberikan penyuluhan literasi digital secara rutin melalui dinas pendidikan, serta menyediakan ruang kreatif bagi remaja. Dengan demikian, generasi muda akan terhindar dari fenomena brainrot yang dapat merusak masa depan, sekaligus mampu mengubah energi dan ide menjadi aksi nyata untuk memajukan bangsa Indonesia.
Besar harapan saya agar Bapak Bupati dapat menciptakan ekosistem pendidikan dan literasi di Kotawaringin Timur yang mendorong kami untuk kembali berpikir kritis dan gemar membaca buku. Dengan begitu, generasi muda akan terus berkembang menjadi pribadi yang lebih inovatif, kreatif, dan kritis. Oleh karena itu, izinkanlah calon-calon pemimpin masa depan tumbuh di lingkungan yang memfasilitasi aksi nyata, bukan hanya khayalan di balik layar ponsel.
Demikian surat ini saya sampaikan. Atas perhatian dan dukungan Bapak Bupati, saya ucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Hormat saya,
Agifa Ekto Nayla Salsabil
(Siswa MTsN 1 Kotawaringin Timur)
Catatan redaksi: Rubrik ini dirancang sebagai ruang aspirasi, gagasan, dan suara hati pelajar untuk pemerintah daerah, khususnya Bupati Kotawaringin Timur. Surat terbuka ini berisi tentang pendidikan, sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, kesehatan, teknologi, fasilitas publik, hingga mimpi para pelajar terhadap masa depan Kotawaringin Timur.
Editor : Heru Prayitno